Melek Digital Tanpa Meninggalkan Tabayyun

CEO-thoi-cong-nghe-Vina-Aspire

Sumber : almunawwir.com

Sudah semestinya bagi seorang santrimemaksimalkan dirinya dalam memanfaatkan waktu untuk belajar, belajar dan belajar. Agar pada saatnya nanti ketika pulang, mereka sudah benar-benar berani dalam mengarungi bahtera kehidupan yang luas tak bertepi ini.


Mari kita bedah dulu apa dan siapa generasi milenial? Generasi milenial sebagai pengganti istilah “generasi Y”lazim disebut milenial. Istilah milenial generation peletak batu pertamanya adalah dua pakar sejarah dan penulis dari Amerika, William Strauss (1947 – 2007) dan Neil Howe(1951). Milenial juga dalam beberapa sumber ialah kelompok demografi setelah generasi X. Tidak ada batasan waktu awal dan akhir dari generasi ini. Peneliti biasanya menggunakan ukuran dari kelahiran awal 1980-an sampai tahun 2000-an sebagai akhir dari kelahiran kaum milenial ini. Artinya, generasi milenial rata-rata berusia 13 – 35 tahun.

Di Indonesia istilah milenial sedang ngetrend. Stempel generasi milenial biasanya disematkan kepada mereka yang terlalu sibuk dengan “alam maya”, sekaligus dianggap sebagai generasi instan. Generasi yang ingin maju tapi tidak mau bersusah payah. Tidak ada yang salah dengan tudingan itu. Internet, smartphone, dan barang semacam gadget tidak bisa dipungkiri dewasa ini telah menjadi kebutuhan dasar. Lumrah mereka gandrung dengan perkembangan teknologi.

Akan tetapi, keberadaan smartphone ini tidak selamanya memberikan efek positif. Jadi, tergantung diri kita masing-masing bisa memanfaatkannya dengan baik atau tidak. Sebagai buktinya, muncul istilah “Yang dekat berasa jauh, dan yang jauh berasa dekat”. Inilah, pergaulan sosial kita terbatasi oleh kepintaran gadget sehingga kita terlihat bodoh di sekitar teman, saudara, bahkan keluarga kita sendiri.Lalu bagaimana kabar santri di tengah arus gelombang ini?

Santri Melek Digital

Kata santri ketika diartikan secara umum berarti setiap orang yang belajar atau ngaji dengan seorang kiai baik itu di pesantren maupun tidak, dengan menggunakan sistem bandonganataupunsorogan. Sedangkan secara terminologi, santriadalah setiap orang yang belajar agama dengan seorang kiai agar apa yang dia pelajari itu sanadnya jelas serta dia bisa mendapatkan barokah dari kiai tersebut. Santri tidak akan pernah berubah sepanjang zaman, santri tetaplah santri. Karena sejatinya seorang santri itu memiliki karakter yang berbeda dan ciri khas tersendiri, yaitu memiliki solidaritas yang tinggi, memiliki kerja sama yang tinggi serta terbiasa dengan olahan kiai dan khas kepondokannya.

Menurut pemaparan H. Adib, S. Ag, M. Siyang merupakan pengasuh pondok pesantren Nurul Ummah Genuk, santri sudah tak aneh dengan zaman milenial, mau zaman apapun tidak ada bedanya. Semua ini bisa terjadi karena santri punya karakter sebagai berikut:

  • Memilikipenjelajahan, intelektualisme yang kritis. Mereka dibekali oleh kiainya dengan ilmu alat (nahwu dan shorof), sehingga ketika membaca situasi apapun mereka tidak ada masalah.Daya analisisnya terhadap kitab klasik atau kitab modern sudah kuat dan mereka pun juga sudah terbiasa dengan diskusi atau bahtsul masa’il,ini menjadikan santri mampu menangkap problematika masa kini.
  • Memiliki jiwa moderat dan toleran, tidak boleh menghukumi dirinya yang paling benar.
  • Memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi.
  • Memiliki jiwa mandiri.Ini sangat penting dan prosesnya pun luar biasa, berlangsung selama 24 jam mulai dari santri bangun sampai mereka tidur lagi. Jiwa mandiri ini yang akhirnya bisa menumbuhkan rasa kebersamaan dan kesederhanaanyang hanya bisa didapatkan dipesantren.

Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Poitik UIN Walisongo ini menambahkan, penanaman jiwa mandiri di pesantren sejatinya akan berpengaruh ketika seorang santri terjun dimasyarakat. Dia bisa hidup dimana saja dan bisa menyesuaikan dirinya ketika menghadapi apapun. Karena pada hakikatnya santri itu linuit dengan zaman apapun, dimanapun tempatnya dan kapanpun waktunya pasti bisa hidup sekalipun itu di wilayah yang minim agama.

Cukup dengan menerapkan nilai tasamuh, tawasuth dan tawazun,seorang santri pastibisa diterima dimanapun apalagi di era milenial seperti sekarang ini. Milenial itu memiliki jaringan yang tidak terbatas dan basisnya adalah media sosial, yang mana media sosial ini sebagai sarana santrimempublikasikan berbagai informasi kehidupan.Jadi, santri ituhanya perlu disentuh dengan teknologi yang cukup mereka akan lebih cepat untuk menjawab tantangan zaman dibandingkan mereka yang hanya dikader sebatas generasi milenial biasa tanpa sentuhan ilmu agama.

Begitu pula yang disampaikan KH.A. Imam Sya’roni, M.SI selaku pengasuh pondok pesantren Al-Fattah Terboyo Semarang beliau berkata,“Santri itu harus pandai memilih mana yang terbaik bagi dirinya. Sebagaimana maqolah arobiyah yang mengatakan: خذ ما صفى ودع ماكدر yang artinya ambillah yang jernih dan tinggalkan yang keruh”.Maqolah tersebut mencermikan seorang santri tak boleh semudah dalam menentukan suatu perkara. Akan tetapi, perlunya memilah mana yang baik dikonsumsi bagi santri dan mana yang perlu ditinggalkannya. Dengan begitu, informasi yang nantinya diperoleh santri benar-benar validdan bisa di pertanggungjawabkan.

Baca juga :  Resume Kitab Al Jurumiyah

Pesantren Peka Terhadap Santri

Al-‘alam al-mutaghoyyir alam itu menerima perubahan, kalau dalam kitab Alfiyyah Ibnu Malik الحرف تعريف أو اللام فقط# فنمط عرفت قل فيه النمط. Santri menerima perkembangan zaman merupakan sesuatu yang alami dan sunah, para kiai pun memahami semua itu adalah hal yang wajar. Ini terbukti dari cara merekaselalu memberikan peluang bagi santrinya untuk berkembang seperti mempelajari teknologi dan hal-hal yang terkait dengan dunia luar.

Pengasuh ponpes Al-Fattah Terboyo menjelaskan, “Melek digital tidak harus dengan mengubah sistem kesalafan pondok yang sudah ada. Cukup dengan menyediakan peralatan yang dibutuhkan oleh santri dan sesekali mengadakan seminar yang berhubungan dengan peningkatan penguasaan teknologi. Semua itu dimaksudkan agar nantinya para santri bisa belajar menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi yang sudah kian pesat ini. Dan ketika seorang santri sudah bisa melek digital, mereka juga harus kritis dan rajin tabayyun (klarifikasi) pada pihak yang ahli dalam hal tersebut supaya tidak terjebak dalam kubangan hitam hoaks”.

Tidak jauh berbeda denganabah Imam Sya’roni selakuKatib Syuriyah PWNU Jateng, H. Adib, S. Ag, M. Si mengatakan bahwa “Semua santri di pondok pesantren tentunya dibekali oleh para kiai dengandua hal yaitu karakter hidup dan life skill. Karakter hidup disini adalah dari segi ilmu seperti ilmu alat (nahwu dan shorof), fiqih, tafsir,hadist, balaghah dan sebagainya.Karena pada hakikatnya santri memang ditata untuk senang dengan keilmuan.Tujuannya, ketika santri terjun dimasyarakat mereka sudah siap dengan referensi apapun untuk menjawab berbagai macam tantangan zaman dan mampu untuk mendidik serta mengarahkan ke jalan yang lebih baik”, ujar Alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Terutama untuk membentengi diri santri di era milenial ini dari berita-berita hoaks yang sering muncul. Kita harus serius ketika menanggapi berita-berita hoaks terutama masalah tafsir, hadist dan masalah ushuliyyah, karena penyebar berita hoaks sama saja dengan ahli kadzab. Untuk mengantisipasinya adalah dengan membuka pemikiran para santri agar melek terhadap masalah tersebut.

Eksistensi Pesantren

Pesantren itu elastis, kemasukan model apapun tetap saja sifat kesalafannya tidak akan pernah hilang. Justru era milenial ini memberi warna tersendiri dan membuat santri menjadi lebih produktif serta lebih up to date. Era milenial dan perkembangan teknologi itu sebagai sarananya dan harus kita ikuti bukan untuk dihindari.Dengan adanya perkembangan teknologi ini pesantren akan lebih dikenal dikalangan masyarakat. Disini, pesantren harus menyiapkan pendakwah media sosial, kiai juga harus aktif menulis dimedia sosial.

Jika tidak disiapkan justru berbahaya, karena sekarang inimasyarakat lebih sering menggunakan media sosial seperti google untuk menjawab problematika kehidupan mereka dari pada bertanya langsung kepada para kiai. “Sekarang kan sudah banyak pesantren yang membekali santrinya kearah perkembangan teknologi. Seperti contohnya pesantren saya, santri  tidak saya larang  membawa laptop sepanjang untuk kebaikan dan mereka bisa membagi waktu”, tutur pengasuh pondok pesantren Nurul Ummah Genuk.

Beliau juga memaparkan, ada beberapa cara agar pesantren tetap bisa eksis di zaman milenial ini tanpa harus menghilangkan ciri khas kepesantrenannya, yaitu santri  diajari untuk rajin menulis dan berdiskusi.  Kemudian mereka juga  dibekali dengan ilmu alat (nahwu dan shorof) karena itu adalah ruhnyapesantren. Dan yang paling penting adalah santri harus memiliki sikap tawadhu, mandiri, solidaritas dan tenggang rasa. Pola-pola pesantren salaf inilah yg diminati banyak orang, walaupun salaf akan tetapi eksistensinya tetap terjaga dalam posisi apapun.

Apapun itu, sebagai seorang santri kita harus punya jiwa mandiri dan siap dengan perkembangan zaman. Karena santri  adalah orang yang siap pakai dan yang selalu ditunggu-tunggu oleh masyarakat. Selalu perbaiki niat,niatkan belajar kita untuk menghilangkan kebodohan dan menghidupkan ilmu. Karena dengan adanya niat yang benar maka akan selalu dimudahkan oleh Allah SWT.Maka sudah semestinya bagi seorang santri memaksimalkan dirinya dalam memanfaatkan waktu untuk belajar, belajar dan belajar. Agar pada saatnya nanti ketika pulang, mereka sudah benar-benar berani dalam mengarungi bahtera kehidupan yang luas tak bertepi ini.

 

Narasumber :

1. KH. A. Imam Sya’roni, M. SI (Pengasuh PP Al Fatah Terboyo Semarang)

2. H. Adib, S. Ag, M. Si (Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Poitik UIN Walisongo)

Reporter :

1. M. Aulia Rizal F

2. Minhatus Saniyah

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: