Puasa dan Integritas Ihsan


Puasa dan Integritas Ihsan
Oleh Dr. H. Imam Taufiq, M.Ag

Puasa sering disebut sebagai ibadah yang amat pribadi. Artinya, suatu ibadah yang tidak mungkin disertai oleh orang lain dan tidak diketahui hakikatnya oleh orang lain. Sebab, siapakah yang mengetahui bahwa seseorang itu berpuasa selain Allah dan yang bersangkutan sendiri. Inilah makna dari hadis qudsi bahwa puasa itu adalah milik Allah dan Allah pulalah yang menanggung pahalanya. Ketika seseorang tetap puasa dengan menahan lapar dan dahaga, maka tidak lain karena dia menyadari sepenuhnya akan kehadiran Allah dalam hidupnya di mana saja dan kapan saja dan dia yakin Allah meyakini tingkah lakunya.

Menghadirkan Tuhan dalam diri adalah inti dari ihsan, sebuah konsep keagamaan yang menjadi bagian tak terpisahkan dari iman dan islam. Ihsan berasal dari kata husn yang bermakna setiap kualitas positif yang berupa kebajikan, kejujuran, keindahan, keramahan, kesenangan, keserasian, dan keserasian. Menurut al-Biqa’i (1995) perbuatan ihsan antara hamba dengan Allah adalah dengan leburnya dirinya, sehingga dia hanya melihat Allah swt. karena itu pula ihsan antara hamba dengan sesama manusia adalah ketika dia tidak melihat lagi dirinya dan hanya melihat orang lain itu. Kesadaran atas kehadiran Tuhan menjadikan seseorang selalu ingin berbuat sebaik mungkin dan memperlakukan pihak lain lebih baik dari perlakuannya terhadap dirinya, bukan sekedar memperlakukan orang lain sama dengan perlakuannya terhadap dirinya.

Ihsan menghendaki manusia menyadari kehadiran Allah dan berperilaku dengan sebaik-baiknya, bahkan ihsan juga menuntut berpikir, merasa, dan berniat secara baik pula. Tidak boleh ada pertentangan antara apa yang dipikirkan manusia dengan apa yang dikerjakannya atau antara diri mereka sendiri dengan apa yang ada dalam pikiran mereka. Kepribadian manusia membutuhkan keharmonisan, keseimbangan, dan keutuhan tanpa kecenderungan dan gejolak yang mendorong menuju sejumlah arah yang saling bertentangan.

Dengan demikian, ihsan sebenarnya berisi pesan-pesan kesalehan dan moralitas kemanusiaan. Mewujudkan relasi antar manusia yang berbasis kesalehan dan nilai moral adalah misi kenabian Muhammad: ”innama bu’istu liutammima makarim al-akhlaq” (Aku diutus Tuhan untuk menyempurnakan budi pekerti yang terpuji). Maka secara implementatif, ihsan mengajarkan kejujuran, ketulusan, kesabaran, kesederhanaan, kedermawanan, kedamaian, tidak mencaci-maki, tidak melakukan penyelewengan hak orang lain, tidak kikir dan lain sebagainya.

Perbuatan baik atas dasar keyakinan akan adanya Sang Pengawas yang Maha Melihat inilah yang tampaknya telah menjadi problem utama kemusiaan dewasa ini. Jika seseorang meyakini dan mengimplementasikannya dalam kehidupan keseharian, pastilah akan damai kehidupan kemasyarakatan. Tidak ada intrik, keculasan, tipu daya, korupsi, konflik dan bentuk-pentuk penyelewengan dari kodrat kemanusiaan. Bahkan,mustahil akan munculnya kedengkian dan berburuk sangka atas eksistensi orang lain.

Bagi manusia yang mampu memahami kebesaran Allah dan kekuasaan-Nya akan semakin menguatkan keyakinan bahwa segala sesuatu adalah pemberian Allah Yang Maha Kuasa. Inilah profil integritas ihsan yang tidak lain adalah tujuan yang segala bentuk peribadatan. Puasa akan mampu melatih seseorang mengasah potensi ihsan dalam menggelar segala bentuk kebajikan yang pada gilirannya mengantarkan pada derajat muttaqin.