Hilda, Tentang Cinta, Luka, dan Perjuangan

Dari kiri ke kanan: Qurrotun A’yun Wulandari (moderator), Muyassaroh Hafidzoh (penulis novel Hilda), Luthfi Rahman (pembanding)

Be-songo.or.id – Pondok pesantren Darul Falah Besongo mengadakan acara bedah buku yang dimoderatori oleh santriwati kelas 3,yang juga mahasiswi UIN walisongo, Qurrotun A’yun Wulandari. Buku yang dibedah pada Ahad (22/11/2020) ini berjudul “Hilda”,dan langsung mendatangkan penulis, Muyassaroh Hafidzoh.

Dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan, acara dilaksanankan di empat  tempat yang berbeda, yakni asrama B17, B9, A7, dan B13 sebagai pusatnya. Supaya nuansa acara tetap terjaga, masing masing asrama menonton melalui aplikasi Zoom  yang disiarkan di proyektor masing-masing asrama.

Acara ini mengambil tema “mengkaji makna kesalingan potret perempuan pesantren tangguh”. Dihadiri oleh pengasuh pondok pesantren Darul falah besongo, KH. Imam Taufiq memberikan sambutan untuk membuka acara ini.

 “Menurut saya, dengan buku ini para santri harus meneguhkan komitmen nya untuk menjadi agen perubahan” tutur beliau. Menurut beliau santri adalah agen perubahan tentang meneguhkan kesadaran tentang keadilan,kebersamaan,kesalingan, antara laki-laki dan perempuan.

Tujuan pokok pembuatan buku ini,menurut penulis ingin mengutarakan pesan dalam novel tersebut,salah satunya  yaitu “perempuan adalah manusia seutuhnya”.

“Dalam alam bawah sadar saya itu perempuan itu banyak yang belum menganggap manusia seutuhnya,ya kan kalau nomor dua itu berarti belum seutuhnya.” tuturnya. Menurutnya perempuan dan laki-laki itu sama-sama memiliki kesempatan,sama-sama menjadi khalifah dibumi,sama-sama bisa menebar kebaikan.

Buku ini merupakan novel yang menyuguhkan tema tentang isu besar yaitu kekerasan seksual,pernikahan anak,dan lingkungan,yang terinspirasi saat beliau mengikuti sebuah kongres ulama yang juga menyampaikan hal besar tersebut,dan juga dari sebuah cerita tentang sebuah sekolah yang salah satu siswinya hamil di luar nikah karena kekerasan seksual tapi sekoah itu mengeluarkan siswi tersebut karena dianggap “aib”,sedangkan yang laki-laki tidak. Menurutnya yang membuat susah dalam penegakan hukum terhadap kekerasan seksual yang dialami oleh perempuan adalah minimnya bukti.

“Kalau perempuan udah melakukan hubungan seksual itu akibatnya apa? bisa hamil,kalau laki-laki ada bekasnya nggak?”. Beliau mengatakan bisa saja laki-laki sebagai pelaku mengelak tuduhan tersebut,seolah-olah masalahnya selesai.

Dalam kesempatan tersebut, ibu Muyassaroh hafidzoh –red penulis novel Hilda juga tidak segan segan menyuruh para santriwan dan santriwati untuk ikut menulis. Menurutnya, tak usah khawatir kalau menulis kemudian tidak ada yang baca, sebab tulisan akan menemukan pembacanya sendiri.

Baca juga :  Menjemput Mimpi
Maulana Misbahul Fuadi sebagai ketua panitia memberikan sertifikat penghargaan kepada penulis novel hilda, Ibu Muyassaroh H

Selain Penulis,panitia juga mendatangkan pembanding, M Lutfi rahman MA. Beliau merupakan Sekretaris Rumah Moderasi Beragama UIN Walisongo sekaligus asatid di Pondok Darul Falah Besongo. Beliau memaparkan bahwa ada isi dari novel ini sangat lah bagus,karena berisi tentang birrul walidain dan mubadalah,di samping itu tokoh utama yang memiliki sifat yang sangat penyebar,ada tokoh tambahan yang tidak jauh berbeda dengan tokoh utama. Selain dengan penokohan yang bagus,novel ini juga di lengkapi dengan maqolah para ulama,hadits nabi,dan bait-bait alfiyah yang menjadi penguat. Beliau juga mengkritik beberapa kekurangan,diantaranya scene akhir yang hampir sama adegannya dengan film ayat-ayat cinta,dan ada sebuah cerita yang belum tuntas entah itu strategi penulis atau memang itu kekhilafan penulis.

Selain dua pemateri tersebut,banyak santri baik putra maupun putri yang sangat antusias mengikuti acara bedah buku tersebut dengan mengirim beberapa pertanyaan,salah satunya Anik yang berada di asrama A7.

“Bagaimana cara merubah mindset orang lain tentang kekerasan seksual terutama pada korban?”. 

Menurut penulis banyak kejadian di masyarakat tindak kepada korban terutama jika dia hamil dinikahkan dengan pelakunya yang jelas dapat menambah sakit psikis maupun isik bagi korban,karena tidak hanya fisik nya yang tersakiti namun juga psikisnya ikut tersakiti. Lalu penulis menginspirasi dalam novelnya agar kita menjadi orang baik,juga agar kita tidak merasa risih kepada korban karena mereka adalah kita yang lain dan tidak menganggap korban itu buruk.

Dalam buku ini tidak hanya menguraikan masalah tentang kekerasan seksual,namun juga mengedukasi kita bagaimana cara memperlakukan korban tersebut agar dia tidak merasa menjadi orang yang hina,buruk dan juga dikucilkan,karena pada dasarnya mereka hanya korban yang dilecehkan oleh orang lain.

Di akhir acara, ibu Muyassaroh Hafidzoh mengutip dari novel Kimya Sang Putri Rumi, “ ketika hatimu terluka parah hanya ada tiga aturan main, jangan mengenyahkan kepedihan itu, jangan pernah mencoba untuk mengerti, dan jangan tenggelam dalam kepedihan itu”.

Reporter : Panpan Alwi

Editor    : Azkiya Tsany B

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: