KH. Mohammad Shochib Bisri : Kyai istiqamah bersama umat

KH. Mohammad Sochib Bisri

(Reporter: Ikanatul Musthofiah & Andre Wijaya*)

Be-songo.or.id – KH. Moechamad Sochib Bisri lahir di Jombang 21 November 1932 M (23 Rajab 1351 H). Beliau adalah putra keenam atau terakhir dari pasangan KH. Bisri Syansuri dan Nyai Hj. Chadidjah.

Tak hanya dikenal sebagai putra pendiri dan pengasuh pondok pesantren Mamba’ul Ma’arif Jombang. Nama KH. Moechamad Sochib Bisri juga dikenal sebagai organisatoris, aktivitas partai politik dan organisasi Islam Nahdaltul Ulama’. Kiprahnya dibidang politik diawali saat Kiai Sochib masuk dalam fungsionaris partai berlambang Ka’bah (Partai Persatuan Pembangunan). Pada saat itu Kiai Sochib, terpilih menjadi anggota dewan di wilayah Bangkalan, Madura. Hal ini tidak terlepas dari amanah yang diberikan oleh KH. Bisri Syansuri agar dapat menjalin hubungan baik dengan para kiai dan saudara di daerah Bangkalan.

KH. Moechamad Sochib Bisri menikah tahun 1957 dengan Hj. Nadhiroh Mansyur dan dikaruniai sembilan putra dan putri yaitu, Lathifah Shohib, Zaenab Shohib, Muflihah Shohib, Abdul Mujib Shohib, Abdulloh, Mas’adah Shohib, Mu’linah Shohib, Abdul Mu’id Shohib, dan Abdul Salam Shohib. Dimata keluarga, KH. Moechamad Sochib Bisri merupakan sosok yang disiplin, tegas dan perhatian terhadap pendidikan putra-putrinya.

Tradisi Keilmuan ‘Nyantri Keliling’

KH. Moechamad Sochib Bisri, dalam riwayat pendidikannya pernah melakukan tradisi yang kebanyakan dilakukan oleh para kiai sebelumnya, yaitu ‘nyantri keliling’. Mulai dari Lirboyo, Lasem, Krapyak sampai pada Gontor. Hal ini dilakukan untuk menambah ilmu agamanya sehingga lebih matang dalam mangarungi dunia pesantren dan organisasi Islam kelak. Pendidikan ‘nyantri keliling’ tersebut, tidak terlepas dari dorongan KH. Bisri Syansuri. Hal ini dilakukan untuk dapat meneruskan tongkat estafet kepemimpinan pondok pesantren yang didirikannya kelak.

Setelah melakukan pendidikan ‘nyantri keliling’, Kiai Sochib Bisri mengikuti jejak KH. Bisri Syansuri berkiprah dalam organisasi Islam dan politik dengan bergabung partai PPP (Partai Persatuan pembangunan) pada tahun 1972.

Semasa hidupnya, loyalitas kiai Sochib pada partai, tidaklah diragukan. Banyak pejabat pemerintahan yang senantiasa menjadikan KH. Moechamad Sochib Bisri sebagai penasihat agama. Selain itu, beliau juga aktif menjadi penasehat spiritual dalam kegiatan sosial rumah sakit umum di Jombang.

Dalam organisasi Islam yang diikuti, seperti Nahdlatul Ulama’, KH. Moechamad Sochib Bisri pernah memegang tampuk kepemimpinan PCNU di Jombang. Beliau juga pernah menjadi pengurus di PWNU Jawa Timur. Semasa mengabdi di pesantren, beliau juga merupakan pengasuh sekaligus ketua yayasan Mambaul Ma’arif. Kedua posisi yang dipegang oleh satu orang tersebut, merupakan yang pertama dan terakhir kalinya terjadi dalam kurun waktu yang bersamaan. Setelah sepeninggal beliau, belum pernah ada yang menjadi pengasuh sekaligus pemimpin yayasan dalam satu waktu.

Tanggung Jawab Pesantren & Pendidikan

Pesantren sebagai tempat mendidik para santri menjadi perhatian khusus KH. Moechamad Sochib, sehingga tidak heran jika dalam mengawal institusi dan pengembangan pondok beliau selalu terlibat langsung. Hal ini dilakukan bukan karena tidak percaya dengan kepala sekolah dan para asatidz, melainkan bentuk dari rasa tanggung jawab beliau sebagai pengasuh utama Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar Jombang.

Kepedulian dan keistiqomahan beliau terhadap umat, menjadi sebuah pelajaran bagi para santrinya, terutama dalam bidang pendidikan (mengaji). Tanggung jawabnya dalam mengawal dan membimbing santri-santrinya, bahkan sampai mengecek setiap pelajaran bagi para santrinya. “Ayah saya, Abdul Mu’thi Asfan, sering menyaksikan beliau terjun langsung dalam membiumbing dan memotivasi para asatidz dalam mengajar santri-santrinya. Dalam membimbing santri dan asatidz misalnya, beliau tidak lupa untuk melihat dan mengontrol bagaimana keadaan diniyah dan sekolah. Jadi kiai shochib itu sering kalau pagi-pagi lewat di depan madrasah, termasuk madrasah diniyah di sore harinya, untuk melihat-lihat dan mengamati kelas-kelas,” ujar Prof. KH. Imam Taufiq yang pernah nyantri di Ponpes Denanyar ini.

Baca juga :  Teladan Akhlak Nabi: Jangan Mudah Mencela

Sosok Referensi Umat

Sebagai Ulama besar yang memiliki keilmuan dan kharismatik, menjadikan KH. Moechamad Sochib sebagai sosok referensi umat. Salah satu ciri khas yang paling menonjol dari kiai Sochib adalah sebagai rujukan dalam penentuan satu Syawal, karena pada zaman dulu belum ada penentuan pengumuman secara masal tentang kapan jatuhnya satu Syawal. Bahkan terkadang ketika pemerintah sudah mengumumkan, masyarakat masih lebih percaya dan ikut apa kata kiainya. Ketika menjelang magrib banyak daerah-daerah di sekitar Denanyar, seperti Banjardowo, Ploso Geneng, Kauman, Sumberwinong, Megaluh, dan sekitarnya berkumpul di Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif, hanya ingin mendengarkan fatwa Kiai Sochib Bisri, tentang sebenarnya idul fitri itu jatuh pada hari apa. Selain itu beliau juga menjadi referensi dan rujukan dalam ibadah, seperti pernikahan dan sunatan.

Kyai Sochib bersama tokoh agama di sekitar Denanyar, terlihat Kyai Abdul Mu’ti Asfan, Ayahanda Prof. Imam Taufiq (baris kedua dari kiri)

Menurut  Prof. KH. Imam Taufiq, Kiai Sochib adalah sosok yang benar-benar menerapkan kaidah ushul fiqh dengan begitu kuat, “al-hukmu yaduru ma’a al-‘illati wujudan wa ’adaman’ (keberadaan hukum itu bersamaan dan mengadaptasikan kondisi dan keadaan ‘illat’ atau sebabnya, ada ‘illat’ ada hukum, tak ada ‘illat’ tak ada hukum atau hokum menyesuaikan respon terhadap sebab yang mengitarinya. Dalam bidang politik beliau tidak hanya memberi hukum apa adanya, tetapi juga melihat kondisi masyarakat yang sedang membutuhkannya. Bahkan juga menjadi referensi hukum bagi para kiai-kiai di pesantaren lain juga masyarakat di sekitarnya.

Berani beda dengan Abahnya (KH. Bisri Syansuri)

Dalam persaksian Kyai Akhwan (santri KH. Bishri Syansuri) Mbah Mad begitu ia menyebutnya, merupakan sosok yang inovatif. Tidak segan-segan Kiai Sochib Bisri berseberangan dengan ayahnya, Kyai Bisri Syansuri. Dikisahkan dalam satu kesempatan, Mbah Mad turut serta dalam perkumpulan Ulama di Jombang bersama ayahnya. Saat itu, para ulama sedang membahas tentang hukum foto. “Seng diharamkan itu gambar, foto itu dijepret, maka boleh. Aku ijen!,” demikian tegas Mbah Mad, sebagaimana diceritakan oleh KH. Akhwan.

Selain itu, dibalik keilmuan dan kekharismatikan beliau, Kiai Sochib adalah sosok yang tidak terlalu senang dengan “publisitas”, hal ini dapat dibuktikan dengan minimnya tulisan, biografi, atau referensi tentang kiai Sochib Bisri di internet. Bukan karena beliau tidak populer, melainkan tidak ingin populer kecuali dihati para santri dan umat. Diakhir hayatnya, pada hari Sabtu tanggal 06 Januari 1996 KH. Moechamad Sochib Bisri meninggal dunia dan di makamkan di Masjid Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar, Jombang, Jawa Timur. Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu.

*(Mahasantri Darul Falah Besongo)

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: