Pascalib 2021 : Santri sebagai Penengah dalam Fanatisme Beragama

Muhammad Makmun memaparkan materi seminar

Be-songo.or.id – Kegiatan Pascalib (Pasca Liburan) 2021 Pondok Pesantren Darul Falah Besongo Semarang terdiri dari beberapa rangkaian kegiatan, salah satunya ialah seminar perdamaian yang dilaksanakan pada Rabu, (3/2/2021). Kegiatan ini dilakukan dengan sistem yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, yaitu dengan memadukan dua sistem pembelajaran antara online dan offline atau biasa disebut dengan sistem blended learning.

Seluruh santri yang mengikuti seminar secara offline ditempatkan di asrama B9 dan bagi santri yang mengikuti kegiatan secara online dari kediaman masing-masing bisa mengikuti kegiatan melalui siaran langsung di youtube PP. Dafa Besongo  atau melalui Zoom Meeting.

Seminar perdamaian kali ini mangusung tema “Santri sebagai Penengah dalam Fanatisme Beragama” yang disampaikan oleh seorang narasumber bernama Muhammad Makmun yang merupakan salah satu asatidz di Ponpes Besongo sekaligus dosen di Fakultas Ushuluddin dan Humaniora di UIN Walisongo Semarang.

Telah kita ketahui bahwa di Indonesia terdapat berbagai agama yang berbeda, sehingga tak menutup kemungkinan akan terjadinya keberagaman dalam beragama. Sebuah perbedaan tidak hanya muncul pada agama yang berbeda, bahkan dalam satu agama yang sama pun kita sering sekali menemui perbedaan. Oleh karena itu, disinilah peran santri sangat dibutuhkan. Santri harus bisa menjadi penengah diantara perbedaan tersebut.

Dalam seminar tersebut, Muhammad Makmun menjelaskan bahwa peran santri sangat luar biasa karena harus bisa menjadi penengah dalam fanatisme beragama. Kefanatikan dalam beragama telah muncul beriringan dengan adanya agama Islam itu sendiri.

“Fanatisme Islam itu umurnya sudah setua agama Islam itu sendiri. Fanatisme muncul karena adanya perbedaan penafsiran. Fanatisme keagamaan bisa berujung pada munculnya tindakan kekerasan dan konflik yang berkepanjangan” Tutur Makmun

Baca juga :  Al Qur'an Bukan Kitab Teror?

Narasumber mengambil kutipan dari perkataan Ibnu Arabi, “Dulu aku mengingkari temanku jika agamaku dan agamanya tidak ada penyambungnya. Aku beragama dengan agama cinta, cinta itu agamaku dan imanku.”

Dalam hal beragama, kita harus menyertakan cinta di dalamnya. Kita bisa menengok pada sejarah para ulama-ulama terdahulu dalam menyebarkan Islam dengan semangat yang membara hingga mereka sukses menyebarkan Islam dengan baik, padahal rintangan yang mereka hadapi tidaklah mudah.

Cacian, hinaan, bahkan hingga penyerangan bertubi-tubi mendatangi para ulama. Namun mereka tetap teguh dengan pendirian mereka dan tetap melanjutkan penyebaran agama Islam. Mereka bisa meraih kesuksesan dalam penyebaran agama Islam yaitu karena menyebarkan Islam dengan cinta. “Agama adalah sistem kepercayaan, peribadatan dan nilai yang mengatur kehidupan agar tidak kacau.” Tutur Muhammad Makmun

Secara idealnya, agama menjunjung tinggi prinsip-prinsip universal seperti persaudaraan, keadilan dan toleransi. Namun pada faktanya, nilai-nilai agama belum diamalkan dan diterapkan dalam kehidupan masyarakat.

Pada akhir penyampaian materi, Muhammad Makmun menjelaskan bahwa santri harus ‘alim. al ulama waratsatul anbiya’ dan ulama itu memiliki sifat fatonah (cerdas), maka santri dituntut untuk memiliki kecerdasan. Kecerdasan itu dibagi menjadi tiga, yakni kecerdasan rasional (ulama), kecerdasan spiritual (‘Urafa’), kecerdasan dedikatif / pewaris para Nabi (waratsatul anbiya’).

Reporter : Syifaurrahmi Nurul Alfi

Editor : Azkiya Tsany

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Satu pemikiran di “Pascalib 2021 : Santri sebagai Penengah dalam Fanatisme Beragama”