Semarak Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW Di Masa Pandemi

Pengasuh Pondok Pesantren Darul Falah Besongo Semarang

Besongo.or.id – Dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW tahun 1442 H, Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Falah Besongo Semarang adakan perayaan mauludan pada Sabtu malam (31/10/2020), ba’da isya. Acara tersebut dilaksanakan di tiga asrama yang tersebar di asrama B9, A7 dan B13, berlokasi di Perumahan Bank Niaga, Tambakaji. Tema yang diusung yakni tentang “Rasulullah Nabi Umat Akhir Zaman Nabi Suri Tauladan,” yang diikuti oleh seluruh santri Ponpes Darul Falah Besongo Semarang.

Berbeda dengan perayaan maulid ditahun sebelumnya, perayaan maulid Nabi SAW kali ini, diselenggarakan via Youtube, demi mengutamakan protokol kesehatan untuk tidak berkumpul dengan orang banyak dalam satu tempat.

Acara ini dibuka oleh grub rebana Ponpes Darul Falah Besongo, El-Falah, dengan membacakan dan menyenandungkan maulid diba’. Pengasuh Ponpes Darul Falah Besongo, Abah Prof. Dr. K.H. Imam Taufiq, M.Ag. juga turut menghadiri acara ini serta memberikan sambutan. Para ustadz dan ustadzah hadir pula dalam acara malam itu.

Adapun pesan yang beliau sampaikan dalam sambutannya, yakni keutamaaan dari keunggulan karomah, keunggulan kehebatan Nabi adalah akhlak. Akhlak Nabi yang  memanusiakan manusia dengan mencontoh agar setiap manusia memiliki karakter yang hebat.

“Jaminan surga yang Nabi peroleh, tidak meluruhkan semangat Nabi untuk beribadah. Bahkan beliau tetap teguh dan khusyuk dalam beribadah,” jelas Abah Imam.

Perayaan maulid Nabi juga dimeriahkan dengan penampilan pidato 6 bahasa oleh Santri Darul Falah Besongo. Adapun pidato 6 bahasa tersebut ialah pidato bahasa arab oleh Muhammad Aufa Taqiyuddin, pidato Bahasa Inggris Cantika Khoirun Nisa’, pidato Bahasa Mandarin Umi Farida, pidato Bahasa Jawa oleh Azka Ibadurrahman, pidato Bahasa Sunda oleh Neng Aneu, serta pidato Bahasa Indoensia oleh Nurul Habibah.

Baca juga :  Besongo: Pelatihan Budidaya Jamur Tiram

Dalam pidato yang mereka sampaikan mengandung sarat makna, terlebih berkaitan dengan perjuangan dan akhlak Nabi Muhammad SAW yang dapat kita teladani dalam kehidupan sekarang.

“Rasulullah itu Basyarun laa Kal Basyar. Manusia tidak seperti manusia biasa. Bila manusia adalah batu, maka Rasulullah adalah lautan permata. Manusia paling mulia, manusia yang paling khusyuk salatnya,” tutur Nurul Habibah dalam pidatonya.

Nurul Habibah, Mahasantri Darul Falah Besongo Semarang saat menyampaikan pidato bahasa Indonesia pada perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW

Sudah tentu banyak hikmah yang kita pelajari dari perayaan maulid nabi ini. Hal ini menjadi bukti kecintaan kita kepada Allah dan Rasulullah.

Acara inti diisi dengan mauidzoh hasanah oleh Ustadz Syariful Anam, beliau menyampaikan bahwa peringatan maulid nabi itu tidak sekadar pelafalan saja. Melainkan proses perenungan internalisasi dengan menilik balik kisah-kisah Nabi Muhammad SAW.

“Dalam perayaan maulid Nabi kali ini, mari kita kukuhkan cinta Nabi dan mengaktualisasikan akhlak Nabi dalam kehidupan sehari-hari,” pungkas Ustadz Syariful Anam dalam mauidzoh hasanahnya.

Reporter : Mafriha Azida

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: