Membaca Maulid itu Tidak Mendapat Pahala!


muhammad

Pembacaan Maulid Al-barzanji ataupun Maulid Ad-diba’i sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Muslim, sering terdengar pembacaan maulid di masjid atau mushola di setiap malam Senin, atau malam Jumuah. Selain itu, dalam acara-acara kemasyarakatan, semisal tasyakuran kelahiran bayi, pembacaan maulid nabi tak pernah ketinnggalan untuk dibaca. Belum lagi ketika di bulan kelahiran Nabi Muhammad Saw, rabi’ul awwal. Setiap hari selalu didendangkan pembacaan sholawat dan maulid nabi Muhammad Saw. Sebagai bentuk mencintai dan mengagungkan hari kelahirannya.

Pembacaan maulid yang sudah membudaya sedemikian rupa, sebenarnya termasuk dalam tataran khilafiyyah. Sebagian kelompok meyakini bahwa membaca maulid merupakan hal yang dianjurkan. Sebagian yang lain melarang pelaksanaannya secara tegas karena tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah saw.
Terlepas dari semua perdebatan tentang boleh tidaknya tradisi pembacaan maulid. Sebagaimana judul di atas. Sejatinya, pembacaan maulid -maulid disini adalah sebagaimana albarzanji yang merupakan sekumpulan kisah perjalanan hidup Nabi Muhammad, umumnya berupa bahasa Arab merupakan hal yang tidak berpahala, jika maulid tersebut hanya dibaca saja. Tanpa ada niatan men-tadabburi makna-maknanya, maka pembacaan semacam ini, dalam kajian fiqh dianggap tidak berpahala.

Bagaimana mungkin pembacaan maulid nabi dianggap tidak berhala? Jika kita bandingkan, kitab samawi seperti Taurat ataupun kitab Injil saja, yang merupakan wahyu dari Allah juga tidak akan mendapat pahala jika hanya dibaca tanpa disertai memahami maknanya, apalagi buku-buku maulid yang merupakan karangan ulama. Jika tanpa ada usaha apa-apa, hanya membaca saja, maka tentu tidak mendapat pahala. Karena,Satu-satunya kitab yang tetap mendapat pahala dengan hanya membacanya tanpa mengetahui maknanya hanyalah Alquran. maka tidak salah jika penulis menyebut bahwa maulid diba’i dan maulid albarzanji misalnya, jika hanya dibaca saja, maka tidak berpahala.

Mungkin akan terlintas dipikiran pembaca, apakah pembacaan mulid nabi selama ini sia-sia? atau mulai terbersit keinginan untuk tidak lagi membaca maulid? tentu saja tidak demikian, pemaparan tentang pembacaan maulid yang tidak berpahala disini adalah sebagai ajakan agar kita tidak hanya membaca saja namun tetap perlu belajar dan meresapi makna-makna dari apa yang kita baca. Berniat belajar, menggali serta meneladani sifat-sifat Nabi Muhammad dalam maulid tersebut.

Bagi orang-orang yang kesulitan memahami makna dari kisah yang dibaca. Maka, niatan dia untuk hadir dalam majlis Maulid Nabi, sebagai bentuk cinta kepada sang baginda nabi disertai membaca sholawat di majlis tersebut sudah memiliki nilai pahala tersendiri. Maka, bagi orang-orang yang setuju dengan maulid, tentu tidak ada salahnya untuk tetap menjaga tradisi pembacaan Maulid Nabi dengan memberikan nuansa baru; bukan hanya membacanya saja, akan tetapi juga disertai dengan memahami makna-maknanya. Sehingga manfaat nyata dari momentum pembacaan Maulid Nabi Muhammad saw dapat berdampak secara nyata terhadap siapa saja yang membacanya. Allahumma sholli ‘alâ sayyidinâ Muhammad.

Muhammad Faiq Azmi | Penulis adalah santri Asrama B17.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>