Gus Dur, Pahlawan Umat Tionghoa

Ilustrasi oleh Azkiya Tsany

Be-songo.or.idKH. Abdurrahman Wahid atau biasa disapa Gus Dur adalah salah satu cucu dari guru besar Aswaja sekaligus pendiri organisasi Nahdlatul ‘Ulama, Hadratussyech KH. Hasyim Asy’ari dan anak dari KH. Wahid Hasyim dan Nyai Hj. Sholichah Bisri.

Seperti anak kyai pada umumnya, beliau merupakan salah seorang yang memiliki sifat kesederhanaan dalam kehidupannya. Sifat tersebut didapatkannya sejak kecil; hidup di lingkungan pesantren yang notabenenya penuh ke-tradisionalan. Di sisi lain, beliau juga pemikir kritis, dengan keluasan ilmunya, membuat siapapun yang mendengar dawuhnya akan diam tertegun. Tapi, tidak sedikit pula orang yang tidak setuju dengan pemikiran serta tindakannya karena penuh kontroversi, yang akhirnya menuai kritikan-kritikan dari publik.

Dilihat dari beberapa karyanya dan pengabdiannya sebagai Presiden RI ke-4 yang masih terus membekas di benak kita, dengan ciri khasnya, beliau sangat mementingkan kaum minoritas dan sangat memperjuangkan hak-hak yang mesti didapatkan setiap manusia pribumi. Beliau beranggapan, bahwa kemanusiaan adalah di atas segalanya. Bahkan menjadi sebuah kewajiban bagi dirinya untuk merangkul semua rakyatnya.

Mengutip dari Kompas.com, Gus Dur membuat perubahan pada bangsa ini, melalui keputusan Presiden (Keppres) Nomor 6 Tahun 2000, beliau berhasil menyelesaikan permasalahan diskriminasi pada etnis Tionghoa, memberi kebebasan kepada mereka untuk merayakan Imlek secara terbuka dan menetapkan hari raya tersebut sebagai hari libur nasional.

Menurut Gus Dur, semua orang yang hidup di Indonesia, termasuk umat Tionghoa, harus mempunyai kebebasannya dalam beragama. Mereka harus mendapatkan hak prerogatifnya sebagai umat beragama yang berdiri di tanah air, dan harus diperlakukan secara adil seperti manusia agamis lainnya.

Dalam artian, beliau sangat menghormati dan menjunjung tinggi suatu keberagaman yang dianut rakyatnya selama mereka mau melaksanakan dan mentaati semua peraturan di negeri ini. Karena keputusan Gus Dur inilah beliau diberi gelar sebagai bapak Tionghoa Indonesia oleh masyarakat etnis tionghoa. “Kita sangat bersyukur karena di zaman itu kita benar benar merasakan keberpihakan Gus Dur kepada kita yang sebagian orang menganggap kita sebagai minoritas. Kalau saja tidak ada Gusdur, jelas saja tidak akan ada perayaan imlek” ujar Romo sutanta menurut liputan kompas.com.

Baca juga :  Ulil Amri dan Hasthabrata: Konsep Kepemimpinan ala Islam dan Jawa

Sikap Gus dur yang menghormati antar etnis ini, perlu dicontoh oleh seluruh masyarakat. Apalagi di Indonesia yang merupakan negara dengan kemajemukan masyarakatnya sangat tinggi. Kesadaran akan kebebasan memeluk agama dan anti rasisme penting sekali ditanamkan. Sehingga perdamaian dapat tercipta tanpa ada yang merasa terdiskriminasi.

Ketika Gus Dur telah menjalankan semua tugasnya, Tuhan memanggilnya, menyuruhnya pulang dan beristirahat dipangkuanNya. Berpulangnya Gus Dur keharibaanNya pun membuat semua orang yang mencintainya berbondong-bondong datang untuk melayatnya, memberikan penghormatan terakhir kepadanya. Karena, mereka beranggapan bahwa beliau merupakan sosok yang tiada gantinya, mengerahkan seluruh tenaga dan pikirannya untuk memperjuangkan keadilan yang memudar, dan memberikan perubahan untuk kemakmuran bangsa.

Dinarasikan oleh : Ardan Nauval S

Editor : Azkiya Tsany B

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *