Mengembangkan Kreativitas Santri Milenial

hasil karya sablon para santri Darul Falah Besongo Semarang

Oleh: Octavina Indriyanti*

Be-songo.or.id – Seperti apa sih santri milenial? Ditinjau dari bahasa, santri milenial terdiri dari dua kata, yaitu santri dan milenial. Santri pada umumnya, merupakan sebutan bagi seseorang yang belajar ilmu agama di lembaga pendidikan, biasanya dikenal dengan  pondok pesantren. Sedangkan milenial adalah sebutan bagi generasi Y dan Z yang hidup di zaman sekarang. Jadi, Santri milenial merupakan santri yang tidak hanya bisa membaca kitab kuning atau menghafal al Quran, akan tetapi juga memiliki banyak kebiasaan, pengalaman, serta tidak mau ketinggalan perkembangan teknologi. Santri milenial harus bisa berbahasa asing, minimal menguasai bahasa Arab dan Inggris. Alangkah lebih baik lagi menguasai bahasa lain seperti Belanda, Perancis, Jerman, Korea dan sebagainya. Selain itu, mereka harus  memiliki wawasan luas, fleksibel, lugas dan banyak bergaul diberbagai lapisan masyarakat.

Santri zaman dahulu adalah orang yang mengenyam pendidikan agama di pesantren bertahun-tahun, pulangnya sebulan sekali, itu pun kalau pesantren modern. Tapi, santri sekarang bisa belajar melalui majlis-majlis taklim yang tidak harus menginap di pesantren. Berdasarkan catatan kementrian agama, yang dijelaskan lebih detail oleh Fachrul Razi, jumlah santri se-tanah air pada 2020 tercatat sebanyak 18 juta orang, dengan jumlah 28.194 pesantren. Banyak sekali bukan?

Sebagai Santri, selain menimba ilmu di pesantren atau yang sering dikenal dengan istilah mondok, juga harus mengamalkan dialog-diskusi para ulama. Selama ini, dikalangan masyarakat sering terjadi salah kaprah dengan istilah santri, dimana selalu diidentikkan dengan pondok pesantren, ini tidak salah. Akan tetapi, mereka yang memiliki pemahaman dan cara pengamalan religius yang mendukung layaknya santri, seperti memahami Islam moderat (wasathiah), toleran (tasamuh) serta perbuatan akhlakul karimah yang diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, tanpa mondok pun bisa dikategorikan sebagai santri. Jadi, bagi orang biasa yang ingin mendapatkan ilmu layaknya santri, bisa belajar secara otoritatif, yaitu belajar kepada para ulama muktabar (terhormat)dan memiliki sanad keilmuan yang jelas. Karena berilmu dengan guru atau ulama yang sanadnya jelas akan menjauhkan kita dari kesesatan.

Ulama adalah pewaris Nabi. Setelah kenabian ditutup oleh Rosulullah, warisan keilmuan keagamaan berada dalam tanggung jawab ulama. Untuk menjaga tersambungnya ilmu agama dari Rosul hingga zaman ini penting menengok, mempelajari dan belajar langsung kepada seorang Ulama. Menurut Syekh Zarnuji dalam kitab Ta’lim Muta’allim menjelaskan, seseorang jangan sembarangan dalam memilih guru. Memilih guru sebaiknya yang lebih pandai, wira’i, dan lebih tua. Ilmu dapat diperoleh melalui enam hal, yaitu: cerdas, tekun, sabar, punya biaya, memperoleh petunjuk guru, dan waktu yang lama.  Salah satu contoh ulama yang bisa dijadikan rujukan yaitu Gus Ahmad Bahauddin Nur Salim atau yang lebih akrab disapa Gus Baha’ merupakan Rais Syuriah PBNU serta ulama yang ahli al Quran dan alim dibidang keilmuan al Quran.

Apakah semua santri memiliki kreativitas sesuai minat dan bakatnya? Perlu digaris bawahi, semakin hari, tuntutan santri semakin banyak tanpa memandang dari pondok salaf atau modern. Menjadi santri milenial itu bukan perkara remeh, karena untuk menjawab tantangan peradaban, santri harus memiliki kreativitas. Berbekal ilmu agama yang sudah dipelajari, menggali potensi bakat serta minat menjadi lebih mudah. Pesantren pun mau tidak mau harus memperbanyak variasi dalam mengasah dan merangsang talenta yang dimiliki santri. Seperti keterampilan yang diterapkan di Pondok Pesantren Darul Falah Besongo Semarang disaat weekend, yaitu adanya keterampilan memasak, menjahit, jurnalis dan design. Keterampilan tersebut ditujukan supaya santriwan dan santriwati lebih memahami dan mengerti karena kelak akan berguna di masa mendatang.

Baca juga :  Komitmen dan Karakter Pemuda Menurut Surat al-Kahfi Ayat 13-14

Salah satu kegiatan yang mampu merangsang kreativitas santri, dimana ada satu pembekalan ilmu yang sekiranya patut untuk dicontohkan, yakni entrepreneur. Contoh entrepreneur terbaik sepanjang masa adalah Nabi Muhammad SAW. Beliau sukses menjadi seorang pedagang karena sifat dan loyalitasnya kepada pelanggan. Hal tersebut dapat diajarkan kepada santri milenial yang kaya akan ide-ide baru dan mulai merintis menjadi seorang wirausaha di usia muda. Walaupun bukan perkara mudah, namun dengan komitmen dan usaha yang terlatih sejak muda, akan menumbuhkan rasa kepercayaan diri. Walaupun tak luput dari kegagalan, namun perlu diingat banyak kesempatan dan diperoleh pembelajaran dari kegagalan.

       Tentunya kegiatan penunjang kreativitas di atas dapat dilakukan oleh santri yang  membutuhkan bakat dan minat. Bakat merupakan anugerah yang diberikan Tuhan kepada mahluknya sehingga patut disyukuri dan dikembangkan. Selain itu, kita harus mengetahui terlebih dahulu jenis-jenis bakat itu sendiri agar dalam pengaplikasian dan pengembangannya sesuai dengan harapan. Sedangkan minat adalah proses kecenderungan yang menetap dalam diri seseorang untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Seseorang yang berminat terhadap sesuatu atau beberapa kegiatan akan memperhatikan kegiatan itu secara konsisten dengan rasa senang. Adanya minat pada setiap individu dalam melakukan kegiatannya itu akan membantu mereka merasakan kenyaman dalam proses aktivitasnya, terutama dalam pengembangan kreativitas.

Perlu diingat, Santri sejak dulu telah diajarkan pendidikan mengenai kesetaraan gender. Urusan masak dan menjahit kini bukan hanya untuk perempuan saja, laki-laki pun bisa. Realitanya, sekarang ini banyak restoran yang juru masaknya laki-laki, dan tukang jahit pun tidak hanya perempuan. Selain hal tersebut, saat ini banyak pondok yang menerapkan mengenai pendidikan tata boga dan tata busana. Tata boga sangat penting bagi santri, terutama ketika nanti sudah mengarungi bahtera rumah tangga. Begitu juga dengan tata busana, berawal dari usaha menjahit, kemudian membuat banyak konsep pakaian muslim yang saat ini berkembang.

Perkembangan mode dunia telah merubah tatanan dan kebiasaan semua orang. Dari gaya berpakaian, pola hidup, bahkan hampir semua lini kebutuhan manusia telah berubah. Hal yang perlu diwaspadai yaitu mengenai perkembangan teknologi di abad ke 20 ini. Apakah santri siap menghadapi dan berdampingan dengan era ini? Tentu saja siap, para pemuka agama tak henti hentinya untuk selalu berusaha agar santri milenial mampu menaklukan era ini, bukan sebagai objek namun sebagai subjek yang mampu menggendalikan arus ini. Saat ini sudah banyak santri yang mampu memanfaatkan teknologi untuk menunjang agama. Penerapan teknologi sudah diterapkan dalam berbagai ilmu agama, seperti astronomi, media pembelajaran dan dakwah, alat alat canggih pun mulai dikeluarkan untuk membantu masyarakat dalam mempelajari ilmu agama. Semua itu tak lepas dari kreativitas para santri yang mau dan telah menaklukan teknologi.

Santri milenial harus selalu mengembangan kapabilitas diri untuk bersaing dengan era yang bergerak begitu cepat. Bukan sebagai budak dari zaman, namun sebagai penakluk dan mampu menjawab tantangan zaman. Itulah yang harus ditanamkan dalam pribadi santri milenial. Kreativitas harus selalu berkembang dan tetap berpegang teguh dengan ajaran agama dan menggandeng para orang tua mereka terutama para ulama agar mereka tak salah dalam mengambil persimpangan jalan. Kehidupan selanjutnya kita semua tidak bisa memprediksi, setidaknya kita sebagai santri milenial harus menyiapkan diri untuk hidup sejalan dengan zaman.

*(Mahasantri Darul Falah Besongo & Mahasiswi Pendidikan Kimia UIN Walisongo Semarang)

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: