Ulil Amri dan Hasthabrata: Konsep Kepemimpinan ala Islam dan Jawa

(Pinterest)

Besongo.or.id “Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani” Nasehat dari Ki Hajar Dewantara. Sekilas nasehat tersebut berupa konsep pemimpin ideal. Dalam konsep trilogi kepemimpinan tersebut seorang pemimpin harus menjadi sumber teladan, meningkatkan semangat dan memberikan rasa aman.

Ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani”

Ki Hajar Dewantara

Terlepas dari konsep kepemimpinan yang sering dibahas oleh cendekiawan dapat diamati adanya problem dalam kepemimpinan. Hal tersebut dapat terlihat dari hukum yang ada di Indonesia yang masih dianggap “tumpul ke atas dan tajam ke bawah”, misalnya pada kasus korupsi pejabat dengan masa tahanan yang dianggap sangat ringan.

Konsep kepemimpinan seringkali dibahas dalam Al-Qur’an maupun hadis, bahkan ramai diperbincangkan pada kalangan cendekiawan. Konsep tersebut juga dapat kita temui melalui beberapa literatur kuno seperti hikayat kerajaan kuno, kisah pewayangan dan sebagainya.

Menurut Nanang Fattah (2001: 88), konsep kepemimpinan berhubungan dengan adanya pemimpin di suatu wilayah yang memiliki hakikat  untuk ikut mempengaruhi orang lain dengan kuasa yang dimilikinya.

Konsep Ulil Amri dalam Islam

Konsep kepemimpinan dalam Islam tak bisa lepas dari kehidupan Rasulullah Saw. dan peran khulafā ar-rāsyidīn, yakni pemimpin yang menjadi teladan bagi umat Islam. Rasulullah merupakan sosok role model  di kalangan umat Islam bahkan tidak sedikit dari non-muslim. Hal tersebut ditinjau dari keberhasilan dalam memberikan uswah hasanah (teladan yang baik) baik berupa nilai-nilai kejujuran, keramahan, ketabahan, dan sebagainya.

As-Suwaidan (2005:13), dalam sebuah syair al-Afwah al-Audi’ mengatakan,

“Kekacauan tidak akan menyelamatkan manusia selama tidak ada pemimpin, pemimpin tidak akan ada apabila orang-orang bodoh berkuasa, rumah tidak akan berdiri kecuali di atas tiang, tiang tidak ada apabila tidak dibangun fondasi, apabila fondasi, tiang, dan penghuni berkumpul, Maka mereka akan sampai pada tujuan yang dikehendaki.”

Syair tersebut juga berkaitan dengan sabda Rasulullah Saw yang  dengan pentingnya mengangkat sebuah pemimpin dalam sebuah tatanan kehidupan.

إِذَا كَانَ ثَلاَثَةٌ فِي سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ

“Ketika 3 orang keluar melakukan perjalanan, maka perintahkanlah salah seorang dari mereka untuk menjadi pemimpin” (HR Abu Daud, tt:340, No.Hadits 2610 Bab Fi al-Kaum Yusafiru, juz III)

Imam Al Ghozali menambahkan, kepimpinan dapat berujung pada perkara yang mungkar jika niatnya untuk keduniawian. Sebaliknya, ketika orientasinya dari, untuk, karena Allah, maka akan berakhir pada kebaikan (ma’rûf). Karena muara kekuasan bersumber pada Dzat Allah.

Kata ulil umri sendiri salah satunyaterdapat dalam QS. An Nisa’ ayat 59, “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri di antara kamu…”.

Berdasarkan Tafsir Al Misbah, M. Quraish Shihab menjelaskan ulil amri bukan orang yang memimpin kelembagaan namun bisa merujuk pada kata perseorangannya. Namun, ulil amri harus memenuhi tujuh syarat. Yaitu muslim, laki-laki, merdeka, berakal, baligh, adil serta memiliki kemampuan (ahlu al-kifāyah wa al-qudrah). Menurut Shihab, syarat tersebut harus terpenuhi sebagai kriteria ulil amri yang sah.

Di sisi lain, seorang ahli fiqh bermadzab syafi’i, Imam al-Mawardi, menjelaskan pada masa hidupnya beliau tetap mengutamakan kepala negara berasal dari suku Quraisy, tak lain untuk menjamin stabilitas politik. Teori realistik Imam al-Mawardi, diimbangi dengan kaidah fiqhiyah yang beliau pegang yaitu:

اَلْمُحَافَظَةُ عَلَى الْقَدِيْمِ الصَّالِحْ وَاْلاَخْذُ بِالْجَدِيْدِ اْلاَصْلَحِ

“Mempertahankan nilai-nilai lama yang baik dan menginovasikan nilai-nilai baru yang lebih baik.”

Melalui kaidah tersebut, al-Mawardi memegang keorisinilan dan menerima pembaharuan terhadap budaya tersebut, termasuk menjunjung tinggi pemimpin yang taat kepada Allah dan rasul.

Baca juga :  Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Menuntut Ilmu

Ditinjau dari beberapa argumen para cendekiawan tersebut, ulil amri  merupakan jabatan atas kuasa perorangan dalam meimpin di suatu wilayah, namun perlu digarisbawahi, hal tersebut tak bisa lepas dari persyaratan untuk taat kepada Allah dan rasul-Nya.

Konsep Kepemimpinan dari Hasthabrata

Istilah Hasthabrata berasal dari kitab kitab “Manawa Dharma Sastra”. Kitab tersebut merupakan literatur Hindu kuno yang berbahasa Sansekerta. Dalam artikel Imam Sutardjo (2014), Hasthabrata memiliki makna “delapan sikap”.

Kedelapan sikap kepemimpinan Hasthabrata ditulis dalam lakon pewayangan dan piwulang, yang diteladani dari delapan watak dewa. Pertama, Dewi Indra yang senang memberi tanpa pandang kasta. Kedua, Dewi Surya yang dikenal baik dan penyayang. Ketiga,  Dewi Bayu yang dekat dengan rakyat. Keempat, Dewa Kuwera yang suka menolong dan bersedekah.

Kelima, Dewa Baruna bersifat tegas dan adil. Keenam, Dewa Yama yang menegakkan hukum dan keadilan. Ketujuh, Dewa Candra memiliki sifat pemaaf. Kedelapan, Dewa Brama yang gemar melindungi rakyatnya.

Sementara dalam Serat Ajipamasa membahas kepemimpinan dalam tembang Girisa. Pesan yang dibawa dari tembang tersebut adalah  keterkaitan pemimpin dengan anasir bumi, yakni tanah, air, api, angin, matahari, bulan, bintang dan mendung.

Tanah bermakna seorang yang suka membantu dan ikhlas ketika melakukan perbuatan. Air berarti pemaaf terhadap siapapun. Sementara api sebagai seseorang yang berwibawa. Pemimpin juga harus bersikap layaknya angin atau maruta yakni selalu waspada dan dapat berbaur.

Pemimpin juga bersikap layaknya matahari yang memberikan motivasi pada rakyat. Bulan memiliki karakter menyejukkan dan bintang yang sopan dan santun juga baik ketika diteladani dalam sifat pemimpin. Terakhir, pemimpin meniru sifat mendung, yaitu dapat mengendalikan diri.

Menurut Purwadi (1994: 139), konsep Hasthabrata dalam manuskrip Pedhalangan. Konsep kepemimpinan lakon wayang dijelaskan dalam cerita Wahyu Makutharama tentang lakon Begawan Kesawasidi dengan Raden Arjuna, dimana konsepnya sama dengan Serat Ajipamasa.

Melihat delapan perumpamaan seorang pemimpin dalam Hasthabrata, terdapat sebuah hubungan dan nilai-nilai universal yang saling berhubungan. Keduanya membawa pesan pada kriteria pemimpin yang diharapkan untuk menjadi ­khalīfah fi al-arḍ (pengelola bumi).

Titik Temu Dua Konsep Kepemimpinan

Pada dasarnya konsep kepemimpinan ada sejak seseorang menyadari dan mengenal jati dirinya. Tidak bisa dipungkiri kemampuan tersebut ada pada setiap manusia namun pada tataran yang berbeda.

Konsep kepemimpinan mengacu pada kriteria kepimpinan yang baik. Dari berbagai sumber yang sudah dijelaskan dalam Islam dan budaya Hindu di atas memiliki korelasi satu sama lain. Keduanya mendukung setiap pemimpin taat pada tuhannya.

Islam menjadikan Rasulullah Saw sebagai role model, karena akhlaknya yang mulia. Kemuliaan akhlak beliau memenuhi kriteria pemimpin yang disebutkan oleh beberapa cendekiawan muslim maupun ajaran hasthabrata.

Konsep hasthabrata yang berasal dari tiga versi pada dewa dalam lakon pewayangan, Serat Ajipamesa dan pedhalangan menjadi harmoni kriteria kepemimpinan. Kriterinya berbanding lurus dengan pandangan Islam.

Titik temu konsep kepemimpinan yang diinginkan yakni yang bertanggung jawab, tegas, adil, mampu memberikan teladan dan sebagainya. Menjadi seorang pemimpin bukan perkara mudah. Seorang pemimpin harus mampu memanajemen supaya dalam kepemimpinannya berjalan dengan baik.

Penulis : Ati Auliyaur Rohmah

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: