Gus Muwafiq: Sholawat adalah Continuitas

Gus Muwafiq menyampaikan Mauidloh Hasanah
Gus Muwafiq menyampaikan Mauidloh Hasanah

            Kamis, 28/11. Dalam rangka memperingati hari lahir Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN Walisongo Semarang ke-4 sekaligus Haul Gus Dur, UKM Risalah adakan kegiatan bertajuk Saintek Bersholawat dengan tema Dzikir dan Sholawat Sepanjang Hayat Meraih Rahmat Illahi Dunia Akhirat Menebar Damai dan Cinta NKRI yang Bermartabat di Lapangan kampus 3 UIN Walisongo dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat.

 

            Kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh M. Iqbal, dilanjutkan istighosah serta tahlil dipimpin K.H. Anashom (Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Semarang), kemudian pembacaan Maulid Simtudduror oleh Gus Saifuddin Zuhri, terakhir mauidloh hasanah yang disampaikan oleh K.H. Ahmad Muwafiq.

 

            Dalam mauidloh hasanahnya, kiai yang akrab disapa Gus Muwafiq itu menjelaskan tentang sholawat, pengerjaan sesuatu secara konstan dan continue sebagaimana halnya gravitasi. Hal ini semakna dengan ayat “innallaha wa malaaikatahu yusholluuna ‘alannabi,” terdapat kata yusholluna, bermakna sedang berlangsung dan akan terus berlangsung.

“Ada suatu sistem continuitas yang tidak akan pernah terputus, dan kita ingin berada disitu dengan cara menyambungkan diri dalam frekuensi yang konstan dan continue. Sehingga dengan begitu, akan terjadi siklus rahmatan lil’alamin. Ungkap beliau.

 

            Adanya sholawat menjadikan Nabi Muhammad SAW mampu melakukan pekerjaan diluar rumus manusia normal (tidak masuk akal). “Sehingga jika kalian ingin sesuatu yang tidak masuk akal, maka bacalah sholawat. Karena kehendakmu akan beriringan dengan sholawatnya Allah dan para malaikat-Nya.” Tutur Gus Muwafiq.

 

            Diakhir mauidlohnya, Gus Muwafiq berpesan agar selalu menebarkan kebaikan sesuai hadist yang berbunyi, Man yuridullahu bihi khairon yufaqqihhu fii diin (Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan memahamkannya dalam urusan agama). Lafadz  khairon berbentuk nakiroh yang menunjukkan makna umum dan luas (sempurna). “Kebaikan yang sempurna adalah kebaikan yang tidak berdiri sendiri. Seperti halnya saya, mungkin saya disini paling baik karena mengisi acara. Tapi saya tidak boleh merasa paling baik, karena ada yang baik lainnya, yakni pak rektor yang telah mengizinkan acara ini. Itu baru dua, kalau sama kalian tentu kalian juga baik, karena mau hadir keacara ini, kalau kalian tidak hadir, itu berarti pak yai lagi cek sound,” candanya yang mendapat sambutan gelak tawa dari audiens. (AndreW/Red)

Baca juga :  KKN Mandiri Santri Besongo: Akhiri Pengabdian melalui keterampilan Jahit

 

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: