Menuju Format Kekinian di Era Virtual, Bagaimana Respon Pesantren?

iqra.id

Pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan agama yang lahir para calon cendekiawan Muslim, mereka juga memiliki mandat untuk melaksanakan misi pendidikan berdasarkan Pasal 1 (1) UU No. 20 tahun 2003 yaitu mengembangkan potensi siswa untuk  memiliki kekuatan spiritual yang religius, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, karakter mulia dan keahlian yang dibutuhkanya, masyarakat,bangsa dan negara.

Era revolusi industri 4.0 (selanjutnya: Era 4.0) memiliki dampak penting. Ini mempengaruhi semua aspek kehidupan manusia. Termasuk dalam hal ini adalah pendidikan. Era ini ditandai dengan peran sentral semakin canggih teknologi dalam kehidupan manusia. Jadi jangan terkejut jika dalam dunia pendidikan terdapat istilah  ‘Pendidikan 4.0’ yang muncul. Ketersediaan beragam informasi yang lahir dari revolusi digital membuat 4.0 semua orang dapat mengakses pengetahuan tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu, oleh karena itu kurikulum pesantren terus didorong untuk menjadi kontekstual sesuai kebutuhan. Lantas bagaimana respon pesantren menuju format kekinian dan tantangan di era virtual?

Menuju Format Kekinian: Redesign, Kolaborasi, Integrasi Teknologi dan Sains dalam Pendidikan Islam (Pesantren)

Gerakan kesadaran yang mempertemukan dan mengkolaborasikan teknologi kedalam pendidikan Islam merupakan “cara cerdas” dalam menyampaikan segala pesan moral agama. Trend keilmuan saintifik modern memberikan arah agar upaya dan ijtihad yang dilakukan dalam Islam lebih mudah menyentuh secara real. Meskipun disadari tidak semua hal mampu dipaksakan dalam proses merasionalkan normatifitas agama.

Arkoun sendiri menyadari bahwa pemikiran Islam “modern” acapkali masih dilarang untuk mengajukan penyelidikan-penyelidikan krusial terhadap al-Qur’an dan Sunnah yang dilestarikan hingga saat ini (M.Arkoun, 2000: 303). Jika tradisi Islam demikian terpelihara, maka harapan terhadap pendidikan Islam yang dapat menyapa keilmuan modern tentu akan sulit terwujud. Padahal tantangan dan kebutuhan era saat ini semakin mendesak sehingga memerlukan formulasi tawaran yang lebih fresh, bukan lagi masih “memaksakan” pada corak pemikiran yang lama.

Dalam praktiknya diakui betul oleh Azra, bahwa memang jujur harus  kita akui, pendidikan Islam hingga saat ini kelihatan sering terlambat merumuskan diri meresponi perubahan dan kecenderungan perkembangan masyarakat kita sekarang dan masa datang. Sistem pendidikan Islam kebanyakannya masih lebih cenderung mengorientasikan diri pada bidang humaniora dan ilmu-ilmu sosial ketimbang ilmu eksakta semacam fisika, kimia, biologi dan matematika modern. Padahal keempat ilmu ini dan pengembangan teknologi yang canggih mutlak diperlukan. Ilmu eksakta ini belum mendapat apresiasi dan tempat yang sepatutnya dalam sistem pendidikan Islam (Azyumardi Azra, 2012:66).

Terkait dengan pendidikan Islam dan penetrasi gelombang teknologi ini, setidaknya ada tiga hal point utama dalam diskusi ini. Pertama, Islam sebagai world view merupakan landasan berpikir yang memiliki areaka jiannya tersendiri, yang memiliki sumber mutlak yaitu wahyu berupa Alquran dan Sunnah. Kedua, Kebutuhan-kebutuhan kecakapan hidup manusia (humanneed). Ketiga, teknologi sebagai bagian dari ekspansi zaman yang sudah berada disekililing masyarakat.

Pendidikan Pesanten Di Era Virtual

Dunia pendidikan termasuk didalamnya pesantren pasca hadirnya fenomena inovasi disrupsi diprediksi akan masuk pada era digitalisasi sistem pendidikan, Kegiatan belajar-mengajar akan berubah total. Ruang kelas mengalami evolusi dengan pola pembelajaran digital yang memberikan      pengalaman pembelajaran yang lebih kreatif, partisipatif, beragam, dan menyeluruh. Keberadaan teknologi informasi telah menghapus batas-batas geografi yang memicu munculnya cara-cara baru untuk menghasilkan inovasi- inovasi baru. perkembangan dalam teknologi digital dengan artificial intelligence (AI) yang mengubah data  menjadi informasi, membuat orang dengan mudah dan murah memperolehnya. Sekarang sudah bisa kita lihat banyak guru ketika mengajar sudah memberikan tugas berbasis online yang mana pencarian informasinya bukan terpaku pada buku cetak saja. Ini terlihat perpustakaan pesantren dan sekolah sudah memakai teknologi baik berupa e-book maupun online internet.

Baca juga :  FOMO, Fear of Missing Out

Upaya membuka ruang dialog dengan perubahan zaman dengan mengadopsi nilai-nilai baru yang lebih relevan dan membawa maslahat juga lebihsempurna dalam menjaga eksistensi pesantren selaras dengan kaedah fiqhiyah, “Menjaga teguh dan melestarikan nilai-nilai lama yang masih relevan dan mengambil nilai-nilai baru yang jauh lebih relevan”.

Menurut Solichin (2011) ada dua alasan pokok yang melatar belakangi pentingnya dilakukan modernisasi pendidikan Islam, yaitu: pertama, konsep dan praktik pendidikan Islam selama ini terlalu sempit, terlalu menekankan pada kepentingan akhirat, yang melahirkan dikotomi keilmuan yang telah diwariskan ummat Islam sejak masa kemunduran Islam (abad kedua belas). Kedua, lembaga-lembaga pendidikan Islam sampai saat ini, belum atau kurang mampu memenuhi kebutuhan umat Islam, dalam menghadapi tantangan dunia modern dan tantangan masyarakat dan bangsa Indonesia disegala bidang.

Oleh karena itu, untuk menghadapi dan menuju masyarakat madani diperlukan konsep pendidikan Islam serta peran sertanya secara mendasar dalam memberdayakan umat Islam. Dalam perspektif ini, lembaga pendidikan Islam diharapkan sanggup membenahi diri, sehingga ia tidak hanya mampu menjadi media transmisi budaya, ilmu dan keahlian, tapi juga sebagai interaksi potensi dan budaya, yaitu bagaimana lembaga-lembaga pendidikan Islam mampu menumbuh- kembangkan potensi anak yang diberikan Allah sejak lahir dalam konteks mempersiapkan anak didik untuk menjalani kehidupannya.

Pesantren tidak bisa lagi bersikukuh mengunakan cara-cara lama seperti ceramah sebagai satu-satunya teknik dominan dalam menyampaikan materi dakwah dan pembelajaran, bukan saja karena jangkauan segmen pendengarnya yang terbatas ruang dan waktu tetapi juga terkait fleksibilitas akses terhadap materi dakwah.

Media dakwah dan pendidikan yang berbasis teknologi mutlak diperlukan. Karena realitas masyarakat millennial telah dapat mengakses ceramah, tausiyah dan materi dakwah secara mudah di mana pun dan kapan pun mereka menginginkannya maka secara perlahan media sosial telah banyak memberi pengaruh pemahaman agama terutama anak muda ‘zaman now’.

Kondisi ini perlu menjadi perhatian pesantren dalam mengimbangi literatur keislaman yang tersebar melalui media sosial (medsos) terutama pesan-pesan yang mengandung bias-bias ideologi konservatif yang intoleran, liberal dan radikal dengan memproduksi literatur keislaman yang moderat, humanis dan toleran berbantukan teknologi. Upaya yang dapat dikembangkan pesantren saat ini diantaranya membangun literasi digital, membuat kanal kajian keislaman, memberikan pembelajaran yang fleksibel dan tujuan lebih besar.

Penulis            : Cindy Nurlaela

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: