Strategi Singkat Mahir Ngapsahi Kitab Kuning

18812656_743191302554825_3022687649509933056_n

Sumber : https://www.google.com/url?sa=i&rct=j&q=&esrc=s&source=images&cd=&cad=rja&uact=8&ved=2ahUKEwjGvu2rgMPkAhXCqI8KHRXqBAwQjB16BAgBEAM&url=https%3A%2F%2Fdeskgram.net%2Fbilqis2104%3Fnext_id%3D1522151983044301199_1909802780&psig=AOvVaw0bUgBHmuV7Mb7Dq7iP9z0w&ust=1568093128800469

Oleh : Misky Nurinayah

Kitab kuning merupakan identitas yang nyata bagi lembaga pesantren. Oleh sebab itu, santri pastinya takkan terlepas dari identitasnya, yakni mengaji kitab kuning. Dalam pengkajian kitab kuning, para santri diharuskan untuk memberi makna atau dalam istilah populernya ma’nani menggunakan bahasa pegon atau biasa disebut ngapsahi. Nah, ngapsahi kitab di sini terkadang ditemukan beberapa kendala, diantaranya tidak cukup ruang untuk memberi makna yang disebabkan spasi antar baris terlalu sempit, ketinggalan dalam memaknai karena ustadz yang terlalu cepat mendekte, atau bahkan bingung menulis lafadz yang memiliki makna terlalu banyak. Untuk mnegatasi beberapa permasalahan tersebut, ada beberapa strategi yang bisa dilakukan, yaitu:

  1. Gunakan alat tulis yang tidak terlalu tebal ujungnya karena akan memakan banyak tempat. Cari alat tulis yang ujungnya berdiameter 0,28/0,3.
  2. Tidak menulis kembali makna dari lafadz yang sudah ada sebelumnya. Misalnya ada lafadz اخلاق yang diulang berkali-kali, maka cukup diberi makna hanya di awal saja.
  3. Tidak memberi makna pada lafal yang sudah dietahui maknanya.
  4. Menggunakan simbol-simbol untuk menyingkat makna. Adapun keterangannya bisa dilihat pada tabel berikut.

No

Simbol Huruf

Keterangan

Kedudukan

1.

م

Utawi

Mubtada’

2.

خ

Iku

Khobar

3.

ف

Opo

Fa’il Ghoiru ‘Aqil

4.

فا

Sopo

Fa’il ‘Aqil

5.

مف

Ing

Maf’ul Bih

6.

ظ

Ing dalem

Dzorof

7.

ص

Kang

Na’at/Sifat

8.

مط

Kelawan

Mashdar/Maf’ul Mutlaq

9.

ع

Kerono

Maf’ul Li Ajlih/Kedudukan Ta’lil

10.

حا

Hal.e

Hal

11.

ج

Mongko

Jawab

12.

ت

Apane

Tamyiz

5. Jika masih merasa tidak cukup dengan spasi yang ada, bisa menyalin lafadz yang akan dimaknani ke dalam buku tulis dan memberi jarak sesuai yang dikehendaki.

Baca juga :  Pesantren dan Organisasi Radikal Multinasional (Sociological Prespective)

Itulah cara praktis untuk menghilangkan kebingungan dalam ngapsahi kitab. Dengan demikian, tidak akan lagi ditemukan kitab yang kosong makna sehingga memudahkan kita jika ingin mempelajarinya. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: