Marhaban Ya Ramadhan


Oleh Dr. H. Imam Taufiq, M.Ag

Ramadhan telah tiba, Ramadhan telah tiba. Begitu salah satu kalimat yang sering muncul di saat bulan yang digadang-gadang sebagai bulan suci penuh berkah datang lagi. Bermacam respon umat Islam menyambutnya, ada yang senang dan gembira karena tamu yang dinanti telah hadir dengan banyak kelebihan dan keistemewaan dibanding bulan yang lainnya. Ada yang gembira campur susah karena bulan bulan beribadah ini hadir bersamaan dengan melonjaknya kebutuhan barang-barang pokok. Ada juga yang sepenuhnya sedih karena tidak mampu mengisinya dengan amal ibadah yang positif karena kondisi dan problem yang menghimpitnya. Bahkan mungkin masih banyak respon lain yang menggambarkan penerimaan terhadap tamu agung yang disebut Ramadhan ini.

Menyambut tamu memang harus dengan suasana hati yang lapang dan ikhlas dengan niat menghormatinya. Karena itu, penyambutan sering menggunakan istilah marhaban atau selamat datang. Kata marhaban berasal dari kata rahb yang berarti luas atau lapang. Menyambut tamu harus dengan suasana hati yang gembira dengan penerimaan yang total, tidak merasa berat dan tidak susah. Ungkapan kegembiraan ini patut diberikan kepada tamu yang memang benar-benar layak untuk disambut karena kemuliaan dan keistimewaannya. Apalagi, kehadiran tamu itu akan memberikan ketentraman, kenyamanan dan keuntungan yang luar biasa bagi sang penyambut. Marhaban ya Ramadhan, selamat datang bulan suci Ramadhan, berarti menyambut dengan penuh kegembiraan dan mempersiapkan diri untuk instropeksi diri mengasah kapasitas jiwa dalam memberikan konstribusi kedamaian kepada umat.

Bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat terhormat dan mulia. Kehormatan dan kemuliaan ini bukan saja karena pada bulan ini sumber kebenaran dan bimbingan, yaitu kitab suci al-Quran diturunkan (Q.S al-Baqarah/2: 185), akan tetapi disebutkan dalam Hadist Nabi bahwa di bulan ini pintu surga dibuka (HR Bukhari-Muslim dari Abu Hurairah). Karena inilah, umat Islam gegap gempita menyambutnya dengan penuh harap untuk mendapatkan keberkahannya. Keistimewaan bulan ini akan mempu mengantarkan kejernihan hati dan pensucian diri setelah sebelas bulan bergelimang noda dan dosa. Sudah saatnya umat Islam membersihkan diri untuk kembali kepada nilai-nilai yang selaras dengan ajaran Sang Maha Suci, Tuhan Penerima Taubat.

Ketika pintu surga dibuka, sesungguhnya inilah momentum untuk memasukinya. Orang-orang berlomba untuk menerobos masuk. Maka sabda Nabi Muhammad ”Semua umatku akan masuk surga, kecuali mereka yang tidak mau.” Barangkali tidak ada orang yang menjawab tidak mau atau tidak ingin masuk surga. Akan tetapi perlu disadari bahwa seringkali mulut tidak sama dengan hati, atau bahkan mulut tidak sama dengan perbuatan. Ketidak-konsistenan inilah yang berpotensi menyebabkan seseorang tidak akan mendapatkan rahmat Tuhan. Lisan, hati dan perbuatan adalah tiga serangkai kekuatan manusia. Keberhasilan seseorang menggapai kemurahan dan kasih sayang Tuhan amat bergantung pada kesamaan antara lisan, hati dan perbuatan. Lisan bisa mengucap saya orang baik, saya dapat dipercaya misalnya. Namun bisa jadi hati kita tertawa mendengarnya bahkan mungkin sedih yang mendalam karena lisan yang berbeda itu. Belum lagi, jika perbuatannya bertolak bertolak belakang dengan kalimat yang keluar dari lisan itu.

Itulah mulut dan lisan yang sering kali berbeda dan berlawanan dengan hati atau tindakan. Mulut berkomentar dan mengkritik kelemahan orang lain secara terbuka dan keras, akan tetapi tindakannya justru terus melakukan apa-apa yang disampaikan itu. Kadang seseorang meminta untuk menghormati bulan suci Ramadan, tetapi prilakunya justru menodainya. Allah SWT dalam mengingatkan kepada umat Islam agar melakukan sesuatu secara konsisten dan selaras, sebab kelak di hari kiamat, mulut-mulut kita dikunci dan tangan-tangan kita yang berbicara, kaki-kaki kita yang bersaksi (Q.S. Yasin/36: 65).

Karena itu, bulan Ramadhan ini harus disambut dengan penuh kegembiraan dan antusias tinggi, karena ia akan menjadi momentum untuk evaluasi dan berbaikan diri. Bulan Ramadhan sesungguhnya adalah bulan peningkatan mutu ibadah dan kualitas amal perbuatan. Sudah saatnya orientasi keagamaan ditingkatkan dengan kesesuaian hati, lisan dan perbuatan. Semangat inilah yang akan mengantarkan umat Islam mencapai derajat orang yang bertaqwa. Selamat datang bulan suci Ramadhan, marhaban ya Ramadhan.[]