Teladan Kehidupan Santri sebagai Wujud Pencegahan COVID-19

Sumber: Be-songo.or.id

(Oleh: Ati Auliyaur Rohmah)*

Beberapa waktu ini masyarakat dihadapkan dengan adanya krisis global. Krisis global tidak hanya berdampak pada bidang ekonomi, namun juga terhadap penurunan jumlah sumber daya manusia itu sendiri. Krisis global tersebut disebabkan adanya pandemi Corona Virus atau disebut COVID-19.

COVID-19 merupakan pandemi yang terjadi di beberapa negara seperti China, Italia, Malaysia, Indonesia dan banyak negara di dunia. Virus ini membuat kepanikan di masyarakat. Bagaimana tidak, virus ini sangat mudah ditularkan melalui kontak langsung pasien terkena virus, benda-benda mati, dan hewan peliharaan. Virus ini menyerang tak kenal kalangan, jenis kelamin, maupun usia.

Pemerintah berupaya mengurangi penyebaran COVID-19 dengan anjuran social distancing atau physical distancing. Physical distancing diharapkan mampu mengurangi kontak sosial dengan orang lain. Selain itu, pencegahan COVID-19 dilakukan dengan cara menjaga pola makan dan kesehatan serta meningkatkan imun.

Physical Distancing

Islam memiliki pandangan sendiri terkait pencegahan COVID-19 khususnya kehidupan para santri yang identik kental akan kajian Islam.Pemerintah menganjurkan masyarakat untuk karantina di rumah, upaya ini bertujuan mengurangi kontak sosial sehingga penyebaran COVID-19 bisa dikurangi. Upaya ini sudah dipertegas dalam Surah Al Ahzab ayat 33,“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”

Physical distancing dan anjuran karantina di rumah mengingatkan kembali pada ‘Uzlah Rasulullah Saw. menjelang penerimaan wahyu di Gua Hira’. Rasulullah Saw tidak menjumpai wabah COVID-19, namun di balik ‘uzlah tersebut terdapat teladan upaya pencegahan COVID-19.  Rasulullah Saw juga senantiasa berkhalwat atau menyepi sebagai obat untuk memperbaiki diri.

Pada awalnya upaya ini cukup menuai perhatian, pasalnya para santri yang notabene kental akan rasa solidaritas, sulit untuk tidak menjaga kontak langsung satu sama lain, baik terhadap masyarakat sekitar maupun sesama santri. Mudahnya penyebaran COVID-19 di kalangan masyarakat membuat beberapa pesantren mengeluarkan kebijakan lockdown bagi para santri. Ketentuan lockdown ini mengharuskan para santri tidak diperkenankan untuk keluar dari pesantren atau dipulangkan dengan ketentuan karantina di rumah.

Wudhu                           

Islam menganjurkan umatnya untuk selalu menjaga kebersihan badan dari hadats dan najis yang membawa keburukan pada umatnya, salah satunya dengan berwudhu. Menurut Dr. Hj. Arikhah M.Ag di Kolom Artikel Suara Merdeka (2/4/20), dari penjelasan Syekh Muhammad bin Alwi Al Maliki dalam Abwabul Faraj wudhu merupakan ibadah sunnah Rasulullah Saw yang menjadi salah satu metode untuk mengurangi kesusahan, rasa letih sehari-hari dan dapat mencegah keraguan serta rasa was-was buruk yang berasal dari setan. Hal ini diperkuat oleh Imam al Sya’rani yang menjelaskan bahwa melanggengkan wudhu bisa menyebabkan lapangnya hati dan menjaga diri dari keburukan yang meresahkan hati.

Perintah wudhu terdapat upaya-upaya pencegahan, seperti mencuci tangan yang mencegah penularan virus dari sentuhan tangan. Selain itu, berkumur dapat mencegah masuknya virus kedalam mulut. Memasukkan air ke hidung dapat mencegah masuknya virus ke dalam rongga hidung.

Baca juga :  Oleh-oleh dari Tebuireng; Pesan KH. Hasyim Asy’ari untuk Santri

Para santri sering kali mendapat anjuran dari Kyai atau Asatidz-Asatidzah untuk senantiasa dawamul wudhu sebagai wujud menjaga kemuliaannya dan mendapat barokah. Saat ini dawamul wudhu bermanfaat untuk menjaga kebersihan diri dari virus, penyakit dan elemen-elemen kimia yang berbahaya bagi tubuh.

Menjaga Imun dan Tidak Isyrof

Pemerintah dan pakar kesehatan menganjurkan menjaga imun karena virus tersebut mampu dimatikan oleh kekebalan tubuh yang stabil. Jika imun kuat, virus tidak akan mampu merusak jaringan yang ada di dalam tubuh. Menjaga imun melalui mengatur pola makan yang baik, konsumsi buah dan sayur serta suplemen penambah imun.

Islam mengatur pola makan dengan mengkonsumsi makanan yang halal dan baik serta tidak berlebihan (isyrof). Makan saat lapar dan berhenti makan sebelum kenyang. Ketika lockdown terjadi masyarakat menimbun bahan makanan secara berlebihan, sehingga kaum ekonomi kelas bawah tidak mendapat stok pangan yang cukup. Akibatnya, kaum ekonomi kelas bawah mengalami kelaparan.

Menanggapi kasus tersebut, terdapat teladan dari kehidupan para santri yang identik dengan kesederhanaan dan saling berbagi. Pandemi COVID-19 tidak menjadikan sisi kemanusiaan memudar, namun justru mempererat tali silaturrahmi antar masyarakat dengan saling memahami kondisi satu sama lain dan meningkatkan kesadaran untuk berbagi kepada yang membutuhkan. Waspada boleh, tapi tidak membuat kadar peduli tersebut memudar.

Meningkatkan Iman dan Taqwa

Tak bisa dipungkiri semua wabah yang terjadi di dunia itu kuasa Allah SWT, meskipun manusia telah berusaha menjaga kesehatan, tapi semua kuasa hanya milik Allah SWT, Sang Pencipta dan Sang Penyembuh. Seharusnya pandemi COVID-19 ini dijadikan mutiara hikmah untuk memperdekat diri kepada Allah dan menjadi sarana syukur atas segala kenikmatan yang ada.

Syaikh Buty dalam Fiqh Sirrah Nabawiyyah, menjelaskan terkait sifat sombong, ‘ujub, hasud, riya’, cinta dunia merupakan bagian dari sikap yang membahayakan manusia, Obat dari bahaya tersebut berupa menyepi dari keramaian, tafakkur dan menyadari kelemahan diri di hadapan Allah SWT. Tanpa pertolongan, anugerah dan hidayahNya, niscaya manusia tak mampu meraih petunjuk dan kenikmatanNya. Teladan tersebut juga sebagai pengingat manusia untuk mempersiapkan bekal di akhirat kelak.

Hikmah lain yang bisa dipetik dari pencegahan pandemi COVID-19 tersebut sebagai upaya meningkatkan mahabbah kepadaNya. Syaikh Buty menjelaskan, kecintaan kepadaNya tidak hanya dengan bekal iman yang berbasis akal semata. Wasilah mahabbah kepadaNya juga dengan memperbanyak muhasabah atas segala kenikmatan dan memetik pelajaran melalui ayat-ayat qauliyah dan kauniyah-Nya.

Kehidupan para santri dalam pesantren berkaitan dengan pendalaman agama dan amalan sunnah. Berkaitan adanya pandemi COVID-19, kehidupan para santri tersebut dapat dijadikan pelajaran tuntuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT, menambah rasa syukur, dan meningkatkan keimanan serta ketakwaan kepada Allah SWT.

*Juara 1 Lomba Akhirusanah 2020 (Mahasiswi UIN Walisongo Semarang & Mahasantri Darul Falah Besongo Semarang).

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: