Meretas Kembali Citra Pesantren


“Pesantren‟, istilah yang tak begitu asing di telinga. Hingga memunculkan berbagai macam stigma. Sebagian ada yang memuji, dan tak jarang yang mencela.

Zaman yang serba canggih ini, tak dapat dipungkiri bahwa masyarakat harus fis a fis dengan era globalisasi. Efek yang ditimbulkan, tentu sangat membahayakan, baik bagi masyarakat, ataupun remaja pada khususnya. Mereka terombang ambing dengan perubahan zaman. Gaya hidup yang penuh materi dan terkesan konsumeristik.

Melihat kenyataan tersebut, tentu populari-tas Pesantren yang merupakan “warisan” lem-baga pendidikan Islam tertua dan asli Indonesia (indigenous) berada pada taraf mengkhawatir-kan. Pasalnya, masyarakat berasumsi bahwa pesantren identik dengan lembaga pendidikan second class, tidak maju, dan kumuh. Tidak ada pengakuan yang sah dari pemerintah ketika santri sudah lulus. Sehingga muncul pertanyaan “Mau jadi apa kelak jika sudah lulus dari pe-santren?”

Asumsi ini diperparah dengan rendahnya animo masyarakat menengah atas (upper middle class) pada sistem pendidikan pesantren. Alhasil, distorsi terjadi dalam berbagai lini ke-hidupan, seperti agama, akhlak, identitas,dan lifestyle.

Kontribusi Pesantren

Berangkat dari persoalan tersebut, perlu diketahui bersama bahwa pesantren merupakan lembaga yang berperan penting dalam sejarah bangsa. Peran para Kyai yang merupakan pemangku pondok pesantren pada saat penjaja-han, sudah tak diragukan lagi. Pun begitu, banyak ulama dan tokoh besar yang lahir dari rahim pesantren.

Sosok tersebut diantaranya, K.H Abdurrah-man Wahid atau lebih akrab disapa Gus Dur. Gus Dur merupakan Bapak Pluralisme Indonesia yang merupakan jebolan pondok pesantren Tambak Beras Jombang. Seorang santri yang pernah menjabat sebagai orang pertama di Indonesia. Selain itu, juga ada KH. Hasyim Asy‟ari. Kyai yang sangat gigih menentang pen-jajahan dan memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Hal ini menjadi bukti bahwa pesantren memiliki sumbangsih terhadap kema-juan bangsa.

Dengan begitu, di zaman krisis multidimen-si ini, pesantren diharapkan menjadi terobosan untuk membentuk pribadi yang unggul dengan berpedoman pada syariat ajaran islam. Pesantren diharapkan mampu menjadi tempat pusaran keilmuan dan persinggahan intelektual sehingga mewujudkan ulama’ dan umaro’ yang amanah.

(Hanita, Ay/Red.)

*Tulisan ini pernah diterbitkan di AL Qalam Edisi I/ Februari 2015*

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>