Kontribusi Santri dalam Membangun Negeri

Potret Mahasantri Darul Falah Besongo Semarang

Oleh: Qurrotun Ayun Wulandari*

Be-songo.or.id – Istilah pesantren telah dikenal di Indonesia sejak era pra-kemerdekaan. Pesantren memiliki sejarah panjang sebagai produk pendidikan Indigenous. Pesantren adalah pendidikan pertama yang berbasis lembaga di Indonesia. Konsep pendidikannya sangat khas. Selain sebagai tempat belajar agama, pesantren juga mampu berkontribusi dalam perjuangan kemerdekaan negeri ini. Seperti barisan para santri laskar Hizbullah yang merangkul masyarakat untuk melawan penjajahan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Selain itu, banyak tokoh Pahlawan Nasional yang berasal dari kalangan santri yang notabene-nya lulusan pesantren.

Pada awalnya pesantren dibutuhkan sebagai salah satu media untuk mentransformasikan ilmu pengetahuan dan kajian-kajian keislaman di masyarakat. Pendidikan yang sangat tua ini sebagai salah satu inkubator kajian keislaman sebelum ditransformasikan ke masyarakat sekitar. Namun, tidak semua kajian-kajian keislaman itu mampu dipahami, sehingga para santri-lah yang harus berkiprah untuk menerjemahkan kajian-kajian tersebut. Santri harus mampu menyampaikan kajian keagamaan tersebut dengan pendekatan sosial yang lebih soft dan lebih mudah diterima oleh masyarakat. Oleh karena itu, pesantren memiliki kontribusi dalam merealisasikan pembukaan UUD 1945 yaitu “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa Indonesia”.

Akan tetapi, di era 4.0 ini keberadaan pesantren juga harus bersikap inklusif terhadap perkembangan yang ada. Artinya, pesantren harus terbuka terhadap unsur-unsur positif yang ada di sekitar dan lebih peka terhadap perubahan globalisasi, manfaatnya untuk perubahan sosial, politik, ekonomi, dan sistem pendidikan yang lebih baik lagi. Sehingga, pesantren yang cenderung inklusif akan lebih cepat untuk merespon perubahan yang terjadi di lingkungan sekitar.

Daya Tarik Pesantren

Asal mula kemunculan pesantren berawal dari adanya seorang kiai yang menyebarkan nilai-nilai keislaman kepada para penduduk di sekitarnya. Oleh kiai tersebut dibuatlah bilik-bilik seperti surau untuk tempat berteduh dan belajar ilmu agama. Mulai dari situlah banyak masyarakat yang tertarik dengan pesantren, karena dalam penyebarannya menggunakan pendekatan yang lebih soft. Selain itu, pesantren juga dianggap memiliki peran yang strategis dalam aspek kultural, budaya, maupun akademik.

Menurut pemaparan Misbah Khoiruddin Zuhri, MA., salah satu ustaz Pondok Pesantren Darul Falah Be-Songo Semarang, yang redaksi temui pada sela-sela kesibukkannya, ada banyak hal yang menjadikan masyarakat tertarik dengan pesantren, antara lain sebagai berikut:

  1. Pesantren mempunyai madrasah spiritual. Kegiatan belajar mengajar di pesantren tidak hanya dengan mengasah nalar saja, tetapi juga mengasah spiritualitas. Sehingga, orientasi dari pesantren itu dapat membentuk santri yang dari nalarnya terbangun dan juga spiritualnya tetap terjaga. Ini menjadikan antara nalar dengan spiritualitasnya saling berkesinambungan. Hal ini yang sulit ditemukan dalam lembaga pendidikan selain di pesantren.
  2. Relasi antara santri dengan guru (kiai). Ketika di pesantren, baik pengasuh, kiai, ataupun ustaz, gelarnya bukan hanya sebagai guru, tapi juga sebagai Abu Ruh (bapak spiritual) sehingga hubungan santri dengan guru itu tidak terbatas pada hubungan fisik atau kontak fisik saja tapi pada spiritualnya juga.
  3. Sistem keberadaban di pesantren. Santri dikenal akan ta’dim nya. Hal ini juga sulit ditemukan di lembaga pendidikan selain di pesantren. Sudah menjadi tradisi seorang santri jika bertemu seorang guru mereka akan mencium tangannya, demikian itu adalah salah satu bentuk rasa ta’dim santri terhadap kiai-nya. Selain itu, ada nilai keberkahan di dalamnya, itu sebagai salah satu bagian dari penghormatan dan ke- Abu Ruh-an.

Dosen Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Walisongo ini menambahkan, pesantren juga harus mampu masuk ke ruang digital, dengan tujuan agar para santri mampu mengikuti perkembangan zaman dan saling berkesinambungan antara sosial dan kultural. Masyarakat memandang santri itu kuper (kurang pergaulan), justru istilah itu menjadi kebanggaan di satu sisi, mungkin dalam aspek teknologi masih terbatas, namun dalam aspek interaksi sosial santri lebih memiliki kecerdasan sosial yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang lulus dari non-pesantren.

Nilai-nilai luhur  yang diajarkan di pesantren itu sangat bermanfaat bagi konteks yang lebih luas di dunia pendidikan. Santri mampu istiqomah dalam mempertahankan nilai-nilai luhur tersebut seperi kejujuran, tawazun, tasamuh, dan tawasuth. Ketika nilai-nilai tersebut dapat dijadikan sebagai pondasi kehidupan, tentunya akan menghasilkan nilai positif di tengah masyarakat.

Baca juga :  FOMO, Fear of Missing Out

Dalam kesempatan lain, Mohammad Andi Hakim, S. Pd, M. Hum menyampaikan bahwa, salah satu hal menarik dari pesantren yaitu tradisi dan kearifan lokal yang berbeda sesuai dengan daerahnya. Sehingga ini dapat dijadikan sebagai tolak ukur pesantren untuk terus berkacamata pada perkembangan yang ada, dan tradisi ini dapat dibalut dengan modernisasi sehingga menciptakan hal yang baru, namun tidak meleburkan tradisi aslinya. “Salah satu daya tarik pesantren adalah pada budaya yang berkembang di dalamnya. Tradisi dan kearifan lokal diakomodasi sedemikian rupa sehingga mampu berjalan beriringan dengan sinergis. Melalui budaya ini pesantren memiliki andil cukup besar untuk menguak fakta-fakta ilmiah terkait gempuran arus radikalisme-terorisme dan upaya-upaya untuk melawan balik.” Tutur Dosen IAIN Syekh Nurjati Cirebon.

Pesantren sudah mulai terbuka dengan apa yang terjadi  di sosial masyarakat. Hal ini, yang menjadikan pesantren sudah dikatakan mampu ikut andil di bidang teknologi dan politik. Sehingga, ketika santri mulai terjun di masyarakat, mereka mampu mengoptimalkan potensi-potensinya untuk tujuan unlocking human potensial (membuka potensi manusia) agar menjadi manusia yang lebih bermanfaat di masyarakat dan mampu bersaing. Namun, tentu tidak menghilangkan budaya, tradisi, dan kearifan lokal yang sudah mendarah daging di pesantren.

Komponen Negeri di Kendalikan Kader Santri

Eksistensi santri di Indonesia cukup mumpuni, baik dalam bidang akademik, sosial, maupun politik. Contoh konkretnya adalah banyaknya santri lulusan pesantren yang menjadi dosen, bupati, bahkan wakil presiden, yang mana background pendidikan mereka adalah pesantren. Nanti kita akan lihat bagaimana kontribusi mereka mewarnai masing-masing ruang yang telah diamanahi. Tanggung jawab mereka bukan hanya sebatas personal saja, tapi mereka juga harus bisa menjaga jati diri mereka sebagai seorang santri, dan mampu membawa muruah sebagai seorang santri. Karena tidak ada istilah alumni santri, gelar santri itu akan selalu live time.

Menurut Mohammad Andi Hakim, S. Pd, M. Hum, lulusan pesantren harus mampu berkiprah dan perperan dalam beragam bidang keahlian, antara lain; ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari tugas besar lulusan pesantren. Tentu banyak keuntungan yang akan didapatkan jika komponen di negeri ini dikendalikan kader pesantren.

Menguatkan apa yang disampaikan Andi, Misbah Khoiruddin Zuhri, MA., pun mengatakan bahwa “Ketika banyak kader santri yang terjun dalam komponen-komponen negeri, sistem keberadaban yang sudah menjadi budaya di pesantren itu akan menjadi sistem keberadaban nasional, di mana stabilitas akan terjamin. Keberadaban nasional itu akan menjadi bagian dari karakter masyarakat di Indonesia. Sehingga, kader-kader pesantren jika mempunyai amanah untuk menduduki jabatan-jabatan tertentu, mereka akan menerapkan sistem yang dipelajari di pesantren,” ujar Alumni Hamad bin Khalifa University (HBKU) Qatar.

Seorang santri harus bersikap terbuka terhadap perkembangan zaman, dan tentunya tetap konsisten dan bangga sebagai “kaum sarungan” yang ta’dim  dan istiqomah, agar nanti ketika santri berkesempatan mendapatkan amanah untuk menduduki jabatan-jabatan tertentu, mereka mampu menerapkan kebudayaan pesantren yang berbudi luhur. Hal ini akan membentuk masyarakat yang beradab sebagaimana telah di bentuk oleh komunitas pesantren yang beradab. Selain itu, santri harus memberikan manfaat kepada orang banyak, sebagaimana dalam maqolah arobiyah yang mengatakan:  خيرالناس انفعهم للناس yang artinya sebaik-baik manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi sesamanya. Sejatinya kita juga harus tetap bangga menjadi santri (Sin- Nun-Ta-Ra; Satrul Aurah, Naibul Ulama, Tarkul Ma’sy dan Raisul ummah). Huruf Sin (س) dilambangkan sebagai Satrul Aurah yang artinya santri selalu sopan dalam berpakaian, huruf Nun (ن) dilambangkan sebagai Naibul Ulama yang artinya wakil dari para ulama, huruf Ta (ت) dilambangkan sebagai Tarkul Ma’sy yang artinya meninggalkan kemaksiatan, dan huruf Ra (ر) dilambangkan sebagai Raisul Ummah yang artinya pemimpin umat.

*(Mahasantri Darul Falah Besongo & Mahasiswi Ilmu Al Quran dan Tafsir UIN Walisongo Semarang)

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: