Ngaji Islam Bernuansa Kebudayaan Jawa

Ilustrasi kebudayaan Jawa (Sumber foto : https://travel.okezone.com/)

Oleh                : Lukman Maulana Ibrahim*

Be-songo.or.id – Salah satu kegiatan Pondok Pesantren yang harus diterapkan dalam persiapan berliterasi di masyarakat yaitu berdakwah mengamalkan ilmunya, seperti contoh kegiatan Khitobah. Kegiatan ini berisi penyampaian isi dakwah dalam bersyiar islam berbagai bahasa, baik Bahasa Indonesia, Jawa, Inggris, maupun Bahasa Arab. Kegiatan ini dilakukan oleh santri putra Pondok Pesantren Darul Falah Be-songo pada setiap malam senin bakda isya. Namun pada Minggu (1/11/2020), kegiatan khitobah ini terasa lebih syahdu, dengan menambahkan dakwah yaitu ngaji kebudayaan yang dikaji oleh Amir Yusuf, Ketua Asrama B6. Hal ini menambahkan kesadaran dan semangat santri bahwasannya ilmu yang diwariskan oleh para ulama harus dijaga, apalagi kita sebagai santri terkhusus di daerah jawa harus menjaga warisan ilmu tersebut, seperti tembang macapat merupakan ajaran  peninggalan dari Walisongo.

Tembang macapat itu,sama seperti halnya syiir yang disusun secara runtut, dengan menggunakan ilmu ‘arudh atau ilmu wazan syair. Seperti bahr rojaz,bahr thawil, dan lain-lain.” Ujar Kang Amir.

 Dalam tembang macapat sendiri memiliki nilai filosofi kehidupan. Pertama yaitu maskumambang yaitu berasal dari kata mas dan kumambang. Mas memiliki arti jabang bayi yang belum diketahui dalam rahim ibu, sedangkan kumambang memiliki arti hidupnya bayi yang mengambang dalam rahim ibunya. Kemudian yang kedua yaitu mijil, memiliki arti bahwa bayi itu lahir dalam kandungan ibu, keadaan manusia yang masih di gendong ibunya dan menyusui. Ketiga yaitu kinanthi yang berarti dilatih dalam kehidupan yang baik, misal berupa karakter dalam hal ibadah dan berbudi pekerti, dan lain-lain. Kemudian yang keempat yaitu sinom, memiliki arti masa-masa menginjak awal usia remaja. Pada masa tersebut manusia masih labil seperti dalam hal bercinta.  Yang kelima yaitu asmaradana, terdiri dari kata asmara yang artinya rasa cinta dan bermakna pada usia ini manusia sudah memiliki rasa cinta pada lawan jenisnya, hal itu merupakan kodrat manusia yang diberikan Allah swt. Kemudian yang keenam yaitu gambuh, memiliki arti bahwa manusia sudah memiliki ikatan yang sah atau pernikahan yang mana manusia menjalani kehidupan bersama. Yang ketujuh yaitu dhandanggula bermakna menggambarkan manusia menjalani pahit manis bersama, mulai dari berumah tangga, berkeluarga, menafkahi, dan sebagainya. Kemudian yang kedelapan yaitu durma, dari serapan kata darma atau weweh yaitu merasa berkecukupan dalam kehidupan belas kasih sayang. Yang kesembilan yaitu pangkur berasal dari kata mungkur yang artinya menahan hawa nafsu. Yang kesepuluh yaitu megatruh, dari kata megat dan ruh, megat yang artinya dihadang dalam artian bahwa sudah saatnya bahwa ruh itu harus dicabut atau di sebut juga meninggal dunia. Dan yang kesebelas yaitu pocung bermakna menggambarkan manusia yang meninggal yang dibungkus menggunakan kain kafan, dalam hal ini memaknai bahwa semua harta manusia itu ditinggalkan tidak akan bisa dijadikan bekal di alam kubur.

Kemudian Kang Amir menjelaskan salah satu tembang mocopat yang di kenal dengan tembang dolanan. Lir ilir disyiarkan oleh sunan kalijaga. Dalam baitnya yaitu:

Baca juga :  Make To video: Pengambilan Foto dan Video

Lir ilir lir ilir tandure wong sumilir
Tak ijo royo royo
Tak sengguh panganten anyar
Cah angon cah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu lunyu penekno kanggo mbasuh dodotiro
Dodotiro dodotiro kumintir bedah ing pinggir
Dondomana jrumatane kanggo seba mengko sore
Mumpung padang rembulane
Mumpung jembar kalangane
Sun suroko surok hiyo

“Lir- ilir” memiliki makna ngelilir atau berpesan untuk bangunlah, kemudian tandure wong sumilir, yaitu sudah saatnya musim panen,yang mana buah itu terlihat ketika ada hembusan angin. “Tak ijo royo-royo” yaitu hijau yang sangat indah, tak sengguh penganten anyar yaitu kata dasar anggo dalam jawa kromo inggil yaitu senggoh, maknanya di pakai untuk sang pengantin. “cah angon cah angon”, yaitu anak penggembala, dalam bahasa arab roiyat, bermakna bahwa pengembala itu merupakan seorang yang memimpin dan mengatur semua,memiliki amanah yang besar. Karena hakikatnya manusia diciptakan menjadi khalifah dibumi yang di jelaskan pada surah al-Baqarah ayat 30. Kemudian “penekno blimbing kuwi” mengajarkan bahwasanya berpegangan kokoh dalam rukun Islam. Buah blimbing memiliki 5 sudut yang membentuk seperti bintang yang berarti rukun Islam. Islam memiliki 5 pokok rukun ajaran islam yaitu syahadat, sholat, puasa, zakat dan haji. “lunyu-lunyu penekno kanggo basuh dodotiro” yaitu lakukan walau hal itu sulit untuk membersihkan hati, mesucikan pakaian . “dodotiro-dodotiro kumintir bedah ing pinggir”  hati ini sudah kotor ternodai oleh dosa yang disebabkan oleh nafsu yang negatif. “dondomana jrumatane kanggo seba mengko sore” yang bermakna dijahit atau di perbaiki untuk bekal saat waktu ajal nanti. “Mumpung padang rembulane” memaknainya segera diperbaiki karena pintu taubat terbuka lebar sebelum ajal tiba. “mumpung jembar kalangane” yaitu masih banyak waktu untuk merubah sesuatu yang lebih baik. “sun suroko surok hiyo” hal ini merupakan kabar gembira dari ulama maka hal itu segera lakukan dalam pemaknaan kata hiyo yaitu mau melaksanakannya.

Kemudian Kang Amir menjelaskan lagi salah satu tembang dolanan yaitu gundul gundul pacul, liriknya yaitu:

Gundul gundul pacul cul gembelengan
Nyunggi nyunggi wakul kul gembelengan

Wakul ngglimpang segane dadi sak latar

“gundul gundul pacul, gembelengan” memaknai bahwasannya dalam masa usia anak-anak dalam memikul beban kehidupannya masih wajar karena anak kecil masih labil dalam belajarny. “nyunggi nyunggi wakul gembelengan” diartikan ketika waktu sudah dewasa yang seharusnya dalam mengemban amanah tidak boleh khianat atau tidak sungguh sungguh. “wakul ngglimpang segane dadi sak rantang” dalam Bahasa Jawa wakul merupakan tempat nasi yang besar, dalam konteksnya menggambarkan suatu amanah yang sangat besar terutama para pemimpin, ngglimpang dalam Bahasa Indonesia berartikan jatuh karena tidak seimbang, karena akibat dari sifatnya yang angkuh dan sombong, “segane dadi sak latar” maksudnya yaitu akibat dari sifat tercelanya mengakibatkan turunnya harga martabat serta derajatnya.

*Mahasantri Darul Falah Besongo Semarang & Mahasiswa Ilmu Al Quran dan Tafsir

Editor              : Maulana Misbahul Fuadi

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: