Gemblengan untuk Generasi Penerus Bangsa

santrigraph_Bac7YHrBTV5

Sumber : santrigraph_Bac7YHrBTV5

Oleh: meellatilhaq_

“Tak perlu minder ketika menyandang status sebagai “santri”. Tak perlu berkecil hati pula ketika ada orang yang meremehkan pesantren. Tahanlah amarah ketika ada orang yang melabelkan bahwa santri itu manusia yang kurang update (kudet).

Perlu diketahui bahwa jumlah santri di Indonesia secara signifikan terus meningkat, dari ujung barat hingga timur nusantara. Penekanan ilmu di masing-masing pesantren pun tidak jauh berbeda; akidah, ibadah, dan akhlak tentunya harus diajarkan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari para santri di seluruh nusantara. Berbekal dari kitab yang dipelajarinya, serta penuturan dan sikap kiai sehari-harinya.

Meskipun zaman semakin berkembang, teknologi juga berkembang, semakin merajalelanya pergaulan bebas dan maksiat, bahkan ideologi pun lama-lama akan terkikis akibat munculnya berbagai paham baru. Tentu semua kejadian itu tak dapat dihentikan. Namun, hal semacam ini bisa dicegah melalui pendidikan bersifat kepesantrenan. Pendidikan sebagai wadah membentuk sikap yang toleran namun tegas ketika menghadapi perkembangan zaman seperti sekarang.

Pendidikan yang dimaksudkan dirasa kurang jika hanya ditempuh dan diperoleh melalui lembaga pendidikan formal saja. Pesantren dengan pendidikan dan pengajaran yang sedemikian rupa dirasa tepat bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, terutama para orang tua yang ingin putra putrinya belajar di pesantren. Wajar saja, sebuah lembaga pendidikan independen, yang mana generasi-generasi penerus bangsa lahir dari sana dengan akhlak yang mulia dan bisa diandalkan akan mampu menjadi sarana penguatan ideologi dengan penanaman nilai-nilai pancasila dalam aktivitas kesehariannya.

Secara tidak langsung, pesantren telah mendidik para santrinya melalui penanaman nilai-nilai pancasila dengan beberapa kegiatan antara lain sholat 5 waktu berjamaah, berperilaku yang baik dalam hidup bersosial, belajar adab melalui kitab ta’lim wal muta’allim, roan tiap seminggu sekali ataupun konservasi lingkungan pesantren yang mengajarkan kebersamaan sesama santri, musyawarah tentang suatu persoalan sehari-hari, berbagi pengalaman antar santri, penerapan takzir secara adil kepada santri yang melanggar peraturan pesantren yang merupakan bentuk dari keadilan di pesantren.

Baca juga :  Pengasuh Besongo menghadiri pernikahan santrinya

Berbagai kebiasaan di lingkungan pesantren seperti yang telah disebutkan di atas, secara konsisten dilakukan oleh para santri setiap harinya. Hal yang demikian itu, sebagai gemblengan bagi santri untuk menjadi pribadi yang lebih baik akhlaknya, agar kuat menghadapi lingkungan masyarakat dan kehidupan yang sebenarnya ketika sudah tidak lagi di pesantren. Selama proses gemblengan ini, tidak sedikit santri yang kuat dan bertahan menghadapinya karena selalu ada rintangan bagi mereka yang baru saja terjun ke lingkungan pesantren. Rintangan itulah yang akan membentuk akhlak dan pribadi santri.

Di pesantren inilah santri digembleng tentang arti solidaritas, kebersamaan, tenggang rasa, serta ketrampilan hidup (lifeskill). Santri tidak hanya diajari terkait ritual keagamaan, tapi juga santri disiapkan untuk menjadi seorang yang kritis terhadap apa yang terjadi di masa ini. Santri tidak lagi menjadi seorang yang kurang update (kudet) ataupun kurng perhatian (kuper) karena pendidikan lifeskill di pesantren memaksa santri untuk kreatif dalam memanfaatkan barang-barang yang ada.

Sumber

http://www.iain-surakarta.ac.id/?p=14739 diakses tanggal 20 November 2018 pukul 20.40 WIB.

http://www.nu.or.id/post/read/72321/menjadi-santri-di-era-millennial diakses pada 20 November 2018 pukul 20.40 WIB.

 

 

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: