Pesan Damai al-Qur’an


Sunnatullah=Pluralitas

Manusia tidak bisa dipisahkan dari kehidupan yang plural. Begitu juga di Indonesia, keragaman dalam berbagai sisi mewarnai kehidupan masyarakat Indonesia. Baik itu keragaman makanan, bahasa, suku, ras, maupun agama. Keragaman yang ada tersebut menimbulkan dua hubungan yang saling bertentangan. Di satu sisi, keragaman yang ada dapat menjadi sebuah keindahan dalam hubungannya yang harmonis. Di sisi lain, keragaman dapat menimbulkan konfrontasi yang meresahkan. Dalam hal ini yang sering terjadi adalah keragaman agama, dimana memang terdapat berbagai agama di Indonesia. Hubungan antar agama sering diuji, seperti penyerangan antar kelompok agama, pengeboman tempat ibadah hingga perang di media sosial. Padahal tidak dapat dipungkiri bahwa manusia selalu hidup dalam keragaman. Oleh sebab itu, manusia sebagai Khalifatullah fi al-ardl harus bisa menjaga keseimbangan bumi agar dapat hidup dalam perdamaian yang menjadi tujuan Islam.

Kondisi plural yang telah menjadi sunnatullah ini mengindikasikan bahwa manusia harus saling berinteraksi dengan kelompok lain, saling menghormati dan bersikap toleran antar kelompok, mengembangkan sikap hidup berdampingan (koeksistensi), dan berinteraksi dengan tanpa keinginan untuk menimbulkan konflik. Hidup berdampingan dan secara damai dengan yang lain sebagaimana termaktub dalam al-Qur’an harus mampu diwujudkan. Perintah itu terdapat dalam surat al-Hujuraat (49): 13 berikut :

 

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ (١٣)

 

Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”

 

Kalimat “berbangsa-bangsa” dan “bersuku-suku” merupakan fakta perbedaan atau pluralitas, sementara “untuk saling mengenal” (ta’aruf) adalah pemahaman tentang keragaman. Manusia selalu berbeda dengan yang lain baik dalam ras, bahasa, keyakinan, dan lain-lain. Setiap kelompok juga tidak dibenarkan merasa paling unggul dan menganggap kelompok lain sebagai tidak berarti, melainkan yang dianjurkan adalah saling mengenal satu dengan yang lainnya.

 

Damai sebagai dambaan manusia

Kehidupan yang damai menjadi dambaan setiap manusia meskipun dalam kondisi yang heterogen. Hal itu akan tercapai jika setiap manusia memiliki sikap saling menerima dan memahami perbedaan secara positif. Selain itu, setiap orang dan kelompok masyarakat harus menghindari sikap diri merasa yang paling tinggi, paling baik, dan paling benar, serta membuka sekat-sekat kehidupan yang menghalangi kebersamaan. Pesan mengenai sikap-sikap manusia dalam hubungan hablun min annaas dengan penuh perdamaian dan dilarang berperang dapat dilihat dari perintah-Nya dalam Q.S Al-Maidah (5): 32

مِنْ أَجْلِ ذَلِكَ كَتَبْنَا عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنَّهُ مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الأرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا وَلَقَدْ جَاءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِالْبَيِّنَاتِ ثُمَّ إِنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ بَعْدَ ذَلِكَ فِي الأرْضِ لَمُسْرِفُونَ (٣٢)

Artinya: “Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, Maka seakan-akan Dia telah membunuh manusia seluruhnya. dan Barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, Maka seolah-olah Dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. dan Sesungguhnya telah datang kepada mereka Rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi.”

 

Al-Qur’an mengajarkan perdamaian karena Rasulullah diutus sebagai menyampai pesan untuk memperbaiki akhlak manusia dalam mengemban tugas sebagai penyeimbang bumi. Selain itu, Islam merupakan agama yang mengajarkan teologi anti-kekerasan dan menyerukan kedamaian atau rahmatan lil’alamin (kasih sayang untuk seluruh umat). Sebagaimana diperintahkan untuk saling menjaga dan mempererat tali persaudaraan dalam QS al-Hujuraat (49): 10 berikut:

 

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ (١٠)

 

Artinya: “Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.”

 

Selanjutnya, manusia dilarang mencela dan mengolok-olok sesama agar tidak menimbulkan konflik dalam menjalani kehidupan di bumi, sebagaimana terdapat dalam QS. Al-Hujuraat (49): 11 berikut:

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا يَسْخَرْ قَومٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلا تَنَابَزُوا بِالألْقَابِ بِئْسَ الاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الإيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ (١١)

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah imandan Barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.”

 

Perintah dari ayat-ayat di atas adalah untuk mewujudkan perdamaian dan persaudaraan. Jika manusia sudah bersaudara, maka tatanan beragama yang damai dan penuh kasih dapat terwujud. Pada dasarnya, al-Qur’an diturunkan untuk menciptakan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Kebahagiaan itu dicapai dengan hablun min allah, hablun min an-naas serta hablum min al-alam. Perdamaian itulah yang menjadi jalan untuk mencapai ketiga hubungan tersebut: hubungan kepada Allah, kepada sesama manusia dan alam.

 

(Tutik S.)