Menumbuhkan Tradisi Literasi


Oleh Dr. H. Imam Yahya, M.Ag

Menurut catatan cendikiawan muslim Muhammad Abid al-Jabiri, tradisi Islam adalah tradisi teks. Tidak ada ajaran dalam Islam kecuali ada dalil yang termaktub dalam teks Al-Qur’an, Hadits maupun dalil-dalil yang diintrodusir dari kedua sumber utama Islam tersebut.

Munculnya berbagai kitab hukum Islam dari para imam madzhab seperti madhab Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafii dan Imam Hambali, memberikan pelajaran bagi kita semua bahwa tradisi literasi di masa Islam awal yakni para sahabat, tabiin dan tabiit tabiin sangat bermanfaat bagi umat Islam hingga sekarang ini.

Tradisi dari para tabit tabiin dan para pengikutnya hingga sampai di Indonesia bisa kita lihat tulisan para pujangga muslim Indonesia seperti Imam Nawawi al-Bantani yang terkenal dengan kitab tafsir Mirahu Labid (al-Munir fi Maalimi al-Tanzil)-nya, Kyai Bisri Mustofa dengan kitab Tafsirnya, al-Ibriz li Ma’rifah Tafsir al-Qur’an al-Aziz, Kyai Saleh Darat dengan Majmu’at al-Syariat al-Kafiyat lil Awam dan sejumlah mufassir di Indonesia sekarang ini.

Tak banyak yang tahu siapa sebenarnya Kyai Saleh Darat, Kyai Bisri Mustofa (kakek Gus Mus) dengan berbagai karya monumentalnya, karena tradisi baca tulis masyarakat muslim kita belum maksimal. Kita tidak terlalu Banyak di antara kita yang belum mengapresiasi tulisan-tulisan para pujangga muslim, karena memang tradisi yang banyak berkembangan bukan tradisi baca dan tulis. Akan tetapi yang banyak diminati oleh masyarakat muslim Indonesia adalah tradisi mendengar (mustami).

Budaya baca dan tulis perlu dikenalkan kepada anak-anak yang sekarang ini masih berpendidikan SD, SMP, SMA bahkan di universitas. Karena dengan membaca maka akan kenal dengan berbagai ilmu pengetahuan baik masa lampau maupun masa sekarang ini. Membaca adalah kunci untuk mengenal dunia dan seisinya bagi setiap insan di dunia.

Banyaknya pelatihan jurnalistik di kalangan santri Pondok Pesantren atau Gerakan santri menulis yang diselenggarakan oleh pengelola surat kabar mengingatkan akan tradisi literasi yang dilakukan dalam pembelajaran agama di masyarakat kita.

Bagi para santri, mestinya tradisi literasi di bulan ramadlon bukanlah barang baru karena banyak pesantren yang menyelenggarakan pengajian pasaran selama bulan suci ramadlon. Pengajian pasaran adalah pengajian khusus di bulan ramadlon dengan cara Kyai membacakan sebuah kitab beserta penjelasannya, kemuadian santri membawa kitab masing-masing dan menuliskan beberapa penjelasan yang disampaikan sang Kyai.

Pengajian ini berlaku selama bulan ramadlon sehingga satu kitab, baik kecil maupun besar harus tammat sebelum hari idul fitri. Kitab setebal Ihya Ulumuddin, yang biasanya dibaca selama satu tahun harus diselesaikan dalam waktu kurang satu bulan. Kitab hadist yang sering menjadi andalan pasaran seperti kitab hadits al-Muwattha karangan Imam Malik juga dibaca selama bulan ramadlon.

Meski demikian tidak semua Kyai hanya pandai membaca kitab-kitab salaf, dibeberapa pondok pesantren para kyai memanfaatkan bulan suci ramadlon ini dengan menulis kitab atau buku berbahasa arab untuk dijadikan pedoman pembelajaran bagi para santrinya. Sebut saja misalnya di pesantren Pethuk Kediri yang terkenal dengan produksi kitab-kitab baru yang ditulis oleh para kyai da alumninya.

Inilah tulisan kreatif para Kyai dan alumni pesantren yang luput dari pemberitaan tetapi banyak menginspirasi sekaligus memicu masyarakat muslim untuk senantiasa mengembangkan ilmu pengetahuan tidak saja dengan cara ceramah atau mendengarkan ceramah, tetapi membaca buku-buku klasik dan modern sekaligus juga menuliskannya secara kreatif dalam buku-buku keagamaan. []

*Penulis adalah Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Walisongo Semarang