Momentum Menggugah Tradisi Santri

Santri Darul Falah Besongo Semarang

Oleh : Miftahul Ulum*

Be-songo.or.id – Tanggal 22 Oktober 2020 adalah peringatan Hari santri ke-6 sejak ditetapkannya, yaitu 22 Oktober 2015 oleh Presiden RI Joko Widodo. Sebagai santri, kita patut bersyukur atas penghargaan luar biasa yang diberikan oleh Negara tersebut.

Hari santri layak diperingati oleh semua kalangan. Bukan hanya yang masih berkutat di lingkup pesantren, yang masih menggeluti makna utawi iki iku, tetapi juga pantas diperingati oleh kaum alif, ba’ ta’. Hari santri tidak juga hanya diperingati oleh warga picisan, tetapi juga pantas diperingati oleh warga gundulan. Dan, tidak hanya pantas diperingati oleh santri baru tetapi juga pantas diperingati oleh sesepuh dan para kiai. Semua berhak membaur untuk memperingati dan memeriahkan hari santri. Hal ini selaras dengan dawuh KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), saat kirab hari santri 22 Oktober 2015. Menurutnya, santri bukan hanya yang mondok saja. Tetapi siapa pun yang berakhlak santri, yang tawaduk kepada Gusti Allah, maka layak dikatakan sebagai santri.

Peringatan Hari santri, bagi masyarakat luas memberikan sebuah narasi yang lahir dari fakta sejarah. Mereka akan melihat betapa loyalitasnya santri dalam merebut, mempertahankan kemerdekaan dan menjaga perdamaian Indonesia. Sebelum ditetapkannya hari santri, loyalitas dan peran santri dalam menjaga perdamaian dan keutuhan NKRI sering kali diabaikan bahkan dipandang sebelah mata. Hal ini mungkin menjadi wajar, karena mereka belum paham seberapa besar peran santri untuk negeri.

Menilik sejarah dicetuskannya hari santri berarti mengenang pada satu peristiwa bersejarah, yakni seruan yang dibacakan oleh Pahlawan Nasional, KH. Hasyim Asy’ari, pada 22 Oktober 1945. Seruan ini berisikan perintah kepada umat Islam untuk berperang (jihad) melawan tentara sekutu yang ingin merebut kembali wilayah Republik Indonesia pasca-proklamasi kemerdekaan.

Bagi santri, tanggal 22 Oktober jangan sampai hanya di peringati secara seremonial belaka. Seperti arak-arakan, upacara, doa bersama dan sebagainya. Lebih dari itu, dengan ditetapkannya hari santriakan menjadilebih bermakna bila santri me-refresh jiwa  “Kesantrian” dengan cara nguri-nguri tradisi santri, seperti cinta tanah air, jujur, rendah hati, takzim pada kiai dll. dengan Tradisi pesantren tersebut bila tetap subur, maka ke-santri-an tidak akan luntur di jiwa para santri.

Baca juga :  Gubuk Suci Pencipta Sang Cahaya dari Kudus

Perkembangan zaman yang sangat pesat, tidak bisa dipungkiri menjadikan para santri sibuk dengan berbagai aktivitas, seperti menjadi pedagang, petani, pendidik dan sebagainya. Kesibukan yang digeluti, bahkan ada yang jauh dari nilai pesantren, sehingga membuat mereka sedikit banyak lupa akan tradisi santrinya. Maka dari itu, dengan adanya hari santri setidaknya kita “diingatkan” kembali akan status kita sebagai santri. Kemudian timbul ghiroh untuk melestarikan kembali tradisi santri. Perlu di ingat bahwa apapun profesi kita saat ini, jangan sampai lupa dengan status santri di benak kita. Walaupun ada sebagian dari kita sudah mempunyai santri, jamaah atau bahkan sudah punya pondok pesantren (baca: kiai). Tetap mengakui sebagai santri merupakan bentuk penghormatan pada guru/kiai yang selalu mengajarkan rendah hati.

Loyalitas santri pada kiai atau pondok, tidak hanya dilihat saat mereka masih belajar di pesantren. Lebih jauh dari itu, keloyalan santri itu dilihat saat mereka sudah boyong dari pesantren. Apakah mereka masih mendoakan kiainya, masih taat dawuh-nya, masih loyal pada almamater atau tidak dan seterusnya. Loyalitas santri tatkala masih di lingkungan pesantren adalah hal yang wajar. Karena secara langsung mereka bersinggungan dengan kiai, masih memiliki rasa sungkan bila hendak melanggar. Apalagi model santri yang senang dengan pujian dan ada maunya, mereka akan berusaha memperlihatkan kebaikan dan ketaatannya di hadapan kiai. Namun ketika khidmah, nguri-nguri tradisi dan amaliyah khas pesantren masih dilakukan sekalipun sudah boyong, hal ini menjadi nilai yang luar biasa. Tradisi pesantren itulah yang kemudian layak untuk dipertahankan sepanjang hidup.

Adanya peringatan hari santri, besar harapan bisa menjadi momentum para santri  untuk kembali tergugah jiwa kesantriannya. Tradisi yang tumbuh subur di pesantren, seperti rutinitas tholab al-ilmi, tafaqquh fi ad-diin, dan karakter mendasar ala pesantren dapat menjadi wasilah mendekatkan diri kepada Sang Kholik.

*Asatidz/Pengajar Pondok Pesantren Darul Falah Besongo Semarang

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: