Keluhan Mahasiswa dan Filosofi Keris

Muhammad Faiq Azmi (Lurah Pondok Pesantren Darul Falah Besongo Semarang periode 2018-2019)
Muhammad Faiq Azmi (Lurah Pondok Pesantren Darul Falah Besongo Semarang periode 2018-2019)

(Oleh: Muhammad Faiq Azmi)*

Be-songo.or.id – Dunia sedang sakit, dari daratan Asia hingga Eropa, seluruh dunia, dan tentu saja Indonesia. Semuanya sedang bersedih, gelisah dan kacau karena adanya Coronavirus Disease 2019 atau biasa disebut COVID-19. semuanya mengalami dampak dari wabah ini. Sekolah terpaksa diliburkan, kampus ditutup, para pekerja diminta bekerja dari rumah dan semuanya dihimbau untuk tetap di rumah. Tagar #dirumahaja digaungkan dimana-mana agar persebaran virus ini dapat berkurang.

Sebagai mahasiswa yang juga santri, apalagi mahasiswa semester akhir, tentu saya juga merasakan dampaknya. Perkuliahan dan seluruh kegiatan akademik dilakukan secara online. Pondok pesantren diliburkan dan santri dianjurkan untuk pulang. Bahkan sampai ada anjuran untuk beribadah di rumah saja. Semua ini, katanya demi menghambat lajunya penyebaran COVID-19. Tentu saja, tidak mudah menjalaninya. Membutuhkan banyak usaha dan penyesuaian.

Saya sendiri, yang sedang kebingungan dengan penelitian saya, akhirnya punya banyak waktu untuk membaca berbagai postingan di media sosial. Saya banyak membaca celotehan kawan-kawan mahasiswa lainnya, mulai dari yang sedih dan berdoa penuh harap agar wabah ini segera berakhir, hingga yang sambat dan misuh-misuh tak beraturan. Mereka semua mengeluh, tak lagi nyaman dengan kuliah online yang tidak berjalan dengan baik. Mereka protes dengan banyaknya tugas yang diberikan sebagai pengganti kuliah tatap muka. Mahasiswa yang aktivis pun mengeluh, pergerakan mereka makin dibatasi, kaderisasi terpaksa tertunda, mereka tak lagi bisa diskusi di warung kopi, tak bisa lagi meneriakkan aspirasi dengan aksi. Ataupun kawan-kawan mahasiswa semester akhir, para pejuang yang harus bimbingan online meskipun kadang dicuekin dosen, harus tetap mengerjakan penelitian seadanya karena perpustakaan tak lagi buka.

Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa mahasiswa yang paling merana, diluar sana, para pekerja juga merasakan dampak yang mungkin jauh lebih berat lagi. Tapi disini saya hanya ingin menyemanganti para mahasiswa. Yang katanya agen perubahancalon penerus dan pemimpin bangsa. Mereka semua harus mampu melewati ini semua. Tempaan dan problem ini harus dilewati. Seperti besi yang harus ditempa sampai akhirnya menjadi keris. Iya, sebilah Keris, senjata kuno yang juga sering dianggap sebagai pusaka yang disakralkan dan dimuliakan. Sebilah keris yang sejati selalu berasal dari besi dan bahan pilihan, ia dipanaskan hingga merah membara, lantas ditempa dengan keras. Dipanaskan lagi ditempa lagi, dillipat, dipanaskan, dilipat lagi hingga menjadi besi yang sangat keras dan kuat serta memiliki pamor yang menawan. Tak berhenti disana, besi itu masih ditempa lagi dan dibentuk agar memjadi keris dengan lekukan indahnya.

Baca juga :  Besongo: Tes Wawancara PSB 2020 Via Online

Teruntuk kawan-kawanku, mahasiswa, pelajar, santri atau siapapun yang sedang mengeluh karena wabah ini. Mari kita pahami wabah ini sebagai tempaan bagi kita, sebagai mana panasnya tungku yang harus membakar sebilah keris. Anggap saja kendala yang kita hadapi saat ini adalah bagian dari proses penempaan diri kita sebelum menjadi keris yang indah. Kita harus dipanaskan dalam tungku, kita harus ditempa berkali-kali dan dilipat berkali-kali agar bisa menjadi keris yang indah dan dimuliakan. Dan ingatlah bahwa hanya besi pilihan yang ditempa menjadi keris. Begitu juga kita semua, kita adalah orang pilihan yang harus bisa menjadi lebih dari diri kita hari ini.

Mungkin saja, saat ini kita diminta untuk diam di rumah karena kita sudah terlalu lama tidak menyapa keluarga, kita tak punya cukup waktu untuk merenungi diri kita sendiri. Mungkin saja kita diminta untuk kuliah online dan belajar via gawai kita agar lebih tahu bagaimana cara memaksimalkan aplikasi dan fasilitas yang ada. Agar kedepannya kita tak lagi kebingungan dengan perkembangan teknologi yang makin gila. Mungkin juga kita harus memanfaatkan waktu kita ini untuk menjadi lebih peduli dengan sekitar, memberi dan berbagi atau apapun, agar kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Agar kita siap menjadi keris yang indah dan mulia.

Tetaplah sehat, tetaplah di rumah seperti instruksi pemerintah dan tetap hati-hati menghadapi wabah ini. namun, tetaplah berproses, jadilah lebih produktif meski harus di rumah, jangan sampai ketika semuanya kembali normal dan wabah ini berakhir, tubuh dan akal kita sudah tidak normal, kerja kita tak lagi maksimal, karena berhari-hari waktu kita habis untuk makan dan rebahan. Rubahlah keluh-kesah yang ada menjadi semangat yang membara. dan Jadilah keris yang indah. Semangat!

 

Nb: Tulisan ini terinspirasi dari video di channel youtube Pandji Pragiwaksono ”Tempaan Bernama Corona”

 

*Mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Walisongo Semarang dan Mahasantri Darul Falah Besongo Semarang.

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: