Stadium General: Meneguhkan Budaya Santri di Era Disrupsi

Muhammad Khudori menyampaikan Stadium General tentang "Meneguhkan Budaya Santri di Era Disrupsi"
Muhammad Khudori menyampaikan Stadium General tentang “Meneguhkan Budaya Santri di Era Disrupsi”

Be-songo.or.id – Pondok pesantren Darul Falah Besongo gelar Stadium General yang merupakan serangkain acara dari Pascalib (Pasca Liburan). Diadakan tanggal 29 Januari 2020 ba’da isya yang bertempat di musholla Radhatul Jannnah dan wajib diikuti oleh seluruh santri Pondok Pesantren Darul Falah Besongo. Studium general merupakan acara puncak dari Pascalib, dengan tema Pascalib tahun 2020 adalah “Meneguhkan Budaya Santri di Era Disrupsi” yang disampaikan oleh Muhammad Khudori M. Th.i, salah satu dosen muda pada fakultas Ushuluddin dan Hummaniora.

Sebelum acara dimulai, pembukaan diiringi oleh grup hadroh El-Falah yang merupakan salah satu life skill yang ada di Pondok Pesantren Darul Falah Besongo, juga diiringi lagu kebangsaan yaitu indonesia raya dan lagu yalal wathon.
Studium general menjadi penutup dari acara PASCALIB 2020 yang harapanya santri harus mengupgrade kembali semangat baru dan menata niat dalam ber-thalabul ilmi untuk siap memulai aktif kembali pada kegiatan–kegiatan yang ada di Pondok Pesantren Darul Falah Besongo.

“Harapannya dengan acara Pascalib ini, bisa membawa ke pondok dengan semangat baru dan menata niat agar kita mendapatkan ilmu yang bermanfaat” sambutan yang di berikan langsung oleh Gayuh Rizki selaku lurah Pondok pesantren Darul Falah Besongo.

Diangkatnya tema Pascalib 2020 tersebut agar kita sebagai subyek yang ada pada era sekarang ini tidak kaget dalam menjalani era disrupsi. Karena pada era disrupsi, alat-alat digital mampu membuat perubahan secara fundamental yang dapat mengubah budaya atau tatanan masyarakat.

Pada era disrupsi ini juga memiliki dampak positif dan negatif. Dampak positifnya yaitu kemudahan dalam mengakses informasi dan akses literatur yang tidak terbatas. Dampak negatifnya menjadikan adanya fikih prasmanan, hoax dan tidak adil atau nyinyir. Untuk mencegahnya kita seharusnya memiliki wawasan yang luas (tafaqquh fiddin), dapat mengolah segala informasi yang didapat, bertabayyun (konfirmasi), dan pilih berbicara yang kuat atau pilih diam.
“Seorang santri harus memiliki sifat adil sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan. dikutip dari Pramudya Anatha Thoer” penutup yang disampaikan oleh beliau dosen muda dari Fakultas Ushuludin tersebut.

Penulis : Nia Salsabila

Editor: Alfi Ulfiani Zuhairoh

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *