Tirakat Santri: Jiret Weteng, Nyengkal Mata


syaikh ahmad basyir 002

Sebagai santri sudah seharusnya memiliki semangat juang. Berjuang dalam mencari ilmu, berjuang hidup sederhana di pesantren, hingga berjuang mencari jati diri dan berproses mendewasakan diri selama nyantri atau mengabdi kepada Kiainya.

Dalam sambutannya pada acara pembukaan TOS (Ta’aruf Orientasi Santri) PP. Darul Falah Besongo Semarang, Abah Prof. Dr. KH. Imam Taufiq, M.Ag. selaku pengasuh menyampaikan beberapa poin penting terkait santri dan kepesantrenan:

Meminjam istilah dari KH. Ahmad Basyir, Allahu yarham. “Jiret weteng, nyengkal mata.” (Menahan perut, menjaga mata). Pertama, yang dimaksud dengan menahan perut adalah berpuasa. Dengan membiasakan diri berpuasa, baik puasa wajib ataupun sunnah merupakan langkah awal menjaga teguh keimanan, disamping banyaknya manfaat berpuasa diantaranya menyehatkan raga dan ruhani juga bertujuan untuk bertaqarrub kepada Sang Pencipta.

Boleh jadi salah satu sosok ulama kharismatik Kudus yaitu KH. Ahmad Basyir adalah panutan yang tepat. Disamping tekun berpuasa dan melakukan riyadhah sejak muda, Mujiz Dala’il Khairat tersebut juga sosok yang gemar bertirakat dan berdzikir.

Kedua, nyengkal mata (menjaga mata) yaitu senantiasa meluangkan waktu untuk melakukan hal-ihwal yang bermanfaat. Diantaranya mendawamkan dzikir, menambah pengetahuan dengan banyak membaca lektur dan melakukan aktivitas yang berfaedah. Seperti yang dilakukan KH. Ahmad Basyir sewaktu muda bahkan hingga masa sepuhnya yang sering berkelana disekitar Kudus untuk sekadar silaturrahmi dan tabarrukan dengan para ulama dan Masyayikh.

Beliau juga istiqomah berziarah ke makam para Kiai dan gurunya. Hal ini menegaskan bahwa nyengkal mata tidak hanya bermakna membuat diri kita terjaga dengan melakukan hal-hal yang sia. Bukan berarti yang sebaliknya, semisal meluangkan banyak waktu untuk sekadar nongkrong, ngobrol ngalor-ngidul yang riskan dengan membicarakan orang lain (ghibah).

Demikianlah, sebagai seorang santri haruslah menerapkan sikap prihatin, sederhana dan tawadhu. Sederhana itu tidak dilihat dari apa yang dimiliki (materi), tapi dari bagaimana cara berpikir, pekerti dan upayanya dalam berproses di kehidupan sehari-hari.

| Aniq Muhammad | Penulis adalah santri Besongo Asrama B17 |

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>