Relasi Fungsional Dalam Keluarga


Oleh Hj. Arikhah, M.Ag

Mendiskusikan isu relasi laki-laki dan perempuan seringkali menghasilkan keberbedaan pandangan, apalagi jika pemahaman dihasilkan dari teks keagamaan. Perbedaan ini tidak hanya karena beda tingkat pendidikan, pengalaman, budaya atau tradisi, akan tetapi juga karena salah memahami dan salah interpretasi terhadap teksnya.

Relasi laki-laki dan perempuan merupakan hubungan timbal balik antara keduanya, sebagaimana hubungan antara pasangan-pasangan lain dalam alam semesta. Hubungan ini sering disebut relasi gender. Relasi ini sering digugat ketika dalam kenyataan terjadi diskriminasi dan sikap negatif terhadap perempuan.

Memang tidak dapat disangkal, antara laki-laki dan perempuan terdapat berbedaan, minimal aspek biologis. “Janganlah kamu iri hati terhadap keistimewaan yang dianugerahkan Allah terhadap sebagian kamu atas sebagian yang lain. Laki-laki mempunyai hak atas apa yang diusahakannya dan perempuan juga mempunyai ha katas apa yang diusahakannya.” (QS. Al-Nisa/4: 32). Meski tidak dijelaskan detail perbedaannya, hal menunjukkan bahwa masing-masing memiliki keistimewaan, yang bermuara pada perbedaan fungsi utama yang harus dilaksanakan masing-masing.

Dalam kenyataan keseharian, laki-laki sering diunggulkan dengan peran lebih dominan. Sementara perempuan sering dijadikan obyek relasi tersebut. Dominasi peran laki-laki atas perempuan disebabkan karena minimhya akses ke sektor publik bagi perempuan. Akibatnya terbangun tradisi yang menggambarkan fungsi dan pembagian kerja berbasis seksual, yang pada gilirannya amat merugikan perempuan.

Pada dasarnya, al-Qur’an melihat bahwa gender tidak sekedar menjelaskan relasi ideal antara laki-laki dan perempuan, tidak pula relasi mereka dalam masyarakat, akan tetapi lebih dari itu, menjelaskan relasi harmonis antara manusia, alam dan Tuhan. Manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, jagad raya, bahkan makhluk terkecil seperti atom, tercipta secara berpasang-pasangan (azwaj) saling melengkapi dan menyempurnakan. “Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah.” (QS. Al-Dzariyat/51: 49).

Keesaan Allah sesungguhnya dapat dipahami bahwa setiap makhluk Allah diciptakan berpasang-pasangan dan hanya Allah-lah Tuhan Yang Tunggal. Hal ini karena Allah tidak membutuhkan pasangan. Dia yang Esa yang tidak dapat dibandingkan dengan apapun. “Tiada sesuatu yang menyerupai-Nya.” (QS. Al-Syura/42: 11)
Ibnu Arabi pernah menyatakan bahwa pada dasarnya perempuan berpotensi lebih utama dibanding laki-laki. Pertama, Adam diciptakan dari tanah yang konotasinya hina dan rendah, sementara perempuan dicipta dari tulang rusuk laki-laki (Adam), yang diyakini lebih baik dari tanah. Kedua, kedekatan perempuan kepada Allah lebih mulia daripada laki-laki. Perempuan mempunyai karakter hamba (‘abid/Ying) dan laki-laki memiliki karakter khalifah (Yang). Pemimpin yang baik tidak akan terwujud tanpa sebelumnya menjadi ‘abid. Ketiga, kepasrahan permpuan lebih tulus dibanding kegagahan laki-laki. Sifat pasrah akan cepat mengantarkan keharibaan-Nya, sementara kegagahan menjadi faktor memperberat dihadapan-Nya. Dalam ilmu tasawuf, pasrah (taslim) adalah syarat utama taqarrub kepada Allah. Jika tidak ada ketundukan dan kepasrahan dipastikan ibadah tidak efektif mendekatkan diri kepada Allah.

Hubungan laki-laki dan perempuan adalah relasi pasangan yang berkemitraan. Langit sebagai simbol laki-laki atau suami, ia akan mempengaruhi bumi yang menjadi simbol perempuan. Segala sesuatu yang berpasangan menjalankan fungsinya secara fungsional. Siang-malam menjalankan fungsinya masing-masing, matahari-bulan, panas-dingin, baik-buruk, surga-neraka, semuanya saling melengkapi dan membutuhkan.

Dengan demikian, relasi fungsional sesungguhnya merupakan pijakan keberpasangan. Maka QS. Al-Nisa/4: 34 yang menyatakan bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan, semestinya dijelaskan secara fungsional. Maksudnya, laki-laki dan perempuan adalah suami-istri yang mempunyai kelebihan, keutamaan, kekurangan dan kelemahan masing-masing. Suami-istri melakukan interaksi keseharian berdasarkan fungsi dan peran masing-masing yang sinergis.

Relasi keduanya harus dibangun dengan tepat, saling menopang dan mendukung untuk menjadi manusia yang baik dan mulia. Keselarasan fungsi keduanya akan menghasilkan kebaikan bersama dan kesempurnaan. Keselarasan ini akan mengantarkan dalam membangun keluarga yang sehat, bahagia dan damai.[]

*Penulis adalah Dosen Ilmu Tasawuf IAIN Walisongo & Pegiat Pondok Pesantren Darul Falah Besongo Semarang