Besongo: Berpikir dan Berlaku Aswaja

Ust. Syariful Anam, M.Si ketika menyampaikan materi tentang “Berpikir dan Berlaku Aswaja”

Be-songo.or.id – Kegiatan TOS (Ta’aruf Orientasi Santri) 2020 Pondok Pesantren Darul Falah Besongo Semarang tersusun dari beberapa acara, salah satunya yaitu penyampaian materi tentang “Berpikir dan Berlaku Aswaja” yang disampaikan oleh Ustadh Syariful Anam, M.Si., (Senin, 14/09/20). Penyampaian materi ini dimoderatori oleh Alin, Santriwati kelas dua. Kegiatan ini dilaksanakan di Asrama B9 yang diikuti oleh 95 santri baru dan beberapa panitia TOS.

Acara ini dimulai pukul 19:30 WIB dengan pembukaan oleh MC panitia TOS 2020. Setelah pembukaan, dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh narasumber. Untuk kali ini, yang pertama kali disampaikan oleh pemateri adalah perihal niat. Tak heran jika niat menjadi hal yang disebutkan paling awal, karena sebagaimana hadits Nabi yang berarti “Sesungguhnya segala perbuatan bergantung pada niat”. Pemateri yang juga mengajar kitab Hujjah Aswaja karya KH. Ali Maksum di pondok ini sangat menekankan kepada seluruh santri baru agar menata niatnya dengan baik untuk mencari ilmu di Besongo.

“Mumpung masih berada di awal, kalian baru masuk, mari menata niat dengan baik untuk belajar. Mengapa demikian? Karena permulaan yang akan menghasilkan akhir yang baik”, ujar pemateri yang kerap disapa Ustaz Anam tersebut.

Setelah menyampaikan perihal niat, beliau mulai menjelaskan tentang Aswaja (Ahlus Sunnah Wal Jama’ah). Apa itu Aswaja? Aswaja adalah salah satu aliran yang mengamalkan ajaran Nabi Muhammad dan para sahabat. Aswaja merupakan salah satu dari 73 golongan pengikut Nabi. Dalam sebuah hadits memberitahukan bahwa golongan pengikut Nabi akan terpecah menjadi 73 golongan, 72 golongan itu akan tersesat, dan hanya ada 1 yang lurus yaitu mereka dari golongan yang bersama Nabi dan para sahabat.

Baca juga :  Pembekalan Khusus untuk Santri; Training Resolusi Konflik

Adapun perilaku aswaja diantaranya yaitu iman dengan rukun iman, meyakini bahwa orang mukmin dapat melihat Allah SWT di akhirat nanti, tidak mudah mengkafirkan orang lain, percaya akan adanya syafaat Nabi Muhammad SAW.

“Diantara perilaku Aswaja adalah tidak mudah mengkafirkan orang lain. Berbeda dengan golongan Muktazilah yang mudah mengkafirkan orang lain”, terang Ustaz Anam.

Tidak hanya perilaku saja yang harus menunjukkan identitas penganut Aswaja, cara berpikirpun juga harus mencerminkan penganut Aswaja. Baigamana caranya? Bagi orang awam, bermadzhab menjadi hal yang harus dilakukan. Bermadzhab yaitu mengikuti hasil dari pemikiran salah satu empat imam madzhab. Sedangkan jika telah memiliki kemampuan yang mencukupi maka dapat mengambil manhaj atau metode berpikir.

Setelah penyampaian materi, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Adapun salah satu santri yang bertanya tentang,“Bagaimana kita sebagai penganut Aswaja dalam menyikapi radikalisme dalam dunia kampus?”. Beliau menjawab pertanyaan tersebut dengan sangat antusias. Beliau memberikan sarannya yaitu dengan memperkaya literasi. Sebagai santri juga mahasiswa, maka harus pandai dalam menyaring dan mencari informasi, terutama dalam ranah media sosial dan website, dan bisa memilih mana yang layak dan tidak layak untuk dibaca.

“Sebagai santri, kita harus memperkaya literasi dengan membaca kitab induk. Jika ingin belajar aqidah, maka cari kitab induknya. Jangan dari internet! Karena dalam internet semua orang dapat menulis dengan leluasa sehingga tidak diketahui kebenarannya”, tutur beliau yang juga sebagai dosen di Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Walisongo Semarang.

Reporter: Intan Khumairo

Editor: Andre Wijaya

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: