Menjadikan Semua Hari Untuk Ibu


Oleh Dr. H. Imam Taufiq, M.Ag

Membincangkan sosok ibu, sesuatu yang tak berujung. Betapa peran dan posisi seorang ibu, cukup strategis yang tak tergantikan oleh siapa pun. Sebuah syair yang mencoba merangkum dan mewakili makna tersebut di antaranya “Al ummu madrasatun” Ibu adalah pendidik utama generasi muda. Dengan hati, jiwa, perasaan, pikiran dan tangannya yang penuh ketulusan dan kasih sayang, berhasil mencetak manusia-manusia pilihan yang menjadi pemimpin yang handal.

Karena itu, sebagai bagian dari penghormatan kepada sang ibu, seyogya semua insan membaktikan dirinya untuk kebahagiaan ibu, menyenangkan ibu dan mengantarkan ibu kepada kebiakan yang sejati. Sikap ramah dan sntun dalam segala hal, tidak membuat ibu sakit, tidak membuat ibu susah, tidak memuat ibu gundah harus menjadi bagian dari keseharian anak bangsa.

Merayakan hari ibu, bukan hanya pada hari ibu saja, tapi merayakannya pada setiap hari dengan penuh rasa bakti dan sayang kepada ibu. Peringatan Hari Ibu janganlah berhenti di tanggal 22 Desember saja, hanya dengan memberi ucapan selamat atau hadiah kepada sang ibu. Akan tetapi peringatan Hari Ibu haruslah menjadi momen perenungan terhadap semua perilaku dan pengabdian kepada wanita yang telah melahirkan. Karena apresiasi terbaik bagi seorang ibu bukan seberapa sering mengucapkan terimakasih dan permintaan maaf saja, akan tetapi pada seberapa besar usaha kita dalam mewujudkan pengharapan yang telah beliau lantunkan dalam setiap do’anya.

Selain digunakan sebagai momen apresiasi terhadap jasa seorang ibu, yang telah ikut andil dalam pembentukan karakter penerus bangsa. Momen peringatan Hari Ibu juga bisa dimaknai sebagai bentuk evaluasi diri kita masing – masing mengenai segala hal yang telah kita perbuat untuk ibu dan sebagai bentuk refleksi tentang seberapa besar perjuangannya untuk kita dan seberapa besar kita mampu untuk membalasnya.[]