Pascalib 2021: Santri dalam Menanggapi Bias Informasi di Masyarakat

Be-songo.or.idPerkembangan zaman yang telah mengantarkan kita pada era overload informasi ini membawa dampak yang sangat signifikan terhadap kondisi sosial kemasyarakatan. Kondisi demikian mengakibatkan kita harus serba hati-hati dalam menerima bias informasi yang beredar di masyarakat.

“Dan sebagai seorang santri kita harus bisa menjadi counter dalam menghadapi bias informasi itu,” kata Ririh Megah Safitri, saat menjadi pembicara dalam kegiatan Pasca Liburan (pascalib) Pondok Pesantren Darul Falah (Dafa) Besongo, Rabu (3/2/2021). Kegiatan tersebut bertempat di asrama B13.

Seminar Problem Solving yang bertemakan “Santri dalam Menanggapi Bias Informasi di Masyarakat” itu bertujuan untuk membekali santri agar tidak menjadi konsumen aktif informasi yang salah.

Dari segi pemanfaatannya kita bisa menjadikan media sosial sebagai pengguna sekaligus penikmat teknologi yang baik. Hal tersebut tidak lantas menjadikan kita berpangku tangan terhadap perkembangan teknologi dan menkonsumsi secara mentah berbagai informasi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kevalidannya.

Media sosial tidak hanya menawarkan social networking site (situs jejaring social) media sosial juga menawarkan kita untuk menjadi penyedia literasi digital. Media juga bisa membangun reputasi dalam memberitahukan eksistensinya di media dan masyarakat.

Kemajuan teknologi telah memanjakan kita dengan semua hal yang serba instan, informasi yang beredar di internet saat ini menjadi referensi utama dalam kehidupan. Diakui atau tidak itulah realitanya yang kita alami dan rasakan saat ini.

“Karena banyaknya pengguna media mengakibatkan overload informasi dan kurang kevalidan data yang tersebar di berbagai media. Oleh karena itu kita sebagai santri harus bisa mem back up bias informasi yang beredar di masyarakat,” jelas Ririh alumnus Universitas Gadjah Mada Jogja itu.

Ririh menuturkan, “Sebagai santri yang memiliki bekal spriritual dan intelektual, kalian semua bisa menjadi penyedia informasi sekaligus memilah mana informasi yang benar dan mana informasi yang salah dengan memanfaatkan berbagai referensi kitab dan para asatidz di pesantren.”

Baca juga :  Hari Kelima Pascalib: Healthy and Beauty Management

Dalam penyajian literasi digital kita bisa menjadi aktor dalam menyediakan referensi keagamaan dengan bekal spiritual dan intelektual kita juga bisa membuat wacana baru dengan berbagai narasi yang berbeda.

“Sebagai aktor dalam penyedia informasi kita harus bisa melakukan penyaluran media informasi itu dengan konsep yang menyesuaikan dengan audiens dan konteks lingkungan kita,” pungkasnya.

Reporter : Imam mawardi

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *