RESENSI BUKU : Mengupas Problematika Batin; Melalui Kitab Kimiya’us Sa’adah

  1. Judul buku        : Proses Kebahagiaan; Mengaji Kimiya’us Sa’adah Imam Al-Ghazali
  2. Penerbit            : PT. Qaf Media Kreativa
  3. Tahun terbit      : 2020
  4. Tebal buku        : 146 halaman

Be-songo.or.id – Buku yang berjudul “Proses Kebahagiaan; Mengaji Kimiya’us Sa’adah” merupakan salah satu buku karya dari K.H.A. Mustofa Bisri, bergenre non-fiksi. Selain buku tersebut, ia juga pernah menulis beberapa buku, seperti Tadarus (Antologi Puisi), Syair Asmaul Husna, Dasar-Dasar Islam – terjemahan, Mutiara-Mutiara Benjol, serta masih banyak lagi. Sebagian besar buku yang ia tulis berkenaan dengan agama (Baca: religius) dan nasihat-nasihat. K.H.A. Mustofa Bisri atau kerap disapa Gus Mus merupakan pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Taman Pelajar Islam (Raudlatut Thalibin) Rembang, Jawa Tengah. Gus Mus juga seorang budayawan, penyair dan penulis kolom.

Sejak belia Gus Mus telah mengeyam pendidikan berbasis agama di lingkungan pesantren. Seperti di Pesantren Lirboyo (Kediri, 1956-1958), Pesantren Krapyak (Yogyakarta. 1958-1962), Pesantren Taman Pelajar Islam (Rembang. 1962-1964). Saat kuliah, Gus Mus melanjutkan di Kairo, Mesir – Universitas Al-Azhar (1964-1970) untuk studi Islam dan Bahasa Arab.

Sepulang dari Kairo Mesir, Gus Mus berkiprah di PCNU Rembang (awal 1970-an), Wakil Katib Syuriah PWNU Jawa Tengah (1977), Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah, hingga Rais Syuriyah PBNU (1994-1999) dan masih banyak lagi kiprahnya di Nahdlatul Ulama (NU). Pada tahun 2019, beliau juga mendapat anugerah gelar doctor honoris causa (HC) di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta – karena kiprahnya di bidang Kebudayaan Islam.

Selain mengasuh pesantren, beliau juga berdakwah baik di dalam dan luar negeri, online maupun offline, serta menerjemahkan kitab, menulis puisi dan esai, pula melukis.

Buku ini ditulis dengan latar belakang karena belum adanya terjemah Kitab Kimiya’us Sa’adah berbahasa Indonesia karya Imam Ghazali – yang kemudian diberi judul “Proses Kebahagaian”. Dalam risalah ini, banyak disoroti hal ihwal kalbu sebagai pusat dan sumber kebahagiaan lahir batin. Sedangkan Imam Ghazali memaknai secara makro memulai pembahasan tentang pengenalan diri secara utuh, esensial, dan hakiki agar manusia tahu apa dan siapa dirinya, dari mana ia datang ke dunia fana ini, untuk apa dia diciptakan, dengan cara apa ia mendapatkan kebahagiaan dan kesengsaraan.

Dalam buku ini, memuat beberapa bab yakni, mulai dari tanda pengenalan diri, mengenal diri sendiri, mengenal hati dan tentaranya, keajaiban-keajaiban hati, nikmat dan bahagia manusia dengan mengenal Allah, mengenal susunan tubuh dan fungsi-fungsi anggota, dan perincian penciptaan manusia.

Seperti pada bab pertama, pembahasan diawali dengan definisi dan pemahaman kimia baik dari manusia awam hingga pada raja-raja. Sedangkan kimia kebahagiaan itu adanya hanya pada perbendaharaan Allah SWT. yang mana artinya (Baca: kimia kebahagiaan) adalah bagaimana mengubah keadaan kita menjadi bahagia (mengenal Allah atau makrifatullah).

Gus Mus menyajikan catatan atau hasyiah yang mana Imam Ghazali, memberi makna kimiya’us sa’adah sebagai jalan yang harus ditempuh hanyalah hadhratun nubuwwah. Artinya, kita hanya dapat memperoleh pengertian mengubah keadaan kita menjadi bagian dari Nabi Muhammad SAW. Caranya dengan mengheningkan cipta, menghadapkan jiwa dan raga serta membayangkan (istihdhar) Rasulullah SAW. Ada banyak cara yang disampaikan oleh Imam Ghazali pada kitab ini.

Baca juga :  Kontribusi Santri dalam Membangun Negeri

Pada lain bab, dijelaskan bahwa kenikmatan dan bahagianya manusia itu dengan mengenal Allah. Adapun kenikmatan mata terletak pada pemandangan-pemandangan yang indah, kenikmatan telinga pada suara-suara merdu, sedangkan kenikmatan hati terutama ialah makrifatullah. Namun, tidak ada kenikmatan yang lebih besar daripada kenikmatan mengenal-Nya. Serta tidak ada pandangan yang lebih indah daripada pandangan kepada Hadirat-Nya.

Diri manusia adalah ikhtisar alam. Di dalamnya terdapat duplikat dari segala bentuk yang ada di alam ciptaan Allah. Karena tulang-tulang ini tak ubahnya gunung-gunung, daging ibarat tanah, rambut ibarat tumbuh-tumbuhan, kepala seumpama langit dan indra bagai bintang. Dari metafora-metafora di atas memberikan gambaran bahwa manusia itu ciptaan yang begitu indah nan mempesona.

Pada salah satu bagian bab, penulis menjelaskan tentang pengenalan diri melalui pemahaman dirimu sendiri. Terdapat ungakapan, “kalau kau ingin mengenal dirimu, maka ketahuilah bahwa kau terdiri dari dua hal: perta hati, kedua apa yang dinamakan jiwa dan ruh.” Dalam hasyiyah di bawahnya, kata hati di situ bukan bermakna secara tekstual, di mana yang berarti bagian dari dari organ tubuh (bukan  dalam pengertian anatomis maupun urusan perdagingan seperti dalam ungkapan “hati orang dewasa yang sehat beratnya sekitar 1500-2000 gr”. Sebab, hati dengan pengertian ini dalam bahasa Arab disebut “al-kabid” atau “al-kidbah”).

Lain halnya dengan kata “jiwa”, berarti hati yang kau kenal dengan mata hati dan merupakan hakikat yang dalam. Sebab jasad adalah permulaan dan dialah yang terakhir, sedang jiwa adalah akhir dan dialah yang pertama dan disebut  hati (jantung). Tapi jantung ini, bukanlah sepotong daging yang ada di rongga dada sebelah kiri itu. Sebab, kalau itu, pada binatang dan mayat pun ada.

Segala sesuatu yang kau lihat dengan mata lahir termasuk alam ini, alam yang disebut alam syahadah (dunia yang bisa dilihat/kasatmata). Sedang hakikat hati bukanlah dari alam syahadah ini, tetapi bagian alam ghaib.

Selain dipaparkan mengenai keindahan-keindahan penciptaan manusia, dalam tulisan ini dijelaskan pula terkait ketidakabadian kenikmatan di dunia. Perkara tersebut yang malah justru mudah melalaikan manusia di muka bumi. Padahal semua kemuliaan dan kenikmatan yang tidak tampak di dunia ini, di akhirat kelak ialah kebahagiaan yang tak mengenal duka, keabadian yang tak mengenal sirna, kemampuan yang tak mengenal kelemahan, pengetahuan tanpa kebodohan, dan keindahan dan keagungan yang tiada tara.

Tiada karya sesempurna Al-Qur’an. Tentu terdapat sisi kelebihan dan kekurangan dalam setiap karya yang dibuat manusia. Buku ini memiliki cover/sampul  berwarna hijau tua lekat yang menarik dipandang, isi buku yang tidak terlalu tebal sehingga memudahkan dibawa keman-mana. Selain itu, terdapat hasyiyah atau catatan di bagian bawah buku, hal ini memudahkan pembaca memahami maksud dari setiap bacaan. Dari segi isi menyoroti tentang kalbu dari lain sisi di luar fisik, melainkan dari sisi kekuatan abstrak yang justru akan mempengaruhi aspek-aspek lahiriah saja.

Adapun kekurangan dari buku ini yakni dari segi bahasa yang dinilai agak berat ketika dibaca oleh kalangan anak sekolah, karena lebih pantas dicerna oleh mahasiswa dan akademisi.

Oleh : Mafricha Azida

admin

Be-songo.or.id adalah website resmi Pondok Pesantren Darul Falah Be-songo Semarang yang mengkaji dan memberi informasi seputar khazanah dunia kepesantrenan, keislaman, pendidikan, dan sosial budaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: