Ekalaya dalam Spirit Santri


Oleh Sopo Nyono, A.M

Ekalaya, kesatria yang cinta ilmu dan takzim pada Sang Guru. Begitulah seharusnya, seorang santri hendaknya mampu meneladani kisah kesatria Nisada.

Ekalaya dalam dunia pewayangan Jawa lebih mudahnya disebut Bambang Ekalaya, ialah seorang pangeran dari kaum Nisada. Kaum ini merupakan kaum yang paling rendah. Kaum pemburu namun memiliki kemampuan secara hakikat memprioritaskan sisi Ilahiyah. Dalam bahasa Sanskerta, Ekalaya semakna dengan Ekalavya yang secara harfiah berarti “Orang yang memusatkan pikirannya kepada satu ilmu atau mata pelajaran”. Sesuai dengan namanya, Ekalaya sangat gemar menimba ilmu memanah.

Pendek cerita. Dalam suatu riwayat diceritakan bahwa Ekalaya yang sangat kuat menimba ilmu memanah lebih jauh, menuntun dirinya untuk datang ke Hastina dan berguru langsung pada Drona. Namun niatnya ditolak oleh guru Drona, dikarenakan kemampuannya yang bisa menandingi Arjuna. Dalam benak sang Guru sudah ada keinginan dan janji untuk menjadikan Arjuna sebagai satu-satunya kesatria pemanah paling unggul di jagat raya, yang mendapat pengajaran langsung dari sang guru. Disamping itu Ekalaya hanyalah kaum rendahan. Berbeda dengan Arjuna yang merupakan keluarga Pandawa dari kalangan raja.

Tapi Ekalaya tak berhenti disitu saja. Ia kembali ke hutan dan mulai belajar sendiri. Kemudian membuat patung Drona, memuja dan menghormati layaknya seorang murid yang sedang menimba ilmu. Walaupun ia belajar hanya ditemani patung Drona, dengan kegigihan dan rasa takzim terhadap patung sang Guru, seakan-akan patung itu hidup serta nyata membimbing dirinya. Ekalaya menjadi seorang kesatria yang gagah dan mempunyai kecakapan yang luar biasa dalam ilmu memanah. Bahkan lebih pandai daripada Arjuna.

Itu-lah sekelumit kisah yang seharusnya dikaji secara mendalam bagi kehidupan ini. Apa sih yang tidak bisa selama kita hidup di dunia? Selama manusia masih hidup di dunia, pasti ada “kemungkinan”. Sebagaimana ayat ilahi yang termaktub dalam al-Qur’an Surat ke-13, Ar Ra’du ayat 11, bahwa perubahan di dunia tergantung daya upaya manusia secara lahir dan batin.

Ekalaya dan Santri

Dalam kehidupan pesantren yang kental akan nuansa ilmiah yang berbasis tradisi, tentu landasan untuk berfikir sudah sangat lengkap. Betapa tidak? Dalam sebuah pesantren, proses pembelajaran sudah diatur sedemikian rupa—strata kajian. Tidak seperti kisah Ekalaya yang diusir dan tidak diterima oleh sang Guru Drona. Sebagaimana santri yang memiliki makna secara bahasa sanskerta lebih identik dengan istilah cantrik ialah orang yang selalu mengikuti guru mengaji. Namun dalam hal ini bila dikaji secara bahasa inggris, santri berasal dari dua suku kata yaitu SUN dan THREE yang artinya tiga matahari.  Bisa dimaknai bahwa matahari merupakan titik pusat tata surya berupa bola berisi gas yang mendatangkan terang dan panas pada Bumi di siang hari. Seperti yang diketahui, matahari ialah sumber energi tanpa batas. Matahari pula sumber kehidupan bagi seluruh makhluk hidup dan semuanya dilakukan secara ikhlas oleh matahari. Maksudnya, dalam hal ini yang harus dimiliki oleh santri ialah Iman, Islam, dan Ihsan. Walaupun dalam pengertian ini banyak diperdebatkan oleh para pengkaji pesantren. Setidaknya ini menjadi pembelajaran dan hakikat sebagai seorang santri untuk mengabdikan diri menjadi daya keseimbangan dalam kehidupan.

Seperti halnya Ekalaya yang tanpa pamrih untuk belajar ilmu. Walaupun dalam kisahnya ia mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari sang Guru. Justru ia anggap sebagai gagasan untuk memacu diri dan lebih bertawakkal kepada sang Tuhan. Dalam kesendiriannya, Ekalaya berusaha menjadi adimanusia yang ingin keluar dari kegelapan. Seperti cacing tanah yang ingin keluar dari kegelapan tanah yang menyelimutinya, tanaman yang tumbuh dan berkembang keatas menuju kemanfaatan. Adimanusia memiliki wawasan dan kearifan dalam mengejawantahkan nilai tradisi—memanah—sebagai seorang kesatria yang tangguh dan bermentalkan burung Rajawali. Burung yang bebas terbang tinggi tanpa batas, yang makan ketika lapar, tak terikat oleh kemapanan dan selalu ditemani oleh kehampaan. Selalu menyerukan yang “haq” ketika burung rajawali terbang kemana-mana tanpa teman dan gagah seorang diri.

Walaupun begitu takzim terhadap gurunya, Ekalaya tetap seorang Rajawali yang penuh kebebasan untuk berkreatif dan inovatif. Berdiaspora dalam sendi-sendi kehampaan dalam keramaian hutan belantara, tak gentar untuk menyerukan ketegasan keimanan-Nya kepada Sang Maha Kuasa. Ketakziman sebagai jalan menuju ilmu-Nya bukan menjadi hijab-hijab ketakutan dan ketergantungan. Begitu juga sebagai seorang santri yang memegang tradisi pesantren. Ketakziman menjadi hal yang utama untuk menyelaraskan keilmuan dan memperoleh beribu berkah dalam menapaki jenjang santri. Toh kenyataanya perilaku takzim menjadi tolak ukur pertama dalam mencapai kegigihan dan kekuatan untuk menjadi Rajawali kehidupan.

Namun, akan menjadi cacing tanah dan hewan melata atau pun parasit jikalau rasa takzim menjadi hijab-hijab penghalang dalam menuntut ilmu-Nya. Artinya terjebak pada kewibawaan dalam diri manusia atau ketakjuban sebagai rasa penghormatan secara berlebihan. Sehingga rasa penghormatan hanya di depan mata. Sedangkan di belakang, seribu olokan dan ejekan dilontarkan. Padahal hakikatnya, kewibawaan ialah milik-Nya yang terpancar pada diri seseorang. Maka dari itu, rasa takzim bukan sekadar merunduk dan sopan serta segan di depan seseorang. Apalagi seorang santri jikalau rasa takzimnya kepada kiai hanya sekadar tradisi tanpa nilai, apa-lah gunanya. Mereka berdalih agar ilmunya bermanfaat dan berkah. Sementara di belakang tanpa sadar menghujat mati-matian akan kebencian. Lihat-lah Ekalaya yang tanpa pamrih rasa ketakzimannya kepada sang Guru. Di manapun ia berada tak pernah memberikan hujatan (dalam istilah jawanya: ngrasani).

Spirit Keilmuan Santri

Memang pada akhirnya Ekalaya harus menerima nasib yang tak sepadan dengan pengabdian dan ketakzimannya kepada Sang Guru. Tanpa dosa Ekalaya dibunuh oleh pihak Pandawa. Dengan alasan yang tak masuk akal akan kesetaraan ilmu yang mengungguli Arjuna dan membahayakan para kesatria Pandawa. Sebab kesaktian Ekalaya yang tingkat tinggi itu sudah diketahui oleh Sang Guru Drona. Agar Ekalaya tidak menjadi beban dan tandingan Arjuna, Drona pergi kehutan menemui Ekalaya. Dalam pertemuannya itu, Durna meminta Dakshina—tanda terimakasih—kepada Ekalaya untuk memotong jari kanannya. Bagi Ekalaya, permintaan gurunya merupakan sebuah wawasan untuk meneguhkan hatinya walaupun ia tahu jika memotong jari akan kehilang ilmu memanahnya. Karena ia sadar kalau semua yana ada di dunia ini ialah mililk dan perwujudan-Nya semata, tanpa ragu dan gentar Ekalaya melakukan perintah Guru sebagai pengabdiannya secara hakiki yang berakhir pada kematian.

Hal inilah yang seharusnya menjadi spirit wawasan santri untuk menjadi matahari-matahari yang bermanfaat. Matahari yang merupakan cantrik dalam masyarakat. Bukan matahari yang adikuasa akan kapasitasnya yang justru merupakan penghianatan diri dan ilmu yang sudah diberikan kiai. Sama halnya rasa ketakziman sudah tak berlaku. Sampai kapan pun ketakziman sebagai santri kepada kiainya tidak hanya terjebak pada ruang-ruang belajar dan bercengkrama. Namun secara hakikat, seorang santri harus mematikan ego dirinya sebagai dekshina terhadap guru. Sehingga ilmu yang sudah dikuasai dan mewujud dalam diri santri semata-mata ialah pengejawantahan Ilahi. Menjadikan spirit santri dalam memaknai proses kehidupan merupakan bagian dari perjalanan menuju muara indah dan Maha Indah.