ULAMA’ PENUH BERKAH: ABI SULAIMAN AL-JAZULI: MUALLIF DALA’IL AL-KHAIRAT


ULAMA’ PENUH BERKAH: ABI SULAIMAN AL-JAZULI: MUALLIF DALA’IL AL-KHAIRAT

Tulisan ini berkisah tentang biografi pengarang Dala’il al-Khairat, Abi Sulaiman al-Jazuli, yang disarikan dari Bahjah al-Wasa’il min Manaqib Shahib al-Dala’il yang dikumpulkan oleh Tim Penerjemahan Ponpes Darul Falah Jekulo Kudus.

Imam al-Jazuli adalah seorang Iman yang alim dan amil, seorang wali Allah yang besar dan sempurna yang ma’rifat kepada Allah, yang muhaqqik dan wasil kepada-Nya, seorang tokoh terkemuka pada zamannya, yang berbeda pada masanya, Sayid Abu Abdillah Muhammad bin Sulaiman Al-Jazuli rodliyallah ‘anhu yang mengarang kitab dalailul Khoirot.

Nasab

 Adapun nasabnya adalah Sayid Abu Abdillah Muhammad bin Sulaiman  bin Abdurrohman bin Abu Bakar bin Sulaiman bin Ya’la bin Yakhluf bin Musa bin ‘Ali bin Yusuf bin Isa bin Abdulloh bin Jundur bin Abdurrohman bin Muhammad bin Ahmad bin Hasan bin Isma’il bin Ja’far bin Abdulloh bin Hasan bin Hasan bin Ali bin Abu Tholib Karramallahu Wajhah.

 Beliau dilahirkan di Jazulah yaitu di sebuah kabilah dari Barbar di pantai negeri Maghrib {Maroko} Afrika. Beliau  belajar di Fas yaitu sebuah kota yang cukup ramai yang terletak tidak terlalu jauh dan tidak terlalu dekat dengan Mesir. Jarak antara Fas dan Mesir kira-kira 36 derajat 17 daqiqoh atau sekitar 4.064 km. Dikota Fas beliau belajar hingga menjadi sangat banyak menguasai ilmu yang bermacam-macam sehingga namanya tersohor, kemudian beliau mengarang kitab “Dalail al Khoirat”.

Sejarah Menjelang Mengarang Kitab Dalailul Khoirot

   Adapun sebab musabab beliau mengarang kitab Dalailul Khoirot adalah karena pada suatu saat beliau singgah di suatu desa bertepatan  dengan waktu (habisnya) sholat dhuhur; tetapi beliau tidak menjumpai seorangpun yang dapat beliau tanyai untuk mendapatkan air wudlu.

Akhirnya beliau menemukan sebuah sumur yang tidak ada timbanya, maka beliau berputar-putar di sekitar sumur itu dalam keadaan bingung karena tidak ada alat untuk menimba air. Tetapi kemudian beliau dilihat oleh seorang anak perempuan kecil yang berusiya sekitar tuju tahun. Anak itu bertanya kepada Sayid Muhammad al-Jazuli,

“Ya Syekh, mengapa anda nampak bingung berputar-putar disekitar sumur ?”.

Syekh menjawab,”Saya Muhammad bin sulaiman”.

Anak itu bertanya lagi, “Apa yang hendak tuan kerjakan ?”.

Syekh menjawab, ”Waktu sholat dhuhurku sudah sempit, tetapi saya belum mendapatkan air untuk berwudlu”.

Anak kecil itu bertanya, apakah dengan namamu yang sudah terkenal itu tidak bisa (hanya sekedar) mendapatkan air wudlu dari dalam sumur? Tunggulah sebentar !”

Kemudian anak kecil itu mendekat ke bibir sumur dan meniupnya sekali, tiba-tiba airnya mengalir dan memancarkan di sekitar sumur seperti sungai besar. Kemudian anak kecil itu pulang kerumahnya, dan Syekh Muhammad Al-Jazuli pun segera berwudlu dan melaksanakan sholat dluhur.

Setelah itu Syekh Muhammad Al-Jazuli bergegas mendatangi rumah anak perempuan kecil itu, sesampainya di sana beliau mengetuk pintu. Anak kecil itu berkata, “Siapa itu ?”, maka syekh menjawab, ”Wahai anak perempuanku, saya bertanya kepadamu, demi Allah dan kemahaagungan-Nya yang menciptakan kamu dan menunjukkan kepadamu terhadap Nabi Muhammad Saw. sebagai Nabi dan Rasulmu yang diharap-harapkan syafaatnya, saya harap engkau mau menemuiku, saya hendak menanyakan tentang satu hal”.

Ketika anak itu menemui beliau, Syekh Muhammad Al-Jazuli bersumpah, “Aku bersumpah kepadamu demi kemahaagungan Allah, demi kemahakuasaan-Nya, demi kemahamemberi-Nya, demi kemahasempurnaan-Nya dan demi Nabi Muhammad yang sholawat salam atas beliau, para shahabat, isteri dan putra-putra beliau, demi risalah beliau dan demi syafaat beliau, aku mohon kamu mau menceritakan kepadaku dengan apakah kamu bisa mendapatkan martabat yang tinggi {sehingga dapat mengeluarkan air dari sumur tanpa menimba} ?”.

Anak perempuan kecil itu menjawab, : “Kalaulah tidak karena sumpahmu itu wahai Syekh, tentulah aku tidak mau menceritakannya. Saya mendapatkan keistimewaan yang demikian itu karena membaca sholawat kepada Nabi Muhammad Saw.” Setelah peristiwa itu kemudian Syekh Muhammad Al-Jazuli radliallahu anhu mengarang kitab “Dalail al Khairat” di kota Fas. Dan sebelum beliau mensosialisasikan kitab itu ia mendapat ilham untuk pulang kembali ke tanah kelahirannya. Maka beliau kembali dari Fas kedesa beliau  ditepi daerah Jazulah. Kemudian beliau dengan kesendiriannya itu bertemu Syekh Abu Abdillah Muhammad bin Abdullah Al-Shaghir seorang penduduk dipinggiran desa dan beliau berguru Dalail kepadanya.

Kemudian Syekh Muhammad Al-Jazuli melaksanakan kholwat untuk beribadah selama 14 tahun dan kemudian keluar dari kholwatnya untuk mengabdikan diri dan menyempurnakan pentashihan (pembetulan) kitab “Dalail al Khoirot” pada hari jum’at, 6 Rabi’ul Awwal 82 H. delapan tahun sebelum hari wafatnya.

Adapun Thoriqoh beliau disandsarkan pada Syekh Sadzili yang belajar dari Sayyid Abu Abdillah Muhammad bin Abdul Mudhor Al-Munithi dari Sayid Abu Utsman Sa’id Al-Hartanai dari Sayid Abi Zaid Abdurrahman Al-Rajraji dari Sayid Abul Fadhil Al-Hindi dari Syekh ‘Inus Uwais Zamanihi dari Sayid Abu Abdilah Al-Maghribi seorang pengembara yang dimakamkan di Damnahur Al-Bukhairoh dari pengikut para orang sholih dan kelompok Thoriqotnya muslikin dan seagung-agungnya orang-orang ma’rifat dan Imamnya para wasil, Abul Aqthob yang diperlihatkan oleh Allah terhadap semua pengikutnya sebagai penerus barisan para keturunan Al-Hasyimiyyah dan keturunan Nabi, Sayid Abul Hasan ‘Ali Al-Syadzali radliyallahu ‘anhu yang dilahirkan pada tahun 595 H. dan wafat pada tahun 656 H. dinegerinya sebelum beliau merealisasikan

Sepuluh hal sebagaimana beliau berkata : “Masih ada sepuluh tahun untukmu”, dan beliau mewariskan banyak teman. Adapun murid-murid beliau banyak sekali, diantaranya adalah Syekh Abu Abdillah Muhammad Al-Shoghir Al-Sahli dimana beliau adalah yang tertua dari sahabatnya yang lain, yang menemaninya dalam meriwayatkan Dalail. Kemudian Syekh Abu Muhammad Abdul Karim Al-Mandari dan juga Syekh Abdul ‘Aziz At-Tiba’ dan beliaulah Sayid dan Guru Sanadku ( Mu’allif ) dimana Guru saya Sayid Ahmad Musa Al-Samlali berguru kepadanya dan kemudian Sayid Ahmad bin Abbas Al-Shom’i berguru kepadanya dan  kemudian Sayid Mufri Abdul Qodir Al-Fasi belajar kepadanya dan kemudian Sayid Ahmad bin Al-Haj belajar kepadanya kemudian Sayid Muhammad bin Ahmad bin Ahmad bin Al-Matsani belajar kepadanya dan kemudian Sayid Muhammad bin Ahmad Al-Mudghiri belajar kepadanya dan kemudian Sayid Ali bin Yusuf Al-Hariri Al-Madani belajar kepadanya dan kemudian Sayid Muhammad Amin Al-Madani belajar kepadanya dan kemudian Al-Quthbu Al-Rais Sayid Muhammad Idris belajar kepadanya dan kemudian Al-Quthbu Al-Rasyid Sayid Abdul Mu’id radliyallahu ‘anhum dan santrinya yang dijuluki dengan Muhammad Ma’ruf yang belajar kepadanya.

Kiprah Muhammad Al-Jazuli

Syekh Muhammad Al-Jazuli pada mulanya mulai mendidik para muridin dipinggiran Asafi di mana banyak sekali orang yang sadar dan bertaubat atas bimbingannya. Dzikirnya begitu terkenal, tersebar dan diamalkan orang-orang diberbagai negeri dan nampaklah keistimewaan yang besar dan keramat-keramatnya. Syekh Muhammad Al-Jazuli senantiasa berpegang teguh terhadap hukum-hukum AllahSwt. dengan melaksanakan ajaran Al-Qur’an dan Sunnah rosul shallalluhu ‘alaihi wassalam. Kemudian beliau pindah dari Asafi kesuatu tempat yang terkenal dengan afrigal. Kemudian beliau membangun masjid dan menetap ditempat itu untuk tetap mendidik dan membimbing para muridin ke jalan yang benar sesuai petunjuk Allah.

Jelaslah cahaya keberkahan beliau, nampaklah tanda-tanda kerahasiaannya dan para faqir dan orang-orang yang tekun membaca dan dzikir kepada Allah dan membaca sholawat Nabi semakin banyak. Dzikir-dzikir beliau dikenal disegenap penjuru dan para pengikutnya pun tersebar disetiap bagian negeri sehingga menjadi semarak dan hiduplah negeri Maghribi. Syekh Muhammad Al-Jazuli memperbaharui Thoriqot di Maghribi setelah pengaruh-pengaruh dari pengajarannya. Syekh Muhammad Al-Jazuli benar-benar seorang yang mencurahkan waktunya untuk menolong dan memberikan manfa’at kepada ummat.

Beliau juga mengutus para sahabatnya keberbagai negeri untuk menda’wahkan hukum Allah dan mendorong mereka ke jalan Allah. Banyak sekali orang mengikuti dan mengamalkan Thoriqotnya. Mereka juga banyak yang datang langsung kepada Syekh Muhammad Al-Jazuli untuk bertaqurrub dan mencari ridho Allah. Jumlah dari pengikut itu mencapai 12665 orang dimana kesemuanya itu bisa mendapatkan fadhilah menurut kadar martabat dan kedekatan mereka dengan Syekh Muhammad Al-Jazuli.

Wafatnya Syekh Muhammad Al-Jazuli

Beliau wafat waktu melaksanakan sholat subuh pada sujud yang pertama (atau pada sujud yang kedua menurut satu riwayat) tanggal 16 Rabi’ul Awwal 870 H. Beliau dimakamkan setelah waktu sholat dhuhur pada hari itu juga di tengah masjid yang beliau bangun.

Sebagian dari keramatnya adalah setelah 77 tahun dari wafat beliau, makam beliau dipindahkan Marakisy, dan ternyata ketika jenazah beliau dikeluarkan dari kubur, keadaan jenazah itu masih utuh seperti ketika beliau dimakamkan. Rambut dan jenggot beliau masih nampak bersih dan jelas seperti pada hari beliau dimakamkan. Makam beliau di Markasy sering  diziarahi oleh banyak orang.

Sebagian besar dari peziarah itu membaca Dalil al Khairat disana, sehingga dijumpai di makam itu bau minyak misik yang amat harum karena begitu banyak di bacakan Sholawat salam kepada Nabi Muhammad, para sahabat dan keluarga beliau. Kisah wangi semerbak itu adalah sebagian dari sejarah Syekh Muhammad al-Jazuli. Sejarah yang lain tentang beliau bahwa para orang sholeh dari berbagai penjuru dari masa ke masa senantiasa membaca dan mengamalkan kitab beliau, yaitu Dalil al Khairat.

Akhirnya beliau mendapat predikat sebagai seutama-utamanya orang yang bersama rosul SAW  kelak karena banyaknya pengikut beliau untuk membaca sholawat, sebagaimana Rosululloh SAWbersabda, “Seutama utama manusia bersamaku pada hari kiamat adalah orang yang paling banyak membaca sholawat  untukku”.

Syekh al-Khafidh Abu Na’im berkata, “Sejarah besar tentang Syekh Muhammad Al-Jazuli ini benar-benar sesuai dengan hadist dan fatwa para sahabat tentang membaca sholawat kepada Nabi ini saya telah menukilnya meskipun banyak para ulama’ yang mengetahuinya secara pasti, sebagaimana disabdakan Nabi, “Sedekat-dekat orang yang lebih berhak mendapatkan syafaatku pada hari kiamat besok adalah orang yang paling banyak membaca Sholawat pada waktu ia masih di dunia”. Segala puji bagi Allah tanpa batas, Sholawat salam atas Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, para sahabat dan keluarganya, Amin.