Pentingnya Belajar Design Grafis Bagi Para Santri

Be-songo.or.idMempelajari desain grafis tidak mengharuskan seseorang memiliki jiwa seni yang sempurna. Sehingga semua orang bisa mempelajarinya dengan bebas mengekspresikan kreatifitas dalam bentuk gambar ataupun visual. Untuk itu, Pondok pesantren Darul Falah Besongo Semarang mengadakan kegiatan tahunan pasca liburan atau yang biasa disebut dengan pascalib. Seminar pascalib ini merupakan kegiatan opsional yang diikuti oleh seluruh santri pondok pesantren darul falah besongo baik yang offline maupun online. Pada hari ke-8 tepatnya pada hari Selasa (9/2/2021) dijadwalkan sebagai seminar pelatihan desain yang disampaikan oleh Diqqi Alvin Hasan salah seorang konten creator yang berkecimpung di platform instagram aisnujawatengah.

Menurutnya, “Desain grafis adalah sebuah proses komunikasi yang menggunakan elemen visual seperti tipografi, fotografi serta ilustrasi yang dimaksudkan untuk menciptakan persepsi akan suatu Pesan yang disampaikan. Jenis konten desain grafis itu bermacam-macam ada yang berupa teks gambar maupun video.”

Dalam kesempatan kali ini, para santri berkesempatan untuk berlatih menghasilkan sebuah konten yang berupa gambar menggunakan adobe photoshop. Beliau juga mengajarkan bagaimana caranya agar konten kita aman dari copyright atau persoalan mengenai hak cipta.  Seperti platform Instagram, yang pertama dengan cara menyarankan pihak ketiga untuk menghubungi pemilik akun terlebih dahulu melalui direct message atau kolom komentar atau melalui kontak lain yang tercantum didalam profil Instagram mereka sebelum menyematkan unggahannya ke situs web lain, apabila tidak meminta izin maka orang yang mencomot gambar milik pengguna Instagram untuk disematkan pada situs web lain dapat dikenai gugatan hak cipta. sejauh ini pengguna juga bisa mengamankan foto miliknya di Instagram dengan mengatur profilnya menjadi private bukan terbuka kepada public.

Yang kedua, Saring sebelum sharing maksudnya yaitu sebelum mengunggah suatu konten hendaklah disaring terlebih dahulu dengan mengecek sumbernya, cek tanggal pemuatannya,   cek kredibilitas penulis, narasumber, maupun referensi data, lalu cek berita atau informasi pembandingnya, apakah konten tersebut Memberikan manfaat atau menyulut sebuah permusuhan.

Baca juga :  Besongo: Azkiya Tsani Menangkan Voting Gantikan Andre Wijaya untuk Pimred Besongo 2020

Di Indonesia sendiri ada 2.645.368 santri yang terdiri dari 26.8973 pesantren. dari 10 santri adalah pengguna media sosial namun hanya 2 dari 8 santri adalah seorang content creator(berdasarkan sumber dari ditpdpontren), maka dari itu janganlah terlalu nyaman  untuk sekedar menjadi konsumen namun mulailah untuk menjadi produsen. Siapapun bisa membuat karya, apapun bisa menjadi karya, tuturnya.

Para santri sangat antusias mengikuti pelatihan desain ini terbukti pada saat sesi tanya jawab beberapa santri aktif bertanya mengenai materi yang disampaikan.

Ia merekomendasikan aplikasi untuk memudahkan dalam mengedit foto atau gambar melalui smartphone menggunakan aplikasi picsart, photogrid, dan lightroom. Untuk membuat sebuah pamflet, ia merekomendasikan menggunakan aplikasi postermaker maupun canva. Lalu untuk tone warnanya sendiri biasanya ia mencari referensi pallet warna di google atau sesuai imajinasi saja, untuk font dan komponen lainnya sebaiknya jangan terlalu ramai agar mudah dipadu padankan.

“Setiap desainer itu mempunyai kenyamanan sendiri, karakteristik tersendiri, dan memiliki cara sendiri untuk menghasilkan sebuah karya”, pungkas Alvin di akhir acara.

Reporter : Ulfa Khuriyannida

Editor : Azkiya Tsany

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *