Besongo: Studi Banding dan Ziarah di Pondok Pesantren Suryalaya Tasikmalaya

Pemberian cendramata oleh Prof. KH. Imam Taufiq kepada KH. Wahfiudin Sakam
Pemberian cendramata oleh Prof. KH. Imam Taufiq kepada KH. Wahfiudin Sakam

 

Be-songo.or.id – Pondok Pesantren Darul Falah Besongo Semarang, adakan ziarah dan studi banding pada Sabtu, 14 Maret 2020 di Pondok Pesantren Suryalaya, Dusun Godebag RT.01/RW.02, Desa Tanjungkerta, Kecamatan Pagerageung, Tasikmalaya, Jawa Barat.

“Alasan dipilihnya Pondok Pesantren Suryalaya sebagai tujuan studi banding tahun ini, karena agar para santri mendapatkan sanad keilmuan dari pakarnya Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah yaitu Abah Anom (Syekh Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin) gurunya Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan. Dengan memiliki sanad keilmuan kita bisa lebih mudah dan lebih cepat sampainya doa kepada Allah SWT. Dan juga karena keunikan Ponpes Suryalaya sebagai tempat rehabilitasi pecandu narkotika,” ungkap Fatkhul Faqih Madani selaku ketua ziarah dan studi banding 2020.

Rombongan Ponpes Darul Falah Besongo ini tiba di lokasi pada pukul 18.30. Dilanjutkan dengan istirahat sejenak di wisma yang sudah disediakan. Setelah itu persiapan untuk mengikuti materi studi banding, acara dimulai pada pukul 20.45 WIB dengan pemateri KH. Wahfiudin Sakam selaku Pembina dan Wakil Talqin Ponpes Suryalaya. Materi yang dibawakan bertema “Mengenal Diri Menggapai Ilahi”. Materi yang sangat luar biasa, disampaikan dengan bahasa yang lugas dan tidak membosankan. Beliau mengatakan “Nafs (diri, pdibadi) yang hakiki adalah yang berorientasi pada rohaniah. Ketika basyar (tubuh) turun dengan membawa qalbu (jantung), maka ruh turun dengan membawa qalbu juga yg mempunyai arti hati nurani. Keduanya harus memiliki keterkaitan antara satu sama lain. Untuk menciptakan keterkaitan itu maka diperlukan ikhtiar dengan membersihkan qalbu dan menumbuhkan mahabbah kepada Allah. Inilah yang disebut dengan tasawwuf“.

Ahad pagi, 15 Maret 2020 dilanjutkan dengan acara pembaiatan Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah oleh KH. Drs Sandisi sebagai pentalqin dzikir. Sebagai suatu mazhab dalam tasawwuf, Thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah memiliki ajaran yang diyakini kebenarannya, terutama dalam hal-hal kesufian. Beberapa ajaran inti dalam tarekat ini diyakini paling efektif dan efisien untuk menghantarkan pengamalnya kepada tujuan tertinggi yakni Allah SWT. Ajaran sufistik dalam tarekat ini selalu berdasarkan pada Al-Quran, Al-Hadits, dan perkataan para ulama arifin dari kalangan Salafus shalihin.

Baca juga :  Ngaji Problematika Remaja Bagi Generasi Milenial

Kemudian acara dilanjutkan dengan ziarah ke makam Abah Anom sebagai Pendiri Ponpes Suryalaya dan acara yang terakhir yaitu sungkem (saliman) kepada Pengasuh Ponpes Suryalaya KH. Baban Ahmad Jihad bin Syekh Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin.

Pondok Pesantren Suryalaya memberikan berbagai macam pengalaman dan pengetahuan yang berharga, bahkan sebelumnya belum pernah diketahui apalagi didapatkan.
“Senang sekali bisa berkunjung ke Ponpes Suryalaya, ternyata bahasa yang digunakan disana adalah Bahasa Sunda, lucu aja dengernya orang ngomong pake bahasa mereka. Selain itu disana juga mendapatkan berbagai macam pengalaman dan pengetahuan,” ujar Suci Sulistiowati selaku santri Ponpes Darul Falah Besongo yang mengikuti rangkaian acara di Ponpes Suryalaya itu.

 

 

Reporter: Nia Mulyawati
Editor: Andre Wijaya

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: