Seminar Kepenulisan Pascalib 2020: “Membangun Negeri dengan Literasi”

Cepruddin Ketika sedang menyampaikan materi seminar
Cepruddin Ketika sedang menyampaikan materi Seminar Kepenulisan 

Be-Songo.or.id – Pesantren Darul Falah Besongo adakan Seminar Kepenulisan pada Selasa, (21/01/2020) di Mushola Raudhotul Jannah. Acara tersebut merupakan rangkaian dari acara Pascalib (Pasca Liburan), acara yang wajib diikuti seluruh santri. Bertemakan “Santri Membangun Negeri dengan Literasi” dengan narasumber yakni Khoirul Anwar yang merupakan penulis buku “Berislam di Era Milenial” dan Ceprudin yang merupakan Dosen Fakultas Syari’ah dan Hukum (FSH) UIN Walisongo.

Dalam hal kepenulisan perlu menimbulkan adanya gagasan dan mampu menentukan kategori tulisan. Belajar menulis harus dengan sering-sering menulis dan adanya upayakan menulis sampai selesai. Menulis tidak dianjurkan hanya setengah jalan, karena justru tidak menghasilkan apa-apa. “Menulis merupakan keabadian, dimana menulis dimulai dengan kata menulis. Jangan lupa mengenal kata menyelesaikan dalam menulis.” Ujar Khoirul Anwar.

Budaya kepenulisan Barat dengan Timur Tengah mengalami perbedaan, dimana budaya Barat cenderung menulis dengan ide yang mengalami inovasi, sedangkan budaya kepenulisan Timur Tengah cenderung menjelaskan pengertian garis besarnya dan pengulang ide-ide yang sudah ada sebelumnya. “Mulai saat ini sudah seharusnya kita mulai mengembangkan ide-ide yang menginovasi dalam menulis.” Ungkap penulis buku Berislam di Era Milenial.

Ceprudin mengatakan, “Di era disrupsi ini orang yang pandai bernarasi dan story telling justru dianggap orang yang mampu meyakinkan publik. Orang-orang ini sangat mudah memenangkan ruang publik bahkan mampu menghipnotis masyarakat.”
Narasi merupakan paragraf mengenai cerita ataupun kejadian, sedangkan story telling sendiri merupakan cerita pengalaman. Keduanya hampir mirip dan sangat mudah diyakini oleh masyarakat sekarang. Misalnya dalam beberapa tulisan mengenai KKN desa penari, buku Menjerat Gus Dur dan berita-berita yang trending di masyarakat.

Ceprudin juga menambahkan dengan mengutip teori Ilmu Sosiologi, “Tidak ada yang sama dalam pergantian waktu. Tulisan itu harus jadi meski itu buruk.”

Baca juga :  Ziarah: Spiritualitas dan Uri-uri Tradisi Kiyai

Kedua narasumber mengaharapkan agar peserta seminar berupaya untuk mau menulis dan tidak bosan-bosan untuk menulis, dan jika telah menulis diharapkan ditulis sampai selesai, serta percaya diri dengan tulisannya.

Penulis: Ati Auliyaur Rohmah
Editor: Qurrotun ayun wulandari

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: