Pemimpin Jujur Berani, Lahir Dari Pesantren


Itulah salah satu semangat yang tergambar dari Kuliah Umum Pesantren Besongo. Bermimpilah setinggi langit, maka jika kamu jatuh akan berada diantara bintang-bintang. Pepatah Bung Karno tersebut seakan mengemuka,  Senin, (08/09). Pasalnya, dalam kegiatan tersebut, Dra. Hj. Jauharotul Farida, M. Ag, selaku  pemateri kuliah umum menyampaikan perihal pentingnya bercita-cita, motivasi dan evaluasi diri. Kuliah umum memang menjadi agenda tiap memasuki semester baru di Ponpes Dafa sebagai pertanda awal mulainya kegiatan belajar dan nyantri.

“Sudah menjadi barang wajib bagi anak didik baru, tak terkecuali bagi santri untuk mengikuti kuliah umum layaknya mahasiswa”, katanya.

Kegiatan ini dibuka dengan pembacaan ummul kitab dilanjutkan dengan sambutan pengasuh Ponpes Dafa, Dr. H. Imam Taufiq, M. Ag. Sambutan diawali dengan menyampaikan runtutan kegiatan penerimaan santri baru secara simbolis yang lolos dari tes seleksi dan dilanjutkan dengan kegiatan Ta’aruf Orientasi Santri (TOS). Dalam sambutannya, beliau juga menghimbau semua santri untuk bersungguh-sungguh dalam tholabul ‘ilmi dan menata niat. Menurutnya, hal utama yang harus ditata ketika seseorang ingin nyantri ialah niat. Sebab, berbekal dari niat, Allah SWT akan mengabulkan apa yang menjadi tujuan dan skala prioritas dari santri tersebut. Seperti yang tertuang dalam penggalan hadist yang artinya Sesungguhnya amal itu tergantung pada niat dan seseorang akan memperoleh sesuatu sesuai dengan niatnya.

“Yang terpenting diawali dengan niat yang tulus mencari ilmu dan juga (supaya) dapat tercapai visi dan misi PP. Darul Falah B-9,” jelasnya.

Visi yang dimaksud tersebut di atas adalah berakhlak mulia dengan kompetensi keagamaan dan kecakapan hidup yang handal. Hal itu dikuatkan oleh pemateri kuliah yang bertempat tinggal di Semarang itu. Seperti yang diterangkan sebelumnya, pemateri memotivasi santri baru yang telah lolos dan diterima di Ponpes Dafa. Menurutnya, kecakapan hidup yang handal ialah orang yang berani menunjukkan keunggulannya dan jangan disimpan. Hal ini direalisasikan dengan memanfaatkan fasilitas pondok dengan baik dan maksimal.

“Jadilah calon pemimpin yang berani, jangan jadi yang wujuduh ‘adamih,” paparnya.

Selanjutnya, pemateri juga mengungkapkan tentang pentingnya bermimpi dan bertanggung jawab atas mimpinya. Dia mencontohkan hal ini dengan menunjuk beberapa santri dan menanyakan apa mimpi mereka dan mencontohkan cara mengevaluasinya.

Semua itu, lanjut Ketua Ikatan Alumni PMII Walisongo, hanya bisa diraih dengan keberanian kita dalam bermimpi, bercita-cita dan bertanggung jawab (evaluasi). Evaluasi menjadi hal penting, sebab hal itu yang nantinya akan menunjukkan seberapa jauh kita dalam berupaya meraih cita-cita.

“Skemakan cita-citamu dan dievaluasi”, Faridah mengakhiri.

 

[Oleh: Ainal]