Ponpes Darul Falah Besongo nonton bareng “Jejak Langkah Dua Ulama”

Suasana nonton bareng "Jejak Langkah Dua Ulama" bersama santri Darul Falah Besongo Semarang
Suasana nonton bareng “Jejak Langkah Dua Ulama” bersama santri Darul Falah Besongo Semarang

Besongo.or.id – Pondok Pesantren Darul Falah Besongo Semarang mengadakan nonton bareng (nobar) film “Jejak Langkah Dua Ulama” yang disutradarai oleh Sigit Ariansyah. Pada hari Ahad, 23 Februari 2020.

Acara nonton bareng ini dibuka jam 9 pagi yang dipandu oleh pembawa acara, Rifkanur Fadhliyyah dan Rifqinur Mahmudah. Dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Mars Syubbanul Wathon yang dipandu oleh Rofida Rahmadani. Kemudian dilanjutkan dengan sambutan Pengasuh Pondok Pesantren Darul Falah Besongo Semarang yaitu Prof. Dr. KH. Imam Taufiq, M.Ag.

“Dua ulama yang sangat besar di Indonesia yang dikagumi banyak rakyat, masing – masing dari beliau mendirikan organisasi besar di Indonesia. Pada saat ini banyak orang yang membeda-bedakan kedua organisasi ini, seakan akan tidak sama ajarannya seperti tahlil dan qunut, yang masih menjadi pro kontra di kalangan dua organisasi ini, ” ucap beliau.

Muhammadiyah dan NU merupakan ormas Islam terbesar di Indonesia, tapi tidak menutup kemungkinan ada perbedaan dalam berpendapat, maka muncullah slogan yang menarik di film ini yaitu “Memahami perbedaan, menjunjung persamaan”. “Perbedaan lahiriyah itu akan menciptakan persamaan dan semangat yang lebih hidup dan harmonis, pada film ini menjelaskan bahwa kultur dua ulama ini berbeda KH. Ahmad Dahlan bermukim di Yogyakarta yang berkultur perkotaan, sedangkan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari bermukim di Jombang yang nuansanya pedesaan.” ucap Pengasuh Pondok Pesantren Darul Falah Besongo yang sekaligus Rektor UIN Walisongo Semarang ini.

Pada kesempatan ini juga hadir Raka Pemeran KH Ahmad dahlan remaja yang juga merupakan mahasiswa UIN Walisongo Semarang jurusan Tasawuf Psikoterapi semester 8. Dia mempunyai latar belakang lingkungannya tidak terlalu menonjol antara NU dan Muhammadiyah, dia menuturkan bahwa di daerahnya tidak begitu aktif kegiatan keagamaan antara NU dan Muhammadiyah. Hal ini menjadikannya netral, tidak memihak salah satu organisasi tersebut. Setelah itu, dia bercerita tentang awal casting untuk memerankan Muhammad Darwis (KH Ahmad Dahlan remaja). Open recruitment untuk peran KH Ahmad Dahlan remaja dilakukan pada bulan Juli. Seleksi pertama melalui foto, dia pun lolos dan kemudian pada hari kamis malam jumat dia datang ke LSBO Muhammadiyah Yogyakarta untuk melakukan reading skenario, “Cara peluang mendapatkan peran adalah banyak melihat di sosial media tentang info casting film baik itu film pendek maupun untuk film layar lebar,” ucap pria yang bernama asli Rama Komara Atmaja.

Baca juga :  Komitmen dan Karakter Pemuda Menurut Surat al-Kahfi Ayat 13-14

Dalam film ini mengisahkan tentang perjuangan-perjuangan kedua ulama dalam menyampaikan ajaran islam. Kedua ulama ini juga menuntut ilmu pada guru yang sama seperti KH Sholeh Darat Semarang, Syekh Kholil Bangkalan dan guru-guru di mekah seperti Syekh Nawawi Al-Bantani, Syaikh Ahmad Khathib Al-Minangkabawi.

Para santri sangat antusias dalam mengikuti acara nonton bareng ini, hal ini ditandai dengan semaraknya acara nonton bareng ini. “Film Jejak Langkah Dua Ulama ini sangat bagus, kita jadi lebih tahu tentang sejarah dari kedua ulama ini yang mana memiliki 2 organisasi yang sama-sama besarnya di Indonesia. Di film ini juga kita dapat mengetahui bahwa hal-hal yang terjadi belakangan ini banyak yang kurang sesuai, karena menganggap 2 organisasi ini tidak selaras, hal itu pun menjadikan kita lebih tahu tentang latar belakang kedua organisasi ini.” ucap Mubdiel Hikam selaku Wakil Lurah Pondok Pesantren Darul Falah Besongo.

Penulis : Maulana Misbahul Fuadi & Fahrizal Taufiq

Editor : Andre Wijaya

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: