KH. Ahmad Basyir: Kiyai Kharismatik yang Pluralis


Membincangkan Pesantren Darul Falah be-Songo tidak bisa dilepas dari sosok yaitu KH. Ahmad Basyir.  Pesantren yang berbasis mahasiswa ini didirikan atas kepeduliannya mengembangkan nilai-nilai keberagamaan di lingkungan mahasiswa. Be-songo tidak lain adalah pesantren yang didirikannya diatas lahan yang di miliki oleh Bu Nyai Sholihah dan selanjutnya diserahkan kewenangan pengelolaan kepada putri tercinta mereka.

Silsilah dan Kelahirannya
31 Desember 1925 silam, lahir seorang tokoh besar di Kudus yang sangat santun perangainya dan mempunyai pengaruh besar di tengah masyarakat. Beliau adalah Romo K.H. Ahmad Basyir yang lahir dari pasangan Kyai Muhammad Mubin dan Nyai Dasireh. Di masa kecil, beliau sangat mumpuni dalam semua mata pelajaran. Karena prestasinya yang sangat gemilang, seorang guru berinisiatif untuk menjadikan beliau sebagai anak asuh.

Pendidikannya
Beliau mengawali jenjang pendidikan formalnya di Veer Folexs  Schooll yang sekarang dikenal dengan SD Negeri 1 Jekulo. Pendidikan non formal beliau berlanjut di Madrasah Diniyah (Tarbiyatus Sibyan) yang diasuh oleh K.H Dahlan. Sedangkan di luar aktivitas sekolah beliau berguru pada K.H Mansyur Kaelani, K.H Yasin, K. Hudlori dan K.H Zainuddin. Beliau belajar berbagai kitab Kuning dari tingkatan paling rendah sampai paling tinggi.
Ketekunan beliau terlihat saat ditanya soal apa saja yang sudah dipelajari saat nyantri. Jawab beliau : “yo iki kabeh” sambil menunjuk almari besar yang penuh dengan kitab-kitab kuning.
Kecintaannya terhadap ilmu tak berhenti di situ. Pada tahun 1949 M. beliau kembali ke Jekulo untuk nyantri di Pondok Pesantren Bareng (Qaumaniyah) yang diasuh oleh K.H. Yasin. Di masa remaja, kegemaran beliau adalah berziarah yang tidak pernah terlupakan sampai sekarang ini. Sehingga di kesempatan manapun beliau selalu meluangkan waktu untuk ziarah ke makam para auliya’. Di antara makam-makam yang pernah beliau kunjungi adalah makam Sunan Kudus, Sunan Muria, Mbah Ahmad Mutamaqin Kajen, Mbah Abdul Jalil, Mbah Abdul Qohar, Mbah Sewonegoro, Mbah Sanusi, Mbah Ahmad, Mbah Rifa’i, dan Mbah Suryokusumo (Mejobo). Semua itu dilakukan sebagai bentuk keta’dzimannya terhadap para Auliya’.
Semangatnya yang begitu berkobar dalam mencari ilmu, lantas tidak menjadikannya orang yang individualis. Terbukti dalam sejarah hidupnya beliau termasuk pemuda yang ikut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dalam organisasi Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII). Pada tahun 1944-1945 M juga tergabung dalam Badan Perjuangan Republik Indonesia (BPRI). Kesibukan itu ditambah dengan tugasnya sebagai lurah pondok yang seringnya disibukkan dengan kegiatan-kegiatan di pondok.
Berkeluarga
Pada tahun 20 Juli 1956 M/11 Rojab 1375 H, Beliau menikah dengan Nyai Hj. Sholihah. Dari pernikahannya beliau dikaruniai 9 anak yaitu: Dra. Hj. Dewi Umniyah, Dra. Hj. Inaroh, Dra. Hj. Amti’ah, K.H. Ahmad Badawi,  Hj. Arikhah, M. Ag, K.H M.  Jazuli, S. Ag, Muhammad Asyik (alm), Nur Zakiyyah Mabruroh, S. Th. I, dan Muhammad Alamul Yaqin, S.H. I., M.H. Keberhasilan beliau terbukti dengan keberhasilan putra putrinya. Itu merupakan bukti bahwa beliau mampu menjadi ayah yang  bertanggung jawab atas pendidikan anak-anaknya baik lahiriah maupun batiniah baik formal maupun non formal. Suatu kebahagian bagi beliau karena mendapatkan cucu dari putra-putrinya yang sekarang ini berjumlah 25, bahkan beliau sekarang juga sudah mempunyai 2 cicit.
Mendirikan Pesantren
Dari sosok kepribadian yang bertanggung jawab beliau dipercaya untuk memegang jabatan sebagai ketua yayasan “Nurul Ulum” Jekulo Kudus. Nama ini didapatkan dari Kyai Cholil.       Madrasah ini dipimpin oleh Kyai Khalimi dengan guru-guru beliau, seperti K. Cholil, K.H Khalimi,

K.H. Ahmad Basyir dan K. Mahin.
Pada akhirnya, K.H. Ahmad Basyir  mendirikan pondok pesantren atas dorongan dari gurunya. Berdirinya pesantren ini demi memperjuangkan generasi para santri. Pesantren yang diberi nama Darul Falah (DAFA) ini berdiri di atas sebidang tanah yang diwakafkan oleh K.H. Basyir. Dari awal berdirinya DAFA sampai sekarang mengalami banyak perkembangan selain kualitas dan kwantitas.
Hingga kini cabang-cabang dari ponpes Darul Falah mencapai 5 ponpes, di kota kelahiran beliau. Ponpes Darul Falah (DAFA) yang terkenal dengan puasa Dlalail Khoirotnya ini   berdiri tahun 1970 dan setelah adanya cabang, maka disebut dengan DAFA 1 (putra) yang diasuh oleh oleh putrinya Dra. Hj. Amti’ah dengan KH. Ahmad Hamdi Asmu’i L.C. Sementara itu, DAFA 2 (putra) dipegang oleh beliau sendiri, ponpes ini berdiri pada  tahun 1972,  dilanjutkan DAFA 3 (putri) yang berdiri tahun 1999 diasuh oleh putrannya K.H. Ahmad Badawi dengan sang istri tercinta Hj. Maftuchah Ulin Nihayati al hafidhoh. Kemudian DAFA 4 berdiri tahun 2000 yang diasuh oleh K.H M.  Jazuli S. Ag,  dengan istri Hj. Sailin Nihlah S. Pd.I, dan 1 cabang lagi dari Ponpes yang terletak di Semarang yakni DAFA Be_Songo yang  diasuh oleh putri KH. Ahmad Basyir, Hj. Arikhah, M. Ag didampingi Abah Dr. KH. Imam Taufiq, M. Ag.

Teladan
KH. Ahmad Basyir adalah sosok teladan yang dapat kita contoh. Hal ini dilihat dari keseharian aktivitas beliau di masa muda. Seperti mentradisikan puasa Dlalail Khoirot. Yang itu telah beliau dapat pada tahun 1958. Selain itu dapat dilihat dari rutinitas beliau yang sangat ta’dhim dan tawadhu’ terhadap para gurunya. Beliau pun ramah terhadap masyarakat sekelilingnya dan beliau juga tidak membedakan antara orang yang punya dan tak punnya. Hal tersebut terlihat dari cara beliau menerima tamu. Beliau senantiasa menyambutnya dengan seramah mungkin, sehingga tamu merasa senang dan merasa dihargai [ilmi, eny, ita].