Khidmah Berbuah Berkah: Belajar Hidup Seperti Asu dan Celeng

Oleh:  Muhammad Luthfi*

Di zaman sekarang, seringkali kita menemukan berita-berita yang berisi mengenai seorang siswa yang berani melawan gurunya, bahkan melakukan tindakan kekerasan dan penganiayaan terhadap gurunya sendiri, yang tidak lain adalah orang yang telah mengajarkannya dari yang tidak tahu menjadi tahu. Hal ini menunjukan kemerosotan akhlak seorang siswa terhadap gurunya. Khidmah kepada guru/kiai tidak hanya kewajiban kaum  santri saja, melainkan semua orang yang sedang mencari ilmu tak terkecuali siswa, karena berkhidmah kepada guru merupakan salah satu sebab masuknya ilmu. Maka dari itu santri yang memiliki budaya kuat berkhidmah harus bisa membentengi diri dalam hal menjaga tradisi khidmah di zaman modern yang serba instan ini.

Sebuah statement yang cukup kontroversial, “Dadi santri kui manuto koyo Asu, Lempengo koyo Celeng” (Jadi santri itu harus manut seperti anjing dan lurus seperti babi). Pertama saya mendengar pernyataan teman saya  itu, saya langsung tidak setuju dan menganggap perumpamaan itu terlalu berlebihan. Bagaimana tidak? Lha wong santri yang notabennya penerus ulama kok malah dipadakke kewan, apalagi hewan yang menyebabkan najis mugholadoh. Tetapi, setelah saya angan-angan, ada satu pelajaran yang bisa kita ambil dari penyataan itu yaitu “Khidmah”.

Kata khidmah merupakan kata serapan dari bahasa arab yang mempunyai arti kegiatan, pengabdian,dan pelayanan.  Kata khidmah sangat erat kaitannya dengan sebuah pondok pesantren, yang notabennya merupakan tempat menuntut ilmu untuk para santri. Tidak diragukan lagi santri sebagai seorang yang sedang menuntut ilmu dan mengharap ridho kiai, memiliki tradisi yang sangat mengakar rumput yaitu khidmah pada sang kiai yang tidak lain dan tidak bukan adalah orang yang telah mentrasferkan ilmunya.

Maka tidak heran jika para santri yang identik dengan kaum sarungan ini memiliki kebiasan unik yaitu bersaing, tetapi dalam hal kebaikan untuk berkhidmah pada kiai. Seperti berebut dan bersaing  dalam hal membetulkan sandal kiai, beradu cepat dalam menyiapkan minum kiai, sampai berlomba-lomba dalam membersihkan kendaran kiai. Semua itu dilakukan oleh para santri sebagai wujud rasa syukur dan tanda terimakasih karena telah diajarkan ilmu dan tentu untuk mengharap barokahnya.

Baca juga :  Santri Ngaji Internet

Pernah terdengar suatu cerita bahwa KH. Hasyim Asy’ari pernah dawuh,

“Ilmu bisa kita temukan dimana saja, tetapi barokahnya ilmu tidak bisa kita temukan kecuali kepada orang yang shalih”.

Budaya khidmah di pesantren ini sudah dicontohkan oleh ulama-ulama Nusantara sejak dahulu, seperti cerita yang sering saya dengar dari kiai saya. Khidmah menata sandal pernah dilakukan oleh KH. Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyyah) dan KH. Hasyim Asy’ari (Pendiri Nahdlatul Ulama)saat mereka mondok dan berguru kepada Kiai Sholeh Darat Semarang. Keduanya selalu berebutan dan bersaing untuk dapat menata sandal Kiainya.

Dan ketika KH. Hasyim Asyari nyantri di Bangkalan, Madura. Suatu ketika ia melihat KH. Syaikhuna Kholil bersedih dan tidak bisa mengajar seperti biasanya. KH. Hasyim Asy’ari pun mencari tahu penyebab kesedihan gurunya tersebut. Setelah Kiai Hasyim Asy’ari tahu bahwa KH. Syaikhuna Kholil bersedih dikarenakan cincin Bu Nyai jatuh didalam WC (tempat penampungan tinja), tanpa pikir panjang Kiai Hasyim langsung terjun ke pembuangan tinja, mencari cincin Bu Nyai sampai akhirnya ketemu.

Cerita ini bisa menjadi sebuah renungan sekaligus motivasi bagi para pelajar, agar dalam menuntut ilmu (belajar kitab) juga diimbangi dengan berkhidmah (belajar kehidupan), yaitu ta’dzim terhadap kiai (ulama) yang menjadi pewaris para nabi. Dengan dibarengi khidmah, proses transfer ilmu dalam belajar tentu akan menjadi lebih berkah, berbeda dengan yang hanya belajar dan belajar seperti pada umumnya. Karena pada dasarnya yang mempunyai ilmu adalah Allah, oleh sebab itu jika seorang santri taat dan ta’dzim terhadap kiai yang mengakibatkan ridho, insyallah Allah pun ridho “Ridhollah fi ridhol walidain” karena kiai adalah orang tua bagi para santri-santrinya.

*Mahasiswa Pendidikan Fisika UIN Walisongo Semarang & Mahasantri Darul Falah Besongo Semarang

Tim web Besongo

Be-songo.or.id adalah website resmi Pondok Pesantren Darul Falah Be-songo Semarang yang mengkaji dan memberi informasi seputar khazanah dunia kepesantrenan, keislaman, pendidikan, dan sosial budaya.

6 thoughts on “Khidmah Berbuah Berkah: Belajar Hidup Seperti Asu dan Celeng

  • 26 Juli 2020 pada 10.50
    Permalink

    Menurut saya bagus isi ceritanya mempunyai makna yang dalam tetapi bahasa statement kurang enak di dengar.
    Dan kenapa tidak memakai statement perumpamaan yang lain, kalau bisa😊

    Balas
    • 28 Juli 2020 pada 21.01
      Permalink

      Terima kasih atas masukannya kak, sangat baik dan memotivasi tentunya :). Namun setelah berbincang dengan penulis, memang seperti itu gaya bahasa tulisannya kak hehe 🙂

  • 29 Juli 2020 pada 00.47
    Permalink

    Dari judulnya yg berani, alangkah baiknya kalau isi nya di taruh di depan. Paragraf kedua Langsung diletakkan di awal dan justru paragraf pertama bisa jadi bumbu pelengkap isi statement. Oh ya lagi penjelasan perumpamaan asu dan celengnya belum mengena ya, jadi dimulai dari dipadakke kewan dan Khidmah itu seharusnya jadi narasi yg bagus cuma diantara keduanya kurang adanya suatu keterkaitan yg kuat, ibarat tu ya Surabaya dan Madura belum ada jembatan Suramadu. Maaf ya saya masih amatiran

    Balas
    • 2 Agustus 2020 pada 17.54
      Permalink

      Terima kasih atas masukannya kak 🙂

  • 29 Juli 2020 pada 08.02
    Permalink

    Dengan bahasa majaznya penulis menjelaskan arti kontekstual dari ujaran statement hewan yang kita anggap kurang baik tersebut, dengan demikian kita memahami bahwa belajar tidak cukup hanya dengan ilmu jarhri namun juga harus disertai usaha untuk mendapatkan ilmu sirri, karena ilmu yang diajarkan manusia itu terbatas dan ilmu alloh yang dianugerahkan pada siapa yang dikehendaki lantaran amal dapat menghasilkan ridho-Nya tidak terbatas. Dalam bahasa santri “ngaji iku dudu mung kitab garing (kitab-kitab syariat) angeng yo kudu ngaji kitab teles (amaliah) seng luweh nyegoro maknane”.

    Balas
    • 2 Agustus 2020 pada 17.53
      Permalink

      Terus mengabdi dan belajar agar menjadi hamba yang berakal. Dan terima kasih atas pendapat dan masukannya kak 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *