RIYADLAH DAN PEMBINAAN AKHLAK


RIYADLAH DAN PEMBINAAN AKHLAK 

Hj. Arikhah, M.Ag

Dalam memasuki kehidupan yang penuh dengan problem dan tantangan ini, manusia senantiasa di hadapkan pada banyak alternatif dan pilihan hidup. Salah satunya adalah bagaimana seseorang dapat melihat agama dan ajarannya sebagai pilihan sekaligus pegangan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

Agama Islam mengajarkan bahwa untuk mendapatkan ridla dan keterdekatan dengan Tuhan, seorang muslim dituntut untuk selalu berusaha semaksimal mungkin tanpa kenal lelah. Apalagi dalam diri manusia terdapat beberapa unsur yang dapat menopang antara satu dan lainnya, yaitu hati, akal, dan nafsu. Namun, apabila tidak ada suasana sinergis antara mereka dipastikan manusia tidak akan mampu melaksanakan upaya dan usaha untuk dapat berdekat-dekatan dengan Tuhannya, Allah Sang Maha Kasih dan Sayang.

Dalam tasawuf, usaha serius dan maksimal dalam rangka mencapai derajat yang tinggi yaitu betemu dan mendapat ridla Allah, dikenal dengan istilah riyâdlah al-nafs atau dikenal dengan latihan kejiwaan dan usaha batin. Riyâdlah dapat dipahami sebagai upaya serius dan sungguh-sungguh seseorang dalam mewujudkan hakikat diri dan zat manusia. Hal ini karena jiwa mempunyai peran yang sangat penting dalam kehidupan dan padanya bergantung nasib baik dan buruk manusia di dunia dan di akhirat.

Al-Ghazâlî dalam Misykah al-Anwâr, mengartikan riyâdlah al-nafs sebagai latihan serius manusia sebagai  proses penjernihan hati agar menjadi seperti kaca yang bening tembus cahaya (nûr) agar tidak menghalangi masuknya cahaya dari Allah.  Pandangan ini didasari keyakinan bahwa hati manusia seperti kaca, sedangkan dosa dan keburukan sifat manusia ibarat noda yang mengotori kebeningan kaca sehingga kaca tersebut menjadi tidak tembus pandang atau menghalanginya dari cahaya yang datang dari luar.

Riyâdlah tidak hanya terkait erat dengan persoalan akhlak yaitu sebagai pola pembentukan manusia yang berkualitas saja, akan tetapi juga berhubungan dengan usaha seseorang untuk mendekatkan diri kepada Allah. Allah tidak dapat didekati orang-orang yang jiwanya tidak suci karena Allah adalah Tuhan Yang Maha Suci, yang  hanya dapat didekati oleh orang-orang yang berjiwa suci pula.  Tingkat kedekatan (qurb), pengenalan (ma’rifat), atau tingkat kecintaan (mahabbah) manusia kepada-Nya sangat bergantung pada kesucian jiwanya.

Banyak pendapat yang mengatakan bahwa kualitas seseorang dapat dilihat dari penampilan akhlaknya.  Orang yang jiwa dan akhlaknya dekat dengan Allah  berarti orang tersebut sehat jiwanya. Ia mempunyai kedudukan yang terhormat di sisi Allah. Sebaliknya, orang yang berprilaku buruk dan bermental jelek menandakan bahwa orang tersebut menyimpang dari hakikat kemanusiaannya.

Kualitas dan kesempurnaan akhlak ini dapat dicapai dengan melatih diri dalam setiap aktifitasnya. Latihan tersebut dapat dimulai dengan menghentikan perbuatan yang tercela, selanjutnya dengan mengisi dengan perbuatan yang baik dalam setiap amalan ibadah. Hal ini dilakukan mengingat latihan amal ibadah sangat penting karena tujuan amal ibadah itu sendiri adalah untuk mengingat Allah, mensucikan jiwa dan memperindahnya, sehingga muncul kecintaan kepada Allah dan secara berlahan kecintaan terhadap dunia akan sirna.

Pembentukan akhlak yang mulia pada diri seseorang mutlak membutuhkan riyâdlah dan mujâhadah. Bersungguh sungguh melatih kebiasan baik akan sangat  berguna  bagi  pembentukan   karakter  seseorang.  Akhlak pada dasarnya merupakan citra yang dibentuk karena pembiasaan perbuatan-perbuatan seseorang. Jika pembiasaan itu penuh dengan nuansa kebaikan, maka citra baik akan ada pada diri pelaku kebaikan tersebut. Namun, apabila pembiasaan akhlak dihiasai dengan prilaku yang negatif, maka citra negatif juga akan mengikuti pelaku perbuatan negatif tersebut.[]