Saatnya Santri Membangun Indonesia

Dinarasikan Oleh: Sulis Fitriana*

Be-songo.or.id – Santri adalah sosok multitalent. Mereka memiliki kemampuan eksklusif yang membuat hidupnya senantiasa dilindungi dan diberkahi Allah SWT. Hal ini disebabkan karena sosok santri berada diantara suasana thalabul ‘ilmi dan tafaqquh fid din serta tinggal dalam komunitas yang biasa disebut pesantren. Lebih dari itu, santri merupakan figur yang diciptakan untuk memberikan makna bagi mayarakat sekitar. Karena sosok santri adalah sebagai kontributor konkret bagi negara dan bangsa, mereka harus berpikir rasional dalam menghubungkan antara pesantren, tafaqquh fid din, keterampilan, akhlaqul karimah, serta masyarakat dan bangsa.

Menciptakan figur seperti deskripsi di atas tidaklah mudah. Paling tidak, ada 2 aspek yang harus dipahami dan ditanamkan dalam diri seorang santri. Pertama, ما فيه النفس (apa yang ada di dalam jiwa). Konteks ini menuntut adanya kualitas unggul dalam diri santri. Santri tidak akan mampu berkontribusi jika pribadi mereka tidak memiliki keunggulan. Untuk menciptakan kualitas tersebut, harus dibekali dengan ilmu. Sudah menjadi tradisi mutlak dalam keseharian seorang santri adalah belajar. Maka, dengan jalan sinau serta ngaji itu lah ilmu akan didapat.

Namun, berilmu saja ternyata belum cukup. Keberkahan menjadi faktor penting bagi  seseorang dalam menuntut ilmu. Berkah bisa didapatkan dengan cara berkhidmah, baik kepada guru, kyai, pesantren, maupun masyarakat. Keberkahan ilmu yang diperoleh dari ta’allum (belajar), hanya bisa dilengkapi dengan cara berkhidmah. Hal ini senada dengan maqolah yang menyatakan  بالتعلم والبركة بالخدمةالعلم . Sehingga, kualitas santri yang dibutuhkan adalah sosok yang unggul secara internal dan memiliki kualifikasi di atas. Karena aspek-aspek itu semua (tafqquh fid din, ilmu, pintar, alim, serta barokah), akan mengkristal dan menginternalisasi sosok yang berakhlaqul karimah.

Aspek kedua, yakni  حول النفسما (apa yang ada di sekitar). Maksud dari kata ‘sekitar’ adalah lingkungan masyarakat dan bangsa. Sekarang ini, masyarakat dan bangsa memiliki banyak tantangan. Meski Indonesia terkenal sebagai negara dengan sebutan gemah ripah loh jinawi, nyatanya masih banyak problem melanda. Diantaranya yaitu kemiskinan, ketidakadilan, terorisme, radikalisme, kekerasan, terlebih masalah demokrasi dan khilafah. Tidak hanya itu, kenakalan remaja seperti narkoba, LGBT, having sex, juga masih mendominasi negeri ini.

Baca juga :  Mengembangkan Kreativitas Santri Milenial

Problematika tersebut hanya bisa dipahami oleh orang yang tahu betul terhadap pokok permasalahannya. Alasan mengapa hingga sekarang Indonesia masih kuat ialah berkat perjuangan para ulama’ dan kyai yang getol dan memiliki jiwa nasionalisme serta kebangsaan yang tinggi. Perlahan tapi pasti, problem tersebut akan mengikis dan menggores, bahkan mengurangi program nasiornalime serta kebangsaan. Momen inilah yang menjadikan jiwa santri harus terpanggil dalam mempertahankan keutuhan NKRI,  Pancasila, UUD 1945 dengan menumbuh kembangkan semangat dan kebangsaan nasionalisme.

Maka, sudah menjadi tugas bagi seorang santri agar kembali meneguhkan komitmen dalam membangun kesungguhan berthalabul ‘ilmi dan mencari berkah melalui jalan khidmah. Menghadapi problem di atas tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang. Setidaknya, etos kepribadian karakternya harus kuat terlebih dahulu agar bisa memberikan konstribusi yang bermanfaat.

Menjaga bangsa ini harus dilakukan oleh orang yang berkualitas. Peran santri dapat diandalkan karena mereka memiliki jiwa yang selalu berkeinginan menjaga dan mempertahankan keutuhan bangsa. Mereka ingin mewujudkan masyarakat Indonesia menjadi negara yang damai, tidak melakukan gejolak, kekerasan, maupun ketidakadilan. Karena itu, perlu sejak dini mengisi internal semaksimal mungkin dan dilakukan secara continu atau istiqomah, tidak sesaat saja. Santri harus mengistiqomahkan tradisi baik agar menjadi sosok unggul sehingga bisa bermanfaat bagi bangsa dan negara.

*(Mahasantri Darul Falah Be-songo Semarang & Mahasiswi Gizi UIN Walisongo Semarang)

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: