Pembukaan Akhirussanah 2021 dan Peringatan Isra’ Miraj : Refleksi Santri untuk Meneguhkan Sholat Lima Waktu

KH Mukhyar Fanani sedang menyampaikan Mauizhoh hasanah pada peringatan Isra Miraj (dok. huminfo)

Be-songo.or.idPondok Pesantren Darul Falah Besongo Semarang mengadakan kegiatan peringatan Isra’ Mi’raj 1442 H pada Sabtu(13/3/2021). Peringatan Isra’ Mi’raj tahun ini memang sedikit berbeda dengan tahun sebelumnya. Sebab, diadakan dimasa pandemi covid 19. Dengan menggunakan sistem blended learning peringatan Isra’ Mi’raj  diadakan di asrama B9 dan diikuti oleh seluruh santri yang memilih belajar secara offline. Meskipun dengan suasana memakai masker dan menerapkan protokol kesehatan, kegiatan yang dimulai pukul 20.00 WIB ini tetap berjalan lancar dan disambut baik oleh warga pondok pesantren.

Seperti halnya pelaksanaan kegiatan Isra’ mi’raj, acara dibuka dengan pembacaan maulid dziba yang dibawakan dengan iringan rebana dari grup rebana El falah putri.  Kegiatan perigatan Isra’ Mi’raj kali ini mengangkat tema “Meneladani sirah , membangun peradaban”. Ulis syifa, selaku ketua panitia acara berterima kasih kepada semua elemen yang ikut membantu berjalanya kegiatan tersebut. Dalam sambutanya, Ulis memberi pesan kepada para santri semoga acara ini menambah semangat santri untuk lebih mencintai nabi Muhammad saw dan mampu meneladani perilaku beliau.

Selain kegiatan peringatan Isra’ Mi’raj, kegiatan malam hari tersebut juga diintegrasikan dengan pembukaan kegiatan Akhirussanah pondok pesantren Darul Falah Besongo Semarang. Rencananya, kegiatan Akhirussanah ini akan diramaikan dengan berbagai macam lomba santri dan kegiatan menarik lainnya. Ditandai dengan pemotongan pita,  Abah KH Imam Taufiq sendiri yang membuka kegiatan akhirussanah tersebut.

Acara peringatan Isra Mi’raj ini, diisi dengan penampilan pidato santriwan dan santriwati. Diantaranya adalah pidato bahasa arab yang dibawakan oleh Eef Syaifullah, pidato bahasa Indonesia yang dibawakan oleh Athoillah Hikam, pidato bahasa inggris yang dibawakan oleh Resti Farikha, dan pidato bahasa ngapak yang dibawakan oleh Alif Ramadhan. Keempat santri tersebut, menarasikan materi dengan sangat baik dan kompeten.  Mereka berhasil menarik perhatian para santri dan menghibur, sehingga pidato yang mereka bawakan tidak terkesan membosankan.

Alif Ramadhan, salah satu santri yang menampilkan pidato bahasa ngapak

Sebagai segmen akhir dari kegiatan peringatan Isra’ Mi’raj kali ini, mauidzoh hasanah dari Abah KH Mukhyar Fanani membuat kegiatan tersebut semakin mempunyai nilai kharismatik. Beliau menuturkan bahwa Isra’ Miraj bukan hanya soal perjalanan ruhani atau jasmani saja. Abah KH Mukhyar menjelaskan keterangan dalam kitab yang ditulis oleh doktor Ali Muhammad Ash Shallabi, bahwa Isra’ Mi’raj nabi Muhammad tidak perlu lagi diperdebatkan soal fisik atau ruhaninya saja. Karena jika hanya ruhnya saja, maka tidak akan ditentang oleh kafir Quraisy.

Perjalanan Isra’ dan Mi’raj nabi Muhammad saw tidak hanya berwujud jasad atau ruh nya saja. Namun kedua duanya ikut naik kelangit. Lebih dari itu, Isra’ Mi’raj merupakan perjalanan antar dimensi. Dimensi manusia dan dimensi ketuhanan. 

Abah Mukhyar menganalogikakan hal tersebut dengan seekor semut yang ikut numpang manusia pergi haji. “Bayangkan seekor semut yang ikut manusia pergi haji, kaum semut pasti juga tidak percaya kalau semut tersebut sudah mengelilingi kota mekkah. Soalnya mereka melihat dari dimensi semut. Bukan dimensi manusia. Hal itulah juga yang membuat kafir Quraisy sulit percaya pada nabi Muhammad saw. Sebab mereka melihat dari dimensi manusia. Bukan dimensi rabbani atau ketuhanan” jelas Abah Mukhyar.

Baca juga :  PASCALIB #1 : Pembukaan Pascalib; Pengasuh Ajak Santri Kembali Tumbuhkan Semangat Bertholabul Ilmi

Dalam Mauidzoh tersebut, KH Mukyar Fanani juga menceritakan peristiwa ditetapkanya sholat lima waktu. Diriwayatkan bahwa nabi Musa AS merupakan orang yang mempunya daya kritis tinggi, sehingga ketika mendengar nabi Muhammad diperintah untuk melakukan sholat 50 waktu, Nabi Musa AS meminta nabi Muhammad SAW untuk meminta keringanan pada Allah. Sehingga Allah meringankan menjadi lima waktu saja. Sebagai penutup nasihat nasihatnya, KH Mukhyar mengambil pesan yang dapat diambil dari peristiwa Isra’ Mi’raj. “Santri harus memiliki sifat keberanian meneguhkan kebenaran, critical thinking yang tinggi, serta ketulusan hati dalam melakukan hal apapun” tutur KH Mukhyar.

Diakhir Mauidzoh, Abah Mukhyar membacakan doa sekaligus menjadi penutup kegiatan peringatan Isra’ Mi’raj dan pembukaan kegiatan Akhirussanah 2021 pada malam hari tersebut.

Reporter : Azkiya Tsany Baharsyah

Editor : Ati Auliyaur R

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: