Gubuk Suci Pencipta Sang Cahaya dari Kudus

KH-arwani-amin

Sumber : seputarkudus.com

Oleh : Afif Mustaqim (B6)*

Tak dipungkiri kota Kudus adalah salah satu kota yang di dalamnya terdapat pondok pesantren yang tak terhingga. Disana pula muncul ulama-ulama terkemuka dalam bidang Al-Qur’an maupun kitab-kitab kuning. Akan tetapi hal yang paling di sorot dan terkenal dalam kota ini adalah ulamanya yang alim dalam bidang Al-Qur’annya. Jika memfokuskan dalam bidang Al-Qur’annya, pasti terbesit dalam hati akan muncul sosok ulama yang bernama KH. Muhammad Arwani Amin.

K.H. Muhammad Arwani Amin lahir pada tanggal 5 September 1905 atau 5 Rajab 1323 H di kampung Madureksan, Kerjasan, kira-kira 100 meter sebelah selatan Masjid Menara. Beliau adalah anak kedua dari pasangan H. Amin Said dan Hj. Wanifah. Dilihat dari silsilah keluarganya, beliau memang terlahir dari keluarga yang taat akan agamanya. Dilihat dari silsilah keluarga ayahnya, kakek beliau KH. Imam Kharamain adalah ulama terkemuka yang dihormati dan disegani di Kudus. Sedangkan jika dilihat dari sislilah ibunya, beliau adalah keturunan dari salah satu tokoh pahlawan Indonesia yang jika disebut mungkin semua rakyat Indonesia mengenalnya yaitu Pangeran Diponegoro ( Rosehan Anwar, 1987 ).

Beliau sejak kecil dan dibesarkan dalam lingkungan santri yang didik untuk taat kepada ajaran agama dan memperhatikan tata krama. Hal inilah asal mula dimulainya peran dari gubuk suci ( pondok Pesantren ) sehingga beliau memiliki kepribadian yang baik dan berdampak di cintai oleh orang-orang yang ada disekitarnya. Karena ruang lingkup beliau berbasis agama, pendidikan beliau pun tak jauh dari unsur yang berbau agama. Dalam menimba ilmu, beliau pergi ke berbagai daerah dimulai dari di daerah beliau sendiri yaitu di Kudus sampai kedaerah yang terdapat ulama-ulama yang hebat, seperti di Popongan Klaten.

Di Kudus sendiri beliau memulai pendidikannya di Madrasah Mu’awanatul Muslimin Kenepan diusia tujuh tahun. Madrasah ini merupakan madrasah pertama di Kudus yang didirikan oleh organisasi Sarekat Islam (SI) pada tahun 1912. Pada masa awal berdirinya, madrasah ini dipimpin oleh K.H. Abdullah Sajad ( kakek istri K.H. Muhammad Arwani Amin ) dan salah satu tenaga pengajarnya adalah K.H. Imam Haramain ( kakek K.H. Muhammad Arwani Amin ).  Di sini beliau diajari berbagai ilmu alat dan ilmu-ilmu agama seperti nahwu, sharaf, bahasa Arab, tajwid, fiqh, akhlak, dan lain-lain.

Selain belajar di madrasah K.H. Muhammad Arwani Amin juga belajar membaca al-Quran bin nadhor dengan K. Syiraj di kampung Kelurahan. Selain belajar kepada K. Syiroj, K.H. Muhammad Arwani Amin juga belajar berbagai kitab-kitab klasik seperti Tafsir Jalalain, Bidayah al-Hidayah, al-Hikam dan Shahih al-Bukhari kepada Raden K.H. Asnawi.

Setelah menempuh pembelajaran di daerahnya sendiri, KH. Muhammad Arwani Amin melanjutkan menimba ilmu di Solo. Di sini beliau menimba ilmu di madrasah Mambaul Ulum dan di pondok pesantren Jamsaren yang di asuh oleh K.H. Idris yang letaknya berdekatan dengan madrasah tersebut. Disini beliau mempelajari berbagai disiplin ilmu seperti nahwu, sharaf, fiqh, ushul fiqh, balaghah, mantiq, ilmu tajwid dan qiraat, ilmu tafsir, hadis, tasawuf dan ilmu falaq. Dikarenakan kepandaian dan kecerdasan KH. Muhammad Arwani Amin, beliau juga ditunjuk oleh KH. Idris untuk mengajar santri-santri lain di pondok tersebut.

Sepulang dari pondok Jamsaren, K.H. Muhammad Arwani Amin melanjutkan perjalanan mencari ilmunya di pondok pesantren Tebu ireng yang saat itu diasuh oleh K.H. Hasyim Asy’ari. K.H. Muhammad Arwani Amin belajar di pondok pesantren Tebu ireng selama empat tahun. Selama di sana K.H. Muhammad Arwani Amin belajar berbagai kitab klasik dan juga mendalami pelajaran yang telah beliau pelajari selama di pondok pesantren Jamsaren. Selain belajar kitab-kitab klasik, K.H. Muhammad Arwani Amin juga mulai mendalami kajian Qirâat Sab’ah melalui kitab Sirâh al-Qori karya Abdul Qosim Ali bin Ustman bin Muhammad. Kitab Sirah al-Qori merupakan kitab syarah dari kitab Hirz al-Amani wa Wajh al-Tahani karya Abu Muhammad Qasim bin Fairah bin Khalaf bin Ahmad al-Ra’ini al-Syathibi, yang dikenal di dunia pesantren dengan kitab al- Syathibi ( Rosehan Anwar, 1987 ). Tak berbeda jauh pada saat KH. Muhammad Arwani Amin mondok di pondok pesantren Jamsaren, beliau juga di beri amanat mengajar santri-santri yang ada di tebu ireng.

Baca juga :  Santri; Penerus Estafet Perjuangan Ulama’

Setelah menimba ilmu di tebu ireng, KH. Muhammad Arwani Amin melanjutkan proses menimba ilmunya lagi yaitu meneruskan ke daerah Yogjakarta, tepatnya di Krapyak yang di asuh oleh KH. Munawwir. Latar belakang K.H. Muhammad Arwani Amin nyantri di pondok pesantren Krapyak semula hanya ingin mengantar adiknya yaitu Ahmad Da’in untuk belajar al-Quran bil-ghoib. Dikarenakan adik beliau masih kecil, beliau pun ikut menyantri kepada KH. Munawwir.

Awalnya, KH. Muhammad Arwani Amin ingin langsung belajar Qiro’ah Sab’ah kepada KH.  Munawwir, akan tetapi tidak diperbolehkan oleh KH. Munawwir dikarenakan guru KH. Munawwir dari Makkah berwasiat kepada beliau untuk mengajarkan Qiro’ah sab’ah hanya kepada orang yang sudah hafal Al-Qur’an 30 juz dengan baik tartil dan benar. Oleh karena ini akhirnya KH. Muhammad Arwani Amin menghatamkan al-Qur’an dengan KH. Munawwir.

Berkat ketekunan dan kecerdasan KH. Muhammad Arwani Amin, beliau hanya membutuhkan waktu dua tahun untuk menghatamkan Al-Qur’an. Setelah hatam Al-Qur’an, beliau meneruskan belajar ilmu qiro’ah sab’ah kepada KH. Munawwir dengan menggunakan kitab Al-Syatibi. Untuk menghatamkan qiro’ah sab’ah beliau membutuhkan kurun waktu sembilan tahun. Ketika belajar di pondok Krapyak K.H. Muhammad Arwani Amin juga mempelajari kitab-kitab klasik Islam dibawah bimbingan K.H. Tohir Wijaya di Wonokromo Yogyakarta.

Sebelum KH. Muhammad Arwani Amin pulang ke Kudus, KH. Munawwir berwasiat kepada beliau untuk mengajarkan kembali semua yang Ia pelajari di Krapyak baik itu mengajar al-Quran bin-nadhor,bil-ghoib, maupun qiro’ah sab’ah. Dan setelah melepas kepergian K.H. Muhammad Arwani Amin, K.H. Munawir berpesan kepada murid-muridnya yang lain jika tidak belajar qiro’ah kepada KH. Munawwir, maka belajarlah kepada KH. Muhammad Arwani Amin di Kudus.

Setelah belajar dari Krapyak Yojgakarta KH. Muhammad Arwani Amin kembali menimba ilmu. Kali ini beliau menimba ilmu tentang hakikat. Ilmu tentang hakikat ini beliau dapatkan pertama kali di Kudus sendiri, tepatnya di Unda’an yang dibawah bimbingan oleh seorang mursyid yang bernama K. Sirojuddin. Namun sayangnya ketika KH. Muhammad Arwani Amin belum sampai yang beliau impikan yaitu mengetahui ketingkat hakikat yang sebenarnya, K. Sirojuddin sudah dipanggil pulang ke rahmatullah. Lantas setelah itu KH. Muhammad Arwani meneruskan menimba ilmu hakikatnya kepada K.H. Muhammad Mansur Popongan Klaten. Di sini beliau menimba ilmu selama sepuluh tahun. Setelah menempuh waktu selama sepuluh tahun akhirnya K.H. Muhammad Arwani Amin mampu menyelesaikan pelajaran thariqatnya kepada K.H. Mansur Serta K.H. Muhammad Arwani Amin mendapatkan gelar mursyîd atau khalîfah menggantikan beliau.

Jejak menimba ilmu KH. Muhammad Arwani Amin yang notabenya selalu dalam unsur pembelajaran pondok pesantren adalah salah satu contoh pentingnya peran pondok pesantren bagi pendidkan dan dakwah. Hal ini terbukti bahwa beliau adalah salah satu ulama termasyhur dan terkemuka di Kudus, beliau menjadi salah satu rujukan sanad untuk menghafal Al-Qur’an dan menjadi mursyid di Kudus. Kini setelah wafatnya beliau, semua itu ditutunkan kepada anaknya KH. Muhammad Ulin Nuha Arwani dan KH. Muhammad Ulil Albab Arwani.

*Juara 2 artikel dalam perlombaan akhirusannah 2019 Ponpes Darul Falah Besongo

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: