Meneladani Sosok Nabi Akhirus Zaman


kaligrafi-muhammad-saw-300x300

 

Kehadiran Rasulullah menjadi inspirasi paling sempurna bagi seorang muslim dalam menjalani realitas hidupnya. Shalahudin al-Ayyubi, panglima agung muslimin dan teman perjuangan Muzhaffar dalam Perang Salib, menggunakan tradisi pembacaan sejarah Nabi sebagai strategi untuk memotivasi pasukannya. Ada sisi-sisi sejarah Nabi yang memberikan gambaran sempurna sebuah jiwa heroik dan ksatria. Maka, al-Ayyubi meletakkan Rasulullah sebagai idola militer tentara melalui tradisi pembacaan sejarahnya.

Pembacaan sejarah untuk melahirkan tokoh di masa lampau merupakan salah satu filosofi dari disiplin sejarah itu sendiri. Dalam tradisi perayaan maulid, hal itu sangat kental. Bahkan, tidak hanya melahirkan tapi juga menyadarkan kembali bahwa hanya ada satu tokoh kunci dan super idola dalam keyakinan kita, yakni Nabi Muhammad saw.

Maulid Nabi yang terus diperingati setiap tanggal kelahiran beliau bukan hanya sebuah kesemarakan seremonial belaka, tapi sebuah momen spiritual untuk menjadikan beliau sebagai figur tunggal yang mengisi pikiran, hati dan pandangan hidup manusia.

Perayaan maulid bukan hanya sebuah upacara. Melainkan, perenungan dan pengisian batin agar tokoh sejarah tidak menjadi fiktif dalam diri kita, tapi betul-betul secara konkrit tertanam, mengakar, menggerakkan detak-detak jantung dan aliran darah ini.

Memperingati maulid Nabi Muhammad merupakan indikasi bahwa Muhammad adalah sang teladan. Menjadikan Muhammad sebagai teladan berarti berkonsekuensi untuk mengimitate sifat-sifat luhur nan agung dari pribadi beliau, Sang legendaris islam. Diantara beberapa aspek yang dapat dijadikan teladan, yakni aspek spiritualitas. Dalam artian, sebagai umat pengagum Muhammad sudah selayaknya kita mengimplementasikan jiwa-jiwa ketuhanan yang termanifestasi dalam bentuk amal sholih.

Selain itu, dari aspek otoritas. Hal ini dapat terlihat dari kelihaian Muhammad dalam memimpin umat. Kala itu, Muhammad didaulat sebagai pucuk pimpinan tertinggi umat islam. Jadi, sudah sepatutnya sebagai umat yang rindu akan kehadiran gaya kepemimpinan Muhammad, mengimplementasikan sikap otoritatif sangat diperlukan dalam segala disiplin ilmu pengetahuan.

Selain kedua aspek tersebut, juga dari aspek integritas. Muhammad sang teladan merupakan sosok yang sangat menjunjung tinggi kejujuran, hingga beliau berjuluk Al-Amin. Bahkan, Mahatma gandhi pun mengakui kehebatan dan kejujuran Muhammad. Oleh karena itu, sebagai umat yang berharap mendapat syafaat beliau kelak, merupakan suatu keharusan bagi kita untuk senantiasa mengimplementasikan jiwa kejujuran sang Nabi akhiruz zaman.

(Imroatus)