Implementasi Budaya Damai Pesantren dalam Kehidupan Berbangsa


Bedah Buku Al Quran Bukan Kitab Teror

Bedah Buku Al Quran Bukan Kitab Teror

Disampaikan oleh KH. Ahmad Badawi Basyir

Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang majemuk, dengan beraneka ragam budaya, agama, keturunan dan pola pikir masyarakat yang ada. Namun, perkembangan zaman yang semakin maju dan sekan tak mau berhenti memberikan efek yang cukup kuat bagi kebiasaan yang ada di Indonesia. Budaya dunia dan gaya hidup modern telah mengerogoti dan hamper melenyapkan adat ketimuran dari cirri khas Indonesia sendiri.

Maka, bangsa Indonesia membutuhkan benteng pertahanan agar kebudayaan yang selama ini telah terjaga tidak hilang begitu saja. Terutama masalah agama, sebagaimana yang kita tahu banyak hal yang akan terus diperbincangkan dan tidak akan da habisnya jika membahas soal agama. Lebih-lebih saat ini banyak sekali aliran-aliran radikal maupun liberal yang mengatasnamakan agama, terfokus pada Islam.

Pada kasus ini, pesantren memiliki peran penting dalam menyikapi masalah yang ada. Dengan memfokuskan pembelajaran pada generasi muda, santri maupun mahasiswa yang nyantri. Dimana didalam pesantren ada asrama, kyai, santri, majlis ta’lim, kurikulum, kode etik dan masyarakat. Pesantren di Indonesia telah ada sejak dulu kala, dimana para petinggi-petinggi negara belajar apa saja di pesantren, pondokan merupakan input orang hebat. Anak raja belajar di Sunan Ampel, pagurun agung di Kudus, dan nelayan di Demak.

Kyai berasal dari artian barang yang bagus, dimana di sebuah pesantren Kyai merupakan sumber utama dan menggambarkan corak dari pesantren itu sendiri. seorang Kyai haruslah pintar, kaya dan mempunyai kedudukan, mempunyai istri yang juga berjuang didalam mengajarkan ilmu Allah, dan keluarga yang baik-baik. Dengan demikian, pesantren yang dikekolanya dapat berjalan dengan lancar.

Santri merupakan peserta didik yang menyerap, mendalami serta mengamalkan ilmu. Sekarang ini banyak santri yang juga tidak hanya belajar ilmu agama saja, tetapi juga ilmu-ilmu ilmiah dengan mereka kuliah sambil nyantri. Santri yang berda di wilayah kampus harus waspada dalam menyikapi semua tantangan yang ada an bersikap dengan baik. Jangan sampai menjadi sarjana yang tidak bermanfaat untuk bangsa sendiri.

Kurikulum pesantren berorientasi pada Tafaqquh Fiddien, Ahlaqul karimah, dan memiliki nilai-nilai moral yang lebih baik dengan misi Rahmatallilalamin. Tak lupa praktikkan dalam aqwal, af’al dan ahwal. Lingkungan pesantren juga menjadi sangat penting dalam mentransformasikan nilai-nilai luhur agar pesantren agent of change.

Budaya damai di pesantren dengan mudah saling memaafkan. Karena sebaik-baiknya orang didunia dan akhirat adalah tiga hal : 1. sambunglah orang yang pernah putus hubungan denganmu; 2. maafkan orang yang mendholimimu; 3. berilah orang yang pernah menghalangi jalan rizqimu. Sundut pandang orang tentang Kyai dan santri merupakan orang atau komunitas yang pandai, toleran terhadap perbedaan dan sederhana dalam menjalani kehidupan. Tawadu’a seorang santri dan Kyai menjadi nilai istimewa yang terjadi, Ulama besar Kyai Kholil pernah berkata pada Pak Haysim “ Kalau mencari ilmu khitmah denganku, menurut dengaku sampai anak cucumu tujuh keturunan”.

Menghadapi perbedaan yang bermunculan saat ini. Maka, sebagai santri kita harus pintar dalam memilah dan memilih mana yang benar dan salah. Karena santri merupakan aset dinamika yang membuat adanya perbedaan. Jadilah santri yang sehat dan jangan menjadikan pesantren hanya tempat asrama dimana dapat sering pulang, tidak pernah berganti teman (kurang bergaul) dan bersikap toleran dengan tidak melanggar batas yang ada.

(Not.Adila)