Nyai Hj. Sholehah, Sosok Kartini Sejati

IMG-20190227-WA0062

Keterangan : Nyai Hj. Sholehah (Kanan) dan Romo KH. Ahmad Basyir (Kiri)

Hj. Sholihah atau yang biasa disapa dengan nyai Sholihah, lahir pada tahun 1942 di desa Hadiwarno, Mejobo, Kudus. Beliau merupakan putri dari H. Abdul Ghani dan Hj. Sudarni. H. Abdul Ghani adalah seorang pemuka kampung yang bermata pencaharian sebagai petani. Sedangkan Hj. Sudarni adalah seorang ibu rumah tangga. H. Abdul Ghani yang biasa dipanggil Mbah Bakran juga tokoh agama  yang cukup disegani masyarakat. Beliau termasuk petani yang memiliki langgar (musholla) dan cukup masyhur dikalangan masyarakat desa Hadiwarno.

Dimasa kecilnya, Sholihah memiliki kesamaan sifat dengan ibunya, Hj. Sudarni, dimana kedua sosoknya merupakan pribadi yang tidak banyak bicara dan legowo. Ketika diberi kesempatan untuk bersekolah umum, beliau tidak banyak mengeluh dan juga berputus asa, namun tetap memiliki semangat untuk belajar. Meski tidak mengenyam pendidikan formal baik sekolah umum ataupun pesantren, mengingat anggapan masyarakat pada saat itu meyakini bahwa perempuan yang baik adalah mereka yang diam di rumah, mengabdikan diri untuk suami dan anak-anaknya. Ilmu dan wawasan keagamaan diperoleh dari Mbah Bakran dengan nderek ngaos ngaji langsung dengan orangtuanya ini. Bahkan, setelah menikah pun beliau masih belajar dan melanjutkan ngajinya dengan sang suami. Selain itu, pengetahuan yang dimilikinya diperoleh secara otodidak, terutama baca tulis huruf latin dan bahasa Indonesia serta berhitung sederhana.

Nyai Sholihah menikah dengan KH. Ahmad Basyir, putra dari Bapak Mubin dan Ibu Dasireh. Dari pernikahan itu beliau dikaruniai 3 putra dan 5 putri yang terdiri dari Dewi Umniyah, Inaroh, Amtiah, Ahmad Badawi, Arikhah, M. Jazuli, M. Asyiq (Alm), Nur Zakiyah Mabruroh, dan yang terakhir M. Alamul Yaqin. Kedelapan putra putri beliau semuanya mengenyam pendidikan unggul baik pesantren maupun perguruan tinggi, dari jenjang Strata 1, lulus Strata 2, dan  juga Doctoral. Keberhasilan putra putri beliau  tidak lepas dari perjuangan  dan juga doa kedua orang tua, KH. Ahmad Basyir dan Nyai Hj. Sholihah.

Teladan Nyai Sholihah

Nyai Sholihah adalah sosok teladan yang patut  dijadikan contoh, terutama bagi kaum perempuan. Bagaimana tidak? Meskipun beliau tidak mengenyam pendidikan formal, beliau memiliki pemikiran yang cerdas. Ketika masa  kecil beliau tidak diberi kesempatan  untuk bersekolah, beliau memiliki keinginan agar putri-putrinya kelak bisa  mengenyam  pendidikan tinggi. Tak hanya putrinya saja, tetapi seluruh wanita berkesempatan mendapatkan pendidikan tinggi. Hal tersebut bukan semata-mata untuk menyaingi kaum laki-laki, melainkan sebagai bekal bagi dirinya sendiri.

Baca juga :  Santri Tahan Banting untuk SDG’s 2030

Dimulai dari ketelatenan beliau, ketika KH Ahmad Basyir mucal (mengajar) ngaji santri, nyai Sholihah membelikan putri-putrinya kitab  agar mereka dapat mengikuti ngaji dari  dalam dan tetap mendukung putri-putrinya agar menempuh pendidikan formal sampai perguruan tinggi. Tidak berhenti disitu, beliau juga yang memiliki gagasan untuk membuka pondok putri. Beliau ingin kaum  perempuan juga memiliki ilmu sebagai bekal hidup. Terlihat dari keinginan beliau yang tidak hanya memikirkan pendidikan untuk putrinya saja, tetapi juga untuk perempuan lain diluar sana yang belum memiliki kesempatan untuk belajar.

Selain tekun dalam menyokong kaum perempuan untuk belajar, beliau  juga terampil menjahit dan berwirausaha. Mungkin jika dilihat, beliau adalah ibu rumah tangga biasa. Namun, siapa sangka pemikiran beliau yang cerdas menjadikan sosoknya terlihat sebagai  perempuan kreatif yang tidak hanya berdiam  diri. Meskipun tidak belajar khusus, beliau  bisa menjahit. Sehingga, beberapa pakaian KH. Ahmad Basyir adalah hasil dari jahitan sang istri. Dan dalam bidang usaha, beliau memiliki ketekukan yang luar biasa. Setiap  rezeki yang ada beliau selalu sisihkan untuk berinvestasi, sehingga beliau memiliki beberapa saham  dalam berbagai macam usaha baik toko, berdagang dan lainnya. Nyai Sholihah bukan perempuan yang suka diam dan menggantungkan diri pada suami.  Sehingga dari usaha-usaha beliau, beliau memiliki tabungan yang bisa dibilang  tidak sedikit. Selain untuk putra-putrinya nanti, beliau juga membantu setiap santri yang sudah mukim dan belum memiliki usaha. Beliau tidak segan membantu mereka memberikan modal untuk memulai usaha. Apa yang beliau miliki tidak hanya untuk memakmurkan diri sendiri, tetapi beliau  sangat perduli terhadap orang lain terlebih santri-santri beliau.

Kiranya semangat yang beliau miliki menjadi teladan yang patut untuk dicontoh. Sosok perempuan yang memiliki kepribadian baik, tekun, dan cerdas, sangat perlu dimiliki oleh perempuan pada masa sekarang ini. Perempuan adalah Madrasatul ula bagi putra-putrinya nanti, sehingga menjadi sebuah keharusan mereka memiliki akhlak dan semangat yang luar biasa seperti sosok nyai Sholihah.

Jumat, 30 Oktober 2015 bertepatan 17 Muharram 1437, nyai Sholihah berpulang ke rahmatullah dalam usianya ke-73.  Allahummaghfirlaha Warhamha Waafiha Wafuanha.

Narasumber :

1. Dewi Umniyah, BA (Putri Bu Nyai Hj. Sholehah ke – 1 )

2. Dr. Hj. Arikhah, M. Ag ( Putri Bu Nyai Hj. Sholehah ke – 6 )

Reporter :

Lailiyatuz Zuhriyah

 

 

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: