Pesan Masyayikh dalam Peringatan Harlah NU ke-98 dan Haul Muassis Nahdlatul Ulama

Be-songo.or.idPengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Tengah mengadakan acara Peringatan Harlah Nahdlatul Ulama ke-98 dan Haul Muassis NU pada Ahad, (21/02/2021). Acara ini bertempat di Kantor PWNU Jawa Tengah, Jl. Dr. Cipto No.180, Semarang.

Acara ini diikuti oleh ratusan warga Nahdliyyin dari berbagai daerah dan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Baik yang mengikuti secara langsung maupun secara online via zoom. Acara dimulai sejak pukul 19:30 WIB. Tampak hadir para masyayikh, pengurus PWNU Jawa Tengah baik Syuriah maupun Tanfidziyah. Diantaranya, KH. Zaim Ahmad, KH. Hadlor Ikhsan, KH. Muzammil, , juga K.H. Imam Taufiq, Pengasuh Ponpes Besongo sekaligus wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah.

Ketua Umum PBNU, KH. Said Aqil Siradj dalam mauidzohnya berpesan kepada umat Islam terkhusus warga Nahdliyyin melalui aplikasi zoom. Beliau berpesan agar memperkuat konsolidasi dan merapatkan barisan. Karena menurut beliau di era revolusi 4.0 untuk merapatkan barisan dan bersatu masih sangat sulit. Maka harus membangun kebersamaan yang baik, menjalin interaksi yang baik, dan menciptakan kerjasama yang baik.

“Menghadapi medsos, hoax, fitnah, adu domba, namimah sangat luar biasa. Tantangan akhlak, rusaknya akhlak, degradasi akhlak, yang sudah masuk dalam generasi NU saat ini sangat luar biasa. Oleh karena itu sesuai dengan sabda nabi bahwa nabi diutus untuk membangun Akhlakul Karimah. Akhlakul Karimah adalah husnul muamalah, husnul mu’asyaroh dan husnul musyarokah”  terang ketua tanfidziyah PBNU tersebut.

Sambutan acara oleh K.H. Ubaidulloh Shodaqoh (Rais Syuriyah PWNU Jawa tengah) menambah kekhasan NU dalam forum tersebut. KH Ubaidillah juga memimpin istighosah dan doa bersama. Puncak acara diisi dengan mauidzoh hasanah oleh Habib Umar Al Muthohar. Kemudian di akhiri dengan doa oleh Habib Umar Al Muthohar.

Baca juga :  Sadar Tata Tertib: Pengurus RT Berikan Pembinaan Kepada Warga

Dalam acara yang bertajuk ‘Menyebarkan Aswaja dan meneguhkan komitmen kebangsaan’ ini Habib Umar dalam mauidzohnya menyampaikan wajib ikhtiar bagi setiap orang. Namun tetap berkeyakinan bahwa hasilnya merupakan pemberian dari Allah SWT. Beliau mengumpamakan kisah Siti Hajar dan nabi Ismail.

“Siti Hajar yang berusaha sebegitu kerasnya untuk mencari air dengan berlalu lalang antar bukit namun tidak membuahkan hasil. Tetapi Nabi Ismail yang hanya berbaring saja kemudian tiba-tiba muncullah air yang dicari tersebut ke permukaan tepat di bawah telapak kaki nabi Ismail” jelas habib Umar Muthohar.

Mauidzoh hasanah serta doa penutup dari Habib Umar Muthohar sekaligus menjadi penutup acara tersebut.

Ditulis oleh : M. RIfky Priatna

Editor : Azkiya Tsany

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: