Jaga Gawang Semarang Adakan Tarawih Keliling, Bu Nyai Arikhah Beri Mauidhoh Hasanah

Besongo.or.id Komunitas Jama’ah Gabungan Garwo dan Wanita (Jaga Gawang) Semarang adakan Tarawih Keliling (Tarling) keempat pada Rabu, (28/4/2021), yang bertepatan dengan 17 Ramadhan 1442 H atau malam Nuzulul Qur’an.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh istri Wali Kota Semarang, Krisseptiana Hendrar dan Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti beserta para bu nyai Kota Semarang. Kegiatan tarawih keliling ini juga diselingi mauidhoh dari Bu nyai Hj Arikhah yang merupakan pengasuh Pondok Pesantren Darul Falah Besongo.

Kegiatan yang diadakan di Balai kota lantai 8 ini, Memaknai Ramadhan dan Nuzulul Qur’an dengan tetap menjaga protokol kesehatan dan menjadikan pribadi lebih baik. Pasalnya nuansa pandemi masih dirasakan bagi semua kalangan. Adanya penetapan Surat Edaran Nomor 13 Tahun 2021 tentang larangan mudik menjadi perhatian bahwa pandemi masih ada di sekitar kita.

“Pandemi seharusnya menjadikan kita pribadi yang lebih baik, produktif berwirausaha serta naik kelas dari amal, ibadah maupun kinerja kita,” pesan Hendrar melalui istinya, Krisseptiana.

Mengingat Nuzulul Qur’an merupakan momen yang tepat untuk mengambil hikmah dari kehidupan, layaknya pandemi saat ini yang bisa dijadikan sebagai pengingat diri untuk terus belajar. Belajar dengan mengakselerasi akal dengan keilmuan dan teknologi.

“Pasalnya di era 4.0 keseimbangan tersebut masih belepotan, sehingga adanya pandemi ini melatih untuk belajar  dan bagaimana memanfaatkan waktu dan teknologi sebaik baiknya” tutur Bu Nyai Hj Arikhah.

Beliau kemudian menjelaskan proses memanfaatkan waktu juga sudah dijelaskan dalam Al Quran Surah Al Asr mengenai waktu.

Bulan Ramadhan merupakan bulan diturunkannya Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia. Dalam Surah Al Baqarah 185 juga dijelaskan,

شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٍ مِّنَ ٱلْهُدَىٰ وَٱلْفُرْقَانِ

Artinya : “Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). “

Baca juga :  Musyawarah Kubro Haflah Akhirussanah XXXI Ponpes Durotu Aswaja: Fiqih Menyikapi Pemindahan Embrio

“Petunjuk tidak hanya sebatas dibaca-baca saja, tapi harus dipraktekkan. Seperti halnya Al Qur’an, meskipun membacanya sudah ibadah namun lebih baik diamalkan dalam kehidupan sehari hari,” tegas  wanita yang akrab disapa Umi Arikhah ini..

Al Qur’an sebagai petunjuk juga menjunjung martabat manusia, tak terkecuali perempuan. Sebelum islam datang, perempuan direndahkan bahkan dianggap seperti hewan. Namun Islam datang dan menjunjung maratabat semua wanita. Sehingga perempuan dan laki-laki harus  berjalan beriringan sesuai dengan kadar dan kelebihannya masing-masing.

“Martabat manusia dilihat dari kemuliaan akhlaknya, membangun satu budaya yang bermartabat. Hari ini kita harus bersyukur adanya Islam dan peran Rasulullah, termasuk ajaran yang terkandung dalam Al Qur’an,” tutur Pengasuh Besongo tersebut.

Al Qur’an sebagai petunjuk yang harus dibumikan syariatnya. Islam sebagai agama rahmatan lilalamin menjunjung tinggi martabat dan kedamaian. “Syariat dibuat bukan untuk Allah, tapi untuk manusia dan semua alam semesta”.

Umi Arikhah menambahi, mengutip dari Quraish Shihab, bahwa di dalam Alquran antara ayat sosial dengan ayat ibadah memiliki perbandingan 1:100. Artinya, syariat yang diturunkan oleh Allah Swt adalah untuk menciptakan kehidupan yang damai. Bagaimana manusia antar manusia berhubungan satu sama lain bisa hidup dengan aman dan tentram.

“Mari membumikan syariat, karena pada dasarnya syariat dibuat bukan untuk Allah tapi untuk mengatur manusia dan alam agar dicapai kehidupan yang bermartabat dan damai.” Tutup Bu Nyai  Hj. Arikhah.

Reporter: Ati Auliyaur Rohmah

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *