Kontribusi Perempuan dalam Ruang Publik


Sumber: https://dhiandharti.com/kerentanan-ruang-personal-dan-ruang-publik-perempuan/

Sumber: https://dhiandharti.com/kerentanan-ruang-personal-dan-ruang-publik-perempuan/

 

(Oleh: Sabilatun Niam)*

Be-songo.or.id – Penciptaan perempuan memang tidak dijelaskan secara terperinci oleh Al-Qur’an. Namun, kronologis penciptaannya terdapat dalam suatu hadis yang diriwayatkan dari Musa bin Harun bahwa ketika itu Adam hidup dan berjalan sendirian di surga tanpa adanya pasangan yang mendampinginya. Suatu ketika Adam tidur, ia bermimpi disamping kepalanya duduk seorang perempuan yang Allah ciptakan dari tulang rusuknya. Adam bertanya, ”Siapa Anda?” Perempuan itu menjawab, ”Aku seorang perempuan.” Adam bertanya lagi, ”Untuk apa anda diciptakan?” Ia menjawab, ”Supaya kamu tinggal bersamaku.” Dari penjabaran tersebut menunjukkan bahwa, pada permulaan penciptaan makhluk, Allah pertama kali menciptakan Adam yang berjenis kelamin laki-laki. Kemudian, Allah menciptakan perempuan untuk menemani dan mendampingi Adam yang hingga kini kita mengenalnya dengan sebutan Hawa.

Secara substansional mungkin kita akan mengira bahwa laki-laki memiliki posisi dan kedudukan lebih tinggi dari pada perempuan. Hal itu mungkin disebabkan karena laki-laki diciptakan terlebih dahulu dari pada perempuan. Namun dalam kenyataannya, laki-laki tidak bisa hidup sendirian tanpa adanya perempuan. Oleh karena itu, Allah menciptakan Hawa untuk mendampingi Adam.(1) Jadi, walaupun laki-laki diciptakan terlebih dahulu dari pada perempuan hal ini tidak akan mengurangi derajat perempuan itu, sebab keduanya saling melengkapi dan saling membutuhkan satu sama lain. Banyak sekali orang yang menmbuat narasi keagamaan sehingga menggiring opini publik bahwa derajat perempuan lebih rendah dari pada laki-laki. Mulai dari perempuan itu tidak boleh menjadi pemimpin, ia harus berdiam dan memenuhi kebutuhan keluarga di rumah saja, seakan-akan ia dipasung oleh narasi keagamaan tersebut.

Sehubungan dengan hal itu, mereka menyatakan bahwa perempuan itu agamanya kurang sempurna dibandingkan laki-laki. Oleh karenanya, perempuan harus nurut dan tidak boleh memimpin laki-laki. Pemahaman seperti ini tidaklah sesuai dalam konteks kenegaraan, sebab yang dimaksud dengan kurang sempurnanya agama perempuan adalah mereka tidak bisa menjalankan perintah agama secara utuh. Ketika seorang perempuan dalam keadaan haid atau nifas, tentu mereka tidak diperkenankan menjalankan perintah agama, yakni salat dan puasa. Hal ini berarti ada sebagian kewajiban atau rukun Islam yang memang harus ditinggalkan. Tetapi, justru hal ini merupakan suatu penghormatan agama Islam terhadap perempuan. Perempuan diberi keringanan karena ia sudah menanggung beban yang teramat berat. Salat harus ditinggalkan tanpa harus menggantinya, puasa harus ditinggalkan dan dibayar ketika suci kembali. Substansi yang diberikan Rasulullah adalah memberitahu bahwa perempuan diberi keringanan ketika sudah menanggung beban berat yakni, keluarnya darah kotor setiap minggu dan keluarnya darah setelah melahirkan.(2)

Seiring berjalannya waktu, perempuan semakin menunjukkan kiprahnya baik di bidang pendidikan, ekonomi, sosial, politik, dan dakwah. Terbentuknya suatu organisasi yang menghimpun perempuan untuk mengepakkan sayapnya di ranah publik semakin mengembangkan eksistensi perempuan untuk memberikan kontribusi langsung terhadap masyarakat umum. Seperti terbentuknya Muslimat Nahdlatul Wathan (NW), Muslimat Nahdlatul Ulama’ (NU) dan Aisyiyah (Muhammadiyah) menjadi contoh semakin terbukanya kemungkinan bagi kaum perempuan untuk melakukan aktivitasnya di ruang publik. Pemilihan pengurus dalam organisasi tersebut juga bersifat bebas dan independen tanpa adanya campur tangan dari induk organisasi. Hal ini seperti yang dijelaskan dalam Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) organisasi perempuan, bahwa organisasi perempuan tersebut bersifat otonom, hubungan dengan induk organisasi hanya bersifat koordinatif, bukan garis intruktif.

Hindun, seorang aktivis perempuan Muslimat Nahdlatul Wathan menyatakan, “Berdasarkan AD/ART Muslimat NW sangat otonom dan independen, dengan tugas yang luas, baik menyangkut dakwah, pendidikan, kegiatan sosial, dan hubungan luar negeri.” Hal yang serupa juga diutarakan oleh Jasmin Rifti Ketua Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) sekaligus anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Utusan Daerah (MPR-UD) menuturkan, “Otonomi dan independensi organisasi perempuan semakin dipertegas oleh Undang-Undang No. 8 tentang organisasi perempuan (sebagaimana organisasi pemuda) mempunyai hak yang sama untuk mengembangkan diri.(3)

Dalam ranah perpolitikan, banyak pula politikus yang mengemban amanat untuk menjalankan tugasnya sebagai wakil rakyat. Tak jarang, banyak perempuan yang sukses menjalankan tugasnya sebagai pemimpin sehingga kiprahnya dapat mengubah suatu tatanan sosial masyarakat yang lebih baik dari sebelumnya dan mendapatkan apresiasi dari kancah nasional maupun internasional. Seperti kisah sukses Sri Mulyani Indrawati yang begitu lihai dalam mengolah keungan negara, sehingga ia diganjar sebagai menteri keuangan terbaik di dunia versi Detik Finance pada tahun 2019. Adapula menteri luar negeri Retno Marsudi dengan diplomasinya yang luar biasa dalam sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sehingga Indonesia terpilih sebagai ketua Dewan Keamanan PBB yang tentunya hal ini menjadi posisi strategis bagi Indonesia untuk menjadi pelopor perdamain di dunia.

Kisah inspiratif diatas menunjukkan bahwa perempuan juga mampu berjuang untuk menjadikan bangsa Indonesia menjadi lebih baik lagi. Perjuangan perempuan dalam kursi pemerintahan bukan berarti menyalahi kodratnya sebagai perempuan yang selama ini dikenal hanya bisa dipimpin namun tak berhak memimpin. Akan tetapi aktifnya perempuan dalam kursi pemerintahan adalah untuk membantu seluruh elemen bangsa dalam membangun wilayah di suatu bangsa.

Kepemimpinan yang baik adalah hasil kerja yang dicapai melalui amal dan tindakannya dalam memutuskan sesuatu, bukan dari jenis kelamin. Sekaligus perempuan, apabila ia memiliki kecakapan dan keahlian dalam memimpin suatu wilayah maka dia pun berhak untuk memimpin wilayah tersebut. Kisah sukses Khofifah Indar Parawansa yang terpilih sebagai Gubernur Jawa Timur periode 2018-2024 dan Tri Rismaharini sebagai Walikota Surabaya, sudah tidak bisa lagi dipengaruhi oleh narasi keagamaan bahwa Islam melarang perempuan untuk menjadi pemimpin sosial dan politik. Setidaknya, narasi keagamaan mengenai kepemimpinan perempuan di Jawa Timur telah selesai. Hal tersebut menandakan bahwa narasi keagamaan di kalangan masyarakat yang relatif positif dan kuat untuk menerima kepemimpinan perempuan.(4)

Kiprah perempuan dalam kursi pemerintahan oleh sebagian orang masih dipandang sebagai hal yang tabu. Hal ini dikarenakan oleh pandangan orang terhadap perempuan, bahwa perempuan hanyalah berperan sebagai pelengkap bagi laki-laki, yang tugasnya hanya di rumah saja. Akan tetapi, pada masa kini perempuan pun juga memiliki peran untuk memajukan wilayahnya. Apabila sosok perempuan hanya dianggap sebagai backing dari laki-laki saja, maka apabila seorang laki-laki sudah tidak memiliki kemampuan untuk menunaikan kewajibannya dalam memenuhi kebutuhan keluarga, perempuanlah yang menjadi garda terdepan dalam membantu memenuhi kebutuhan keluarga tersebut.

Dalam konteks pemerintahan pun sama, wakil-wakil rakyat yang kelak akan didaulat menjadi pemimpin adalah mereka yang memiliki kecakapan dibidang pemerintahan. Mereka yang memiliki komitmen untuk membangun wilayahnya. Zaman sekarang, walaupun rakyat tidak mengenali calon pemimpinnya, mereka tetap masih bisa menilai kapabilitas dari calon pemimpinnya melalui mesin pencarian atau ketika debat antar kandidat yang diselenggarakan oleh KPU.

Kepemimpinan bukanlah persoalan jenis kelamin. Akan tetapi, kepemimpinan sebenarnya berdasarkan pada kerja sama, kebersamaan, kepercayaan, dan apresiasi. Kepemimpinan yang memberikan kenyamanan bagi laki-laki dan perempuan untuk berekspresi dan berpartisipasi dalam membangun suatu wilayah. Kepemimpinan yang mampu menghadirkan kebaikan-kebaikan dan menghindarkan keburukan-keburukan bagi manusia pada umumnya.



*Juara 2 Lomba Artikel Akhirusanah 2020 (Mahasiswi Pendidikan Bahasa Arab & Mahasantri Darul Falah Besongo Semarang)

Referensi:
[1] Aulia, Ummu. 2010. 7  Keajaiban Wanita. Jakarta: Pustaka Al-Mawardi.
[2] Ismail, Nurjannah. 2003. Perempuan Dalam Pasungan. Yogyakarta: Lkis Yogyakarta.
[3] Kodir, Faqihuddin Abdul. 2019. Qira’ah Mubadalah. Yogyakarta: IRCiSoD.
[4] Subhan, Arief dkk. 2003. Citra Perempuan dalam Islam. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *