Bermodal Pengetahuan untuk Merespon Tantangan Zaman

Sumber: Halaqoh.net
Sumber: Halaqoh.net

(Oleh: Muhammad Aulia Rizal Firmansyah)*

“Saring sebelum Sharing. Kecepatan tangan kita mengeklik tombol share membuat kita khilaf tidak melakukan verifikasi atau bertanya dulu kepada yang lebih paham.” Prof. Dr. H. Nadirsyah Hosen, LL.M., M.A., Ph.D.

Demikianlah, salah satu penggalan kalimat yang saya cuplik dari kata pengantar buku “Saring sebelum Sharing” karya Nadirsyah Hosen. Dalam kalimat tersebut tersirat makna yang tinggi dan memilki daya tarik tersendiri, untuk menafsirkan apa yang hendak dimaksudkan oleh Prof. Dr. H. Nadirsyah Hosen, LL.M., M.A., Ph.D. selaku Rois Syuriah PCI NU Australia dan New Zealand.

Salah satu background ulama’ muda satu ini telah melampirkan sebuah situasi yangtelah terjadi di negeri ini. Tidak jauh dari itu, dalam lingkup yang lumayan sempit, contoh dilingkungan sekitar kita. Masih sering kita temui dengan maraknya media sosial, semua orang dapat mengakses kapan saja dan dimana saja. Tanpa berfikir apakah itu benar-benar sumber yang valid. Disitulah menjadi titik celah seseorang melupakan yang namanya verifikasi data. Mungkin dirasa cukup begitu rumit, karena harus mencari beberapa fakta agar dapatmenguak suatu kebenaran yang sebenarnya.

Problematika yang terjadi diatas tersebut, jika terus menerus dibudidayakan oleh masyarakat, akan menimbulkan efek negatif. Apalagi jika tradisi semcam itu turun temurun kepada generasi-generasi muda yang hanya mengambil enaknya saja. Semakin maraknyamedia sosial bukaannya membawa kearah positif malah menimbulkan efek negatif. Sepertiyang kita rasakan saat ini, di saat negara Indonesia yang memiliki jumlah penduduk 271 juta jiwa (Kompas.com) sedang dilanda wabah virus korona atau Covid – 19. Tanpa di sadaribanyak beredar beberapa berita dan sumber bacaan yang nyeleneh. Parahnya apabila tidak dicari sumber kebenaran bacaan tersebut hanya akan menjadikan was-was di kalangan masyarakat.

Menyorot media sosial akhir-akhir ini, yang seharusnya sebagai wadah edukasi bagimasyarakat dan terlebih dalam dunia pesantren justru malah sebaliknya. Media sosial dijadikan ajang untuk menjadi seorang pakar dalam bidang keilmuan melalu komentar yangtak bersumber secara profesional dan proporsional. Hanya mementingkan ketenaran agardipandang sebagai orang yang lebih paham akan hal tersebut. Apalagi ditambah adanya berbondong – bondong orang mendadak menjadi praktisi kesehatan hanya berkedok untuksensasi dan ketenaran. Bahkan semua itu, tak memandang ada sisi yang menyesatkan. Akhirnya, bukan hanya sebagai ladang edukasi malah membikin orang – orang menjadi kebingungan dan panik.

Sebagai figur seorang santri, yang tak hanya bergelut di bawah naungan pesantren adanya hal tersebut cukup sangatlah memprihatinkan. Karena secara perlahan tidak sadar bahwa elemen masyarakat telah didoktrin dengan berbagai informasi yang belum jelas sumbernya. Bahkan, bisa jadi memang benar tidak ada kejelasan didalamnya. Apalagi dimedia sosial yang selalu mengaitkan dan menjadikan bencana sebagai komoditi perselisihan. Akibatnya bencana atau virus tersebut dikaitkan oleh warganet dengan cara beradu dalil agama dan politik sehingga melupakan inti dari permasalahan.

Situasi yang tergambar dalam kehidupan masyarakat yang cukup kompleks itulahperan santri sangat dibutuhkan. Selain hanyak bergelut ilmu didunia pesantren, santri juga harus membagi ilmunya di dalam masyarakat.Apalagi, sekarang zamannya sudah semakin canggih dan dipermudah. Banyak akses yang bisa dijangkau, selain harus bertatap muka. Karena, harus mengikuti kebijakan pemerintah yang berhubungan dengan social distancing. Lantas, apa yang dapat dilakukan santri agar mampu menjadi penyalur informasi postif ditengah pendemi Covid – 19?.

Peluang (Juru bicara) Jubir Santuy, tetap Santun

Gencarnya penyebaran virus korona, pemerintah Indonesia menerapkan kebijakan pembatasan massa karena penyebaran virus ini sangatlah cepat. Sebagai warga Negara Indonesia perlunya ketaatan terhadap kebijakan–kebijakan yang telah diatur oleh pemerintah. Memilih sikap ikhtiar saat ini lebih dipentingkan dari pada berdebat dan saling menyalahkan, terlebih hanya beradu argumentasi yang tak berarti dan melelahkan diri.

Kondisi saat ini, diperlukan sosok santri sebagai penyatu elemen antara masyarakatdengan pemerintah. Karena tidak bisa dipungkir dimanapun dan kapanpun sosok santri sangat begitu diharapkan. Selain, pintar dalam persoalan agama ia harus juga pandai bersosial kemasyarakatan. Agar apa yang sudah ia peroleh di pesantren dapat ditularkan di masyarakat. Melihat adanya pembatasan sosial karena kasus korona, seorang santri juga harusmampu memanfaatkan fasilitas yang ada saat ini. Seperti halnya internet, mereka dapat menjadi juru bicara (jubir) ilmu-ilmu pesantren. Pembuatan website dan blog, merupakan salah satu alat yang dapat dijadikan untuk menyebarkan khasanah pesantren ke masyarakat.

Apalagi dengan konten yang santuy menjadi salah satu media dakwah yang dapat digemari oleh masyarakat.Karena kebanyakan masyarakat sekarang sudah terlalu sepaneng (serius) jika membahas tentang pemerintahan. Dengan munculnya konten yang “santuy” harapannya menjadi ladang canda tapi masih dalam koridor santun kepesantrenan. Akan tetapi, ketika santri sudah muncul dalam ranah media sosial jangan sampai kehilangan ciri khasnya. Boleh mengikuti zaman, tetapi metodologi berfikir dan istinbat hukum masih harus selalu digayengkan, untuk merespon dengan bijak perubahan di sekitarnya.

Baca juga :  Pengasuh Sebagai Pengemban Amanah Orang Tua

Bijak dalam Media Sosial

Sebagai kaum sarung (sebutan seorang santri), tidak boleh dikalahkan atau mengalah berkaitan dengan teknologi. Namun, juga tidak boleh lantah atau kecanduan dalam penggunaanya. Dalam beberapa kasus, sering beredarnya berita atau bacaan hoaks ditengah wabah Virus Corona. Setidaknya disini peran santri untuk mampu menjadi garada terdepan mengingatkan kepada masyarakat luas. Bahwa semua berita atau bacaan yang kurang adanya sumber kejelasaanya tidak bisa dibenarkan sepenuhnya.

Dalam hal pesantren hal semacam itu sering disebut dengan istilah tabayun. Sering kita sadari masyarakat luas tak perduli dengan hal itu. Sehingga menimbulkan efek informasi yang tidak jelas menyebar dengan cepat. Imbasnya, relasi antara keluarga, para sahabat, tetangga, dan kolega menjadi renggang dan bisa berujung kerusakan. Bahkan jika ditarik lebih luas, berawal dari melupakan proses tabayun suasana negara pun menjadi tegang dan serba menimbukan kecemasan.

Cukup dengan menerapkan nilai tasamuh, tawasut dan tawazun, seorang santri pasti bisa diterima dimanapun apalagi jika dihadapkan dengan media sosial seperti sekarang ini. Santri pada saat ini bisa dikatakan sebagai santri milenial, dengan kata lain memiliki jaringan yang tidak terbatas dan basisnya adalah media sosial. Dimana media sosial ini sebagai sarana santri mempublikasikan berbagai informasi kehidupan. Jadi, santri itu hanya perlu disentuh dengan teknologi yang cukup mereka akan lebih cepat untuk menjawab tantangan zaman dibandingkan mereka yang hanya dikader sebatas generasi milenial biasa tanpa sentuhan ilmu agama.

Pribadi seorang santri itu harus bijak dalam memilih mana yang terbaik bagi dirinya dan bisa bermanfaat bagi orang lain. Sebagaimana maqolah arobiyah yang mengatakan:  خذ ما صفى و دع ما كدر yang artinya “Ambillah yang jernih dan tinggalkan yang keruh”. Dalam maqolah tersebut mencermikan seorang santri tak boleh semudah dalam menentukan suatu perkara. Akan tetapi, perlunya memilah dan memilih mana yang baik dikonsumsi bagi santri sehingga dapat juga disalurkan untuk masyarakat luas, dan mana yang perlu ditinggalkan. Dengan begitu, informasi yang nantinya diperoleh akan benar-benar valid dan bisa dipertanggung jawabkan.

“Ojo Gumunan, Ojo Gampang Kepincut”

Salah satu petuah bagi santri yang selama ini mulai luntur di kalangan santri itu sendiri. Pesan mulia yang pernah disampaikan oleh Romo K.H. Turaichan Adjhuri, yaitu “ojo gumunan lan ojo gampang kepincut (jangan mudah terpesona, kagetan, dan ikut-ikutan)”. Secara tidak langsung pesan itu mempunyai bobot nilai luhur, serta modal yang kuat bagipara santri agar dapat merespon perkembangan zaman dan tak mudah tergerus dan terlenaoleh zaman. Ojo gumunan merupakan prinsip yang mengisyaratkn santri harus memiliki cara baca yang mendalam dan kuat terhadap beragam realitas yang dihadapinya. Sehingga dengan modal pengetahuan yang mendalam dan kuat itulah, santri akan siap dan tak mudah terpengaruh.

Apalagi dalam situasi saat ini, selain santri harus kokoh dalam pendirian juga perlu menyebarkan suatu yang positif ke masyarakat luas. Prinsip inilah yang dimaksud dengan ojo gamang kepincut. Karena sosok santri merupak aktor yang ditunggu-tunggu kedatangnyadisaat seperti ini. Untuk menciptakan kedamaian dan ketentraman antar umat beragama. Merupakan tanggung jawab yang cukup berat, sebagai seorang santri membawa Islam sebagai agama yang ramah terhadap semesta (rahmatan lil ‘Alamin) dan baik dalam segala situasi dan kondisi (shalihun likuli zamanin wa makanin).

Bukan malah menjadi orang yangbikut-ikutan memberikan stigma yang buruk terhadap masyarakat. Hal yang perlu dihilangkandalam diri santri adalah santri sebagai “katak dalam tempurung”. Buktikan bahwa santrimampu merespon dan sigap terhadap masalah-masalah yang ada. Selalu memberikan nuansa kedamaian, menebarkan informasi positif dan mendoktrin masyarakat agar peduli terhadap lingkung. Apalagi ditengah pemerintah Indonesia berusaha menyelesaikan kasus wabah Virus Corona ini. Santri perlu turut andil menyosialisasikan suatu yang positif kepada masyarakat.

*Juara 1 Lomba Artikel Akhirusanah 2020 (Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris UIN Walisongo Semarang & Mahasantri Darul Falah Besongo Semarang).

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: